Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menjadi tuan rumah konferensi internasional pendidikan inklusif yang mempertemukan peneliti, pendidik, praktisi, dan perwakilan pemerintah dari berbagai negara. Melalui The International Conference of Consortium for Inclusive Teacher Education and Development (C.I.T.ED.) 2026, UB mendorong penguatan kolaborasi lintas negara untuk membangun pendidikan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Konferensi yang berlangsung pada 27–28 Oktober 2026 ini mengusung tema “Belonging Without Borders: Strengthening Collective Commitment for an Inclusive World”. Kegiatan diselenggarakan UB bersama Consortium for Inclusive Teacher Education and Development (C.I.T.ED.) dan Monash University.
Ketua Pelaksana, Dr. Ive Emaliana, S.Pd., M.Pd., mengatakan konferensi ini menjadi ruang bagi anggota konsorsium dan masyarakat akademik untuk berbagi hasil penelitian sekaligus memperkuat jejaring dalam pengembangan pendidikan inklusif, khususnya pendidikan dan pengembangan guru.
Baca juga:
Dies Natalis ke-65, FAST UB Perkuat Riset dan Inovasi Berdampak

Ia menjelaskan, konferensi C.I.T.ED. merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat riset di bidang pendidikan inklusif. Forum tersebut juga terbuka bagi pihak yang tertarik mengembangkan penelitian mengenai pendidikan inklusif dan peran pendidik.
“Jadi, kami tidak hanya datang untuk berbagi, tetapi setelah itu kita membangun jejaring, lalu membuat riset dan harapannya ada diseminasi serta publikasi di tingkat internasional,” ujar Ive.
Libatkan Peserta dari Berbagai Negara
Ive menyampaikan, konferensi tahun ini diikuti peserta dari sembilan negara, termasuk Indonesia, dengan format pelaksanaan hibrida yang menggabungkan partisipasi secara langsung dan daring.
Berdasarkan keterangan panitia, terdapat 52 presenter yang terlibat, terdiri atas 23 presenter daring dan peserta lainnya yang mengikuti secara luring. Sementara itu, jumlah audiens tercatat sekitar 43 orang, baik secara daring maupun luring.
Format hibrida tersebut memungkinkan peserta tetap berdiskusi dan bertukar gagasan tanpa dibatasi kehadiran fisik. Pendekatan ini sejalan dengan semangat inklusi yang menjadi tema utama konferensi.
Dalam rangkaian pembukaan, konferensi mengangkat topik “Reimagining Inclusive Education: Systemic Transformation through Policy, Leadership, and Global Perspectives”. Sesi ini menyoroti pentingnya transformasi pendidikan inklusif melalui kebijakan, kepemimpinan, dan perspektif global.
Ive menambahkan, pengembangan pendidikan inklusif perlu mempertimbangkan budaya dan kearifan lokal agar penerapannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu pendidik menerapkan prinsip inklusi secara lebih dekat dengan konteks peserta didik.
Kementerian Dorong Penguatan Pendidikan Inklusif
Perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Dr. Nuril Furkan, S.Pd., M.Pd., M.I.Kom., M.H., menilai konferensi ini menjadi ruang strategis untuk menyatukan pandangan dan memperkuat langkah dalam memperluas pendidikan inklusif di Indonesia.

Menurut Nuril, pendidikan inklusif perlu memastikan anak-anak, termasuk peserta didik penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus, memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Ia menjelaskan, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya melalui kebijakan dan penguatan kelembagaan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif. Karena itu, pertukaran pengetahuan dalam forum internasional dapat menjadi bahan untuk memperkaya pengembangan program di Indonesia.
“Acara ini sangat bagus, luar biasa dalam rangka menyatukan pandangan, kemudian pikiran maupun tindakan yang akan dilakukan dalam rangka menyebarluaskan pendidikan inklusif,” ujar Nuril.
Ia juga membuka peluang kerja sama lanjutan dengan berbagai pihak untuk memperkuat pendidikan inklusif. Komunikasi dan pertukaran pandangan dalam konferensi diharapkan dapat menjadi awal bagi langkah kolaboratif yang lebih strategis.
Perkuat Riset dan Jejaring Internasional
Selain pertukaran pengetahuan, konferensi ini diharapkan menghasilkan kolaborasi riset yang berkelanjutan. Ive mengatakan anggota C.I.T.ED. dapat melanjutkan diskusi melalui penelitian strategis yang dikembangkan setelah konferensi.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat dipresentasikan dalam forum ilmiah berikutnya dan dipublikasikan pada tingkat internasional. Dengan demikian, konferensi tidak berhenti sebagai pertemuan akademik, tetapi menjadi bagian dari proses pengembangan pengetahuan dan praktik pendidikan inklusif.
Bagi UB, penyelenggaraan konferensi ini juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun kemitraan internasional sekaligus menghubungkan perspektif global dengan kebutuhan pendidikan di tingkat lokal.
Melalui kolaborasi peneliti, pendidik, dan pembuat kebijakan, C.I.T.ED. 2026 diharapkan turut mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang memberi ruang bagi setiap peserta didik untuk berpartisipasi dan merasa menjadi bagian dari komunitasnya. (nid)














