Kanal24, Malang – Hubungan antara kampus dan masyarakat sekitar tidak cukup dibangun melalui kedekatan lokasi, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan interaksi yang berkelanjutan. Melalui kegiatan sosial, perguruan tinggi memiliki ruang untuk hadir lebih dekat dengan warga sekaligus memahami kebutuhan lingkungan di sekitarnya.
Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) mewujudkan upaya tersebut melalui kegiatan Bakti Sosial dan PKM Lingkar Kampus di Balai RW 05, Jalan MT. Haryono, Malang, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini memadukan pemberian bantuan sosial dengan edukasi mengenai penataan hunian nyaman di lahan terbatas sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Baca Juga:
KMB X AHASS UB Buka Servis Motor Gratis
Bakti Sosial Jadi Agenda Rutin FT UB
Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., menjelaskan bahwa kegiatan bakti sosial telah dilaksanakan secara rutin selama bertahun-tahun. Bahkan, kegiatan tersebut sudah berjalan sebelum Universitas Brawijaya mengembangkan program Pembinaan Lingkar Kampus.

Hadi menyebut kegiatan yang diikutinya telah memasuki tahun keenam. Keberlanjutan program tersebut menjadi bagian dari upaya FT UB menjaga hubungan dengan masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan kampus.
Bantuan yang diberikan mencakup berbagai kebutuhan warga, mulai dari makanan hingga perlengkapan lingkungan, seperti kipas angin. Pemberian bantuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat agar dapat mendukung aktivitas warga sehari-hari.
“Intinya adalah memberikan kedekatan bahwa kita itu bagian dari tetangga,” ujar Hadi.
Menurutnya, hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat perlu dibangun melalui interaksi yang berkelanjutan. Kehadiran kampus di tengah permukiman tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pendidikan, tetapi juga dengan kepedulian terhadap kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.
Melalui Bakti Sosial dan PKM Lingkar Kampus, FT UB berupaya mempertahankan kedekatan tersebut sekaligus memperkuat interaksi antara sivitas akademika dan warga.
Warga RW 05 Sambut Positif Bakti Sosial
Kepala RW 05, Asrip Rohadi, menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial FT UB mendapat sambutan positif dari masyarakat. Menurutnya, kegiatan yang berlangsung setiap tahun tersebut menghadirkan bentuk kegiatan yang beragam, dengan antusiasme warga yang tetap terjaga.

Asrip menilai manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan melalui bantuan yang diberikan, tetapi juga melalui komunikasi yang terjalin antara masyarakat dan pihak fakultas. Interaksi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan baik antara warga RW 05 dan FT UB.
Berbagai kegiatan yang melibatkan pihak fakultas juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terus menjalin komunikasi dan koordinasi. Hubungan tersebut diharapkan dapat dipertahankan melalui kegiatan bersama yang memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Asrip berharap komunikasi antara masyarakat dan FT UB terus terjaga sehingga hubungan yang telah terbangun dapat semakin kuat.
“Harapan saya, ya, terjalin komunikasi yang baik antara pihak warga RW 05 dan pihak Brawijaya. Selalu kompak, saling menjaga keutuhan, dan menjalin komunikasi yang baik,” ungkap Asrip.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan pengabdian masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan yang diberikan, tetapi juga pada upaya menjaga komunikasi dan kebersamaan. Dengan hubungan yang terpelihara, kampus dan masyarakat dapat terus membangun lingkungan yang harmonis.
PKM Lingkar Kampus Bahas Hunian Lahan Terbatas
Selain bakti sosial, kegiatan ini menghadirkan pembahasan mengenai hunian nyaman di lahan terbatas. Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Debri Haryndia Putri, S.T., M.Ds., dosen Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Debri menjelaskan bahwa hunian dengan lahan terbatas memiliki sejumlah tantangan, terutama dalam mengatur sirkulasi udara, akses menuju jalan, dan pemanfaatan ruang. Kondisi tersebut membutuhkan penyesuaian desain agar ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, ketika bentuk bangunan sudah terbentuk dan sulit diubah, penataan interior menjadi salah satu aspek yang dapat dioptimalkan. Penggunaan multifunction furniture atau furnitur multifungsi dapat menjadi solusi untuk memaksimalkan ruang tanpa mengabaikan kebutuhan penghuni.
Selain pemilihan furnitur, pembagian zonasi juga perlu diperhatikan. Pengaturan area untuk beraktivitas dan beristirahat secara jelas membantu penghuni memanfaatkan ruang sesuai fungsinya.
Penempatan jendela dan pintu turut menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap sirkulasi udara. Penataan bukaan bangunan perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, termasuk arah dan kekuatan angin, agar kenyamanan penghuni tetap terjaga.
Debri juga menekankan bahwa persoalan hunian di lahan terbatas tidak hanya dapat diselesaikan melalui desain bangunan. Sikap saling memahami dan menghormati antartetangga menjadi aspek penting, terutama ketika masyarakat tinggal berdekatan dengan ruang yang terbatas.
Menurutnya, empati diperlukan agar penggunaan ruang tidak menimbulkan persoalan dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya menciptakan hunian yang nyaman perlu berjalan seiring dengan kesadaran untuk menghargai kebutuhan orang lain.
Melalui Bakti Sosial dan PKM Lingkar Kampus, FT UB menggabungkan kepedulian sosial dengan berbagi pengetahuan yang relevan bagi masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan perguruan tinggi dan warga sekaligus menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar kampus. (gal/ndr)














