Kanal24, Malang – Limbah organik masih menjadi tantangan dalam pengelolaan sampah, padahal sisa makanan dan bahan organik lainnya berpotensi diolah menjadi produk yang bermanfaat. Pemanfaatan teknologi yang tepat dapat membantu mengurangi limbah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Salah satu inovasi yang dikembangkan untuk mendukung upaya tersebut adalah pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular.
Upaya itu dikembangkan Universitas Brawijaya (UB) melalui program SEMANGAT atau Sentra Edukasi Maggot Berbasis Masyarakat. Program ini dibahas oleh Dr. Dodyk Pranowo, S.TP., M.Si., Ketua Center of Excellence for Community-Based Sustainable Agroindustry (COE CBSA), bersama Prof. Sri Suhartini, S.TP., M.Env.Mgt., PhD, pakar biokonversi limbah organik dan bioenergi, dalam Program Podcast Lokal. Melalui SEMANGAT, UB mendorong penerapan teknologi maggot agar dapat dimanfaatkan masyarakat, mulai dari pengolahan limbah hingga pemanfaatan produk turunannya.
Baca juga:
Tujuh Ilmuwan UB Masuk Daftar Peneliti Terbaik Dunia 2026
SEMANGAT Dorong Hilirisasi Riset Universitas Brawijaya
Dr. Dodyk Pranowo menjelaskan, SEMANGAT berawal dari program Insintech yang mendorong dosen dan peneliti perguruan tinggi menyosialisasikan serta menghilirisasi hasil penelitian agar dapat diterapkan di tengah masyarakat. Program tersebut menjadi sarana untuk memperluas pemanfaatan teknologi yang telah dikembangkan di lingkungan kampus.
COE CBSA menjadi satu-satunya Center of Excellence di Universitas Brawijaya yang memperoleh pendanaan melalui program tersebut untuk kegiatan sosialisasi dan hilirisasi teknologi. Tim kemudian mengembangkan SEMANGAT dengan fokus pada edukasi dan penerapan pengolahan limbah organik menggunakan maggot.
Menurut Dodyk, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga kemampuan menghubungkan pihak penghasil limbah dengan pengguna hasil pengolahan. Karena itu, SEMANGAT mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, kelurahan, mahasiswa, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan peternak.
Kolaborasi tersebut diharapkan membentuk rantai pemanfaatan yang saling terhubung, sehingga pengolahan limbah tidak berhenti pada pengurangan sampah, tetapi berlanjut menjadi kegiatan produktif.
Maggot Olah Limbah Menjadi Beragam Produk
Prof. Sri Suhartini menerangkan, maggot merupakan larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengolah berbagai jenis limbah organik. Dalam kondisi budidaya yang sesuai, proses pertumbuhan dan pengolahannya berlangsung sekitar 14–18 hari. Waktu tersebut relatif lebih singkat dibandingkan pengomposan konvensional yang dapat membutuhkan enam hingga delapan minggu.
Maggot segar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ayam. Selain itu, maggot dapat dikeringkan atau diolah menjadi tepung untuk bahan pakan. Minyak maggot juga berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan biodiesel, sedangkan sisa pengolahannya yang disebut kasgot dapat digunakan sebagai bahan tambahan media tanam.
Tim peneliti UB turut mengembangkan konsorsium bakteri dari sistem pencernaan maggot yang berpotensi membantu menguraikan bahan organik. Konsorsium tersebut dikembangkan menjadi dekomposer bernama Serma.
Penerapan teknologi ini juga pernah dilakukan bersama industri di Probolinggo pada 2023 melalui program Matching Fund. Bahan yang digunakan berupa jeroan ikan dari industri pengalengan yang dikombinasikan dengan limbah makanan restoran dan warung. Dalam praktik tersebut, maggot dapat dipanen sekitar sembilan hari pada kondisi lingkungan yang panas.
Meski demikian, Prof. Sri menegaskan bahwa tidak semua sampah dapat diolah menggunakan maggot. Teknologi ini ditujukan untuk limbah organik, seperti sisa makanan, sayuran, dan bahan organik tertentu dari kegiatan peternakan maupun industri pangan.
Kolaborasi Masyarakat Perkuat Ekonomi Sirkular
Selain teknologi, konsistensi budidaya menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Maggot harus diberi pakan setiap hari dengan takaran yang sesuai, sementara kelembapan perlu dijaga agar pertumbuhannya optimal. Karena itu, tim SEMANGAT mendorong sekolah lapang dan kompetisi inovasi untuk meningkatkan pemahaman serta keterlibatan masyarakat.
UB juga menargetkan pengembangan model percontohan bersama perwakilan SPPG di Kota Malang. Dalam model tersebut, limbah organik diolah menjadi maggot untuk pakan ikan dan ayam, sementara kasgot dimanfaatkan untuk tanaman. Pola ini menggambarkan ekonomi sirkular, ketika sisa dari satu proses dapat menjadi sumber daya bagi proses lainnya.
Tim SEMANGAT merencanakan kegiatan gebyar sekitar November atau Desember 2026 untuk memperkenalkan teknologi budidaya, pengolahan, dan pemanfaatan hasil maggot. Kegiatan tersebut direncanakan melibatkan pemerintah daerah, perusahaan, dan SPPG serta terbuka bagi masyarakat.
Melalui program ini, UB berharap teknologi maggot dapat dipelajari dan diterapkan sesuai kebutuhan di berbagai daerah. Prof. Sri juga mengajak masyarakat mulai memilah sampah dan mengolah limbah organik dari lingkungan terdekat. Langkah tersebut diharapkan membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan pemanfaatan limbah secara berkelanjutan.(ffn)














