Kanal24, Lisbon – Guru Besar Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Prof. Dr. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D., menghadirkan perspektif manajemen lintas budaya dalam seminar di Departemen Antropologi Iscte, Lisbon, Portugal, Senin (26/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program UB PIONEER.
Mengangkat tema “Beyond Hofstede and GLOBE’s Studies: Situating National Culture Frameworks within Anthropological Critique”, Dodi mempertemukan pendekatan kuantitatif dalam bisnis dan manajemen dengan tradisi kajian antropologi yang kuat dalam penelitian kualitatif. Paparannya menempatkan kerangka budaya nasional Hofstede dan GLOBE sebagai titik awal memahami perbedaan budaya, bukan kesimpulan final tentang masyarakat. Pembacaan budaya perlu mempertimbangkan keragaman lokal, konteks sejarah, serta dinamika hubungan sosial agar tidak terjebak pada generalisasi dan stereotip nasional.
Baca juga:
Perluas Akses Hukum, Santri Malang Disiapkan Jadi Paralegal
Prof. Antónia Pedroso de Lima bersama peneliti senior dan terkemuka di Portugal di CRIA (Centre for Research in Anthropology) menyambut antusias perspektif tersebut. Diskusi membuka ruang pertukaran metodologis mengenai bagaimana pengukuran kuantitatif dapat berdialog dengan kedalaman interpretasi etnografis untuk memahami kepemimpinan, organisasi, dan praktik bisnis.
Pertemuan ini juga membuka peluang penjajakan riset kolaboratif berbasis ikatan historis Portugal dan Indonesia. Warisan budaya Portugis yang masih hidup di Nusa Tenggara Timur menjadi pintu masuk untuk menelaah perjumpaan budaya, identitas, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial maupun praktik organisasi.
Inisiasi kolaborasi tersebut akan ditindaklanjuti melalui Pusat Riset Kepemimpinan dan Organisasi FEB UB. Dengan mempertemukan keahlian manajemen lintas budaya dan antropologi, agenda ini diharapkan menghasilkan pemahaman yang lebih kontekstual tentang budaya serta memperluas jejaring riset internasional Universitas Brawijaya. Sinergi kedua bidang juga menawarkan landasan untuk merancang penelitian yang menghargai kekhasan komunitas, sekaligus menguji pola hubungan secara terukur tanpa mengabaikan suara masyarakat.













