Kanal24, Malang – Kesiapan memasuki dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga kemampuan beradaptasi, penguasaan teknologi, dan pemahaman terhadap kebutuhan industri. Mahasiswa perlu membekali diri dengan keterampilan yang relevan agar mampu menghadapi dinamika dunia profesional setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Upaya memperkuat kesiapan tersebut menjadi salah satu fokus kegiatan PGN LNG Mengajar 2026 yang menghadirkan PT PGN LNG Indonesia di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya (UB), Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai industri gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG), peran gas dalam transisi energi, serta kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja.
Baca Juga:
Akademisi Hukum Islam Tegaskan Korban Kekerasan Seksual Tak Boleh Disalahkan
Mengenalkan Peran LNG dalam Transisi Energi
Direktur Komersial PT PGN LNG Indonesia, Reza Maghraby, menjelaskan bahwa PGN LNG Mengajar merupakan bagian dari program edukasi PGN Group melalui Subholding Gas. Program ini bertujuan memperluas pemahaman mahasiswa mengenai sektor energi dan perkembangan industri gas di Indonesia.

Menurut Reza, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan praktisi industri. Melalui pemaparan materi dan diskusi, mahasiswa dapat memahami peran gas dalam proses transisi energi sekaligus mengenal kegiatan usaha PT PGN LNG Indonesia.
“Bagaimana gas itu menjadi energi transisi sebelum kita beralih dari energi fosil kepada energi baru terbarukan,” ujar Reza saat menjelaskan salah satu fokus edukasi dalam kegiatan tersebut.
Selain membahas perkembangan industri energi, PGN LNG Mengajar juga memperkenalkan mahasiswa pada lingkungan kerja di PGN Group dan Pertamina Group. Informasi tersebut diharapkan membantu mahasiswa memahami peluang karier sekaligus mempersiapkan diri menghadapi proses rekrutmen.
Reza menilai mahasiswa merupakan salah satu sumber talenta penting bagi industri. Karena itu, interaksi langsung antara perusahaan dan perguruan tinggi diperlukan agar mahasiswa memperoleh gambaran lebih nyata mengenai kebutuhan dunia profesional.
Kompetensi Digital Dibutuhkan Industri
Kepala Divisi Administrasi dan Umum PT PGN LNG Indonesia, A. Azis Kurniawan, menekankan pentingnya penguasaan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri. Menurutnya, kemampuan mengolah dan menganalisis data serta memahami digitalisasi menjadi bekal yang semakin dibutuhkan di dunia kerja.

“Penguasaan pengolahan data, analisis data terhadap data-data yang dibutuhkan oleh perusahaan itu sangat dibutuhkan. Kemudian, juga ditunjang oleh kemampuan penguasaan terhadap digitalisasi,” jelas Azis.
Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga perlu mempersiapkan diri menghadapi tahapan seleksi kerja. Persiapan tersebut mencakup latihan tes psikometri, kemampuan memecahkan masalah, serta keterampilan menyampaikan jawaban secara jelas ketika menjalani wawancara.
Azis mengingatkan bahwa pelamar kerja perlu memahami profil dan bidang usaha perusahaan yang dituju. Pemahaman tersebut membantu calon pekerja menjelaskan relevansi kompetensi yang dimiliki dengan posisi yang dilamar.
Persiapan yang matang perlu dilakukan sejak mahasiswa masih menempuh pendidikan. Dengan begitu, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan sekaligus mengenali kelebihan dan aspek yang masih perlu ditingkatkan sebelum memasuki dunia profesional.
Magang Jadi Bekal Memasuki Dunia Kerja
Pengalaman kerja juga menjadi aspek penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional. Azis menyebut kurangnya persiapan, minimnya pemahaman terhadap bisnis perusahaan, dan terbatasnya pengalaman kerja sebagai sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian calon pelamar.
Program magang dapat menjadi salah satu cara bagi mahasiswa untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Melalui pengalaman langsung di lingkungan kerja, mahasiswa berkesempatan memahami alur pekerjaan, mengenali budaya profesional, serta melatih tanggung jawab dan kemampuan beradaptasi.
Pengalaman tersebut juga membantu mahasiswa menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan penerapannya di industri. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki gambaran mengenai tuntutan pekerjaan yang akan dihadapi.
PGN LNG Mengajar diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri. Reza berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di Universitas Brawijaya sehingga pertukaran pengetahuan dan interaksi antara praktisi dengan mahasiswa semakin berkembang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami perkembangan sektor energi sekaligus terdorong meningkatkan kompetensi, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja. (gal)














