Kanal24, Malang – Kerukunan tidak tumbuh hanya dari slogan, tetapi perlu dirawat melalui pertemuan dan komunikasi antarmasyarakat. Di tengah keberagaman latar belakang, ruang berkumpul menjadi kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pandangan, dan menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis.
Semangat tersebut hadir dalam kegiatan “Jagongan Pawon: Ngaji Urip, Ngraketake Paseduluran” yang diselenggarakan Kampung Cempluk pada Selasa (20/10/2026), di Areal Pawon Lawasan RT 07, Kampung Cempluk, Kabupaten Malang. Menjadi bagian dari rangkaian Festival Kampung Cempluk, kegiatan ini menghadirkan tokoh masyarakat dan perwakilan berbagai komunitas untuk mempererat persaudaraan. Gus Baihaqi hadir sebagai tamu undangan dan menyoroti pentingnya menjaga kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:
Festival Kampung Budaya 4 Satukan Warga dan Mahasiswa di Ketawanggede
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Kampung
Gus Baihaqi mengaku baru pertama kali menghadiri kegiatan tersebut setelah beberapa kali memiliki keinginan untuk datang. Ia terkesan dengan suasana Kampung Cempluk yang mengingatkannya pada kehidupan masyarakat masa lalu.
Menurutnya, gotong royong dan kerukunan warga menjadi nilai penting yang ditampilkan melalui festival. Kearifan lokal tidak hanya tercermin dalam makanan tradisional, tetapi juga melalui tata krama sosial, kebiasaan berkumpul, serta aktivitas seni dan budaya masyarakat.

“Saya senang sejak masuk pintu depan tadi saya seperti naik mesin waktu pergi ke masa silam,” ungkapnya.
Ia memandang kampung sebagai gambaran kecil Indonesia yang menyimpan keberagaman sekaligus semangat kebersamaan. Nilai tersebut perlu terus dijaga agar masyarakat tidak melupakan identitas dan kebudayaan bangsa.
“Kampung itu Indonesia kecil yang harus terus diingatkan sebagai pengingat bahwa dalam keadaan apapun orang Indonesia itu dalam perasaan apapun harus tetap bahagia menjadi orang Indonesia,” ujarnya.
Jagongan Pawon Pertemukan Beragam Komunitas
Kegiatan Jagongan Pawon turut dihadiri perwakilan berbagai kelompok masyarakat. Gus Baihaqi menyebut sejumlah pihak yang hadir, di antaranya perwakilan Peradi, masyarakat Tionghoa, masyarakat Madura, Malang Peduli Demokrasi, serta tokoh lingkungan.
Menurutnya, pertemuan lintas komunitas memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk membangun komunikasi dan menjaga kedekatan. Berkumpul tidak harus berhenti pada aktivitas santai, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk bertukar pikiran mengenai kehidupan bersama.
“Tidak sekedar ngopi, tapi bisa bicara banyak bahwa, sabar-sabar, kerukunan itu mahal,” katanya.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya komunikasi dalam merawat hubungan sosial. Perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang apabila masyarakat bersedia saling mengenal dan menghargai.
Pertemuan semacam ini juga menunjukkan bahwa kerukunan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Hubungan yang baik perlu dipelihara secara berkelanjutan, bukan hanya ketika muncul persoalan di tengah masyarakat.
Menjaga Kerukunan dari Lingkungan Terdekat
Gus Baihaqi mengingatkan bahwa kerukunan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai tersebut bahkan tercermin dalam istilah Rukun Tetangga dan Rukun Warga yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Karena kerukunan itu kata sifat yang menjadi tempat di Indonesia; Rukun Tetangga, Rukun Warga. Kalau tidak rukun, biayanya jadi lebih mahal,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab bersama. Ketika hubungan sosial tidak terpelihara, perbedaan berpotensi memunculkan persoalan yang lebih sulit diselesaikan.
Melalui Jagongan Pawon, Kampung Cempluk menghadirkan ruang pertemuan yang menghubungkan tradisi lokal dengan kehidupan sosial masyarakat. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persaudaraan dapat dirawat melalui kebiasaan sederhana, mulai dari berkumpul dan berdialog hingga membangun kepedulian terhadap sesama. (ndr)













