Kanal24, Malang – Tumpukan tugas, tuntutan meraih prestasi, dan harapan keluarga menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi. Di tengah kesibukan mengejar capaian akademik, tekanan dari lingkungan pertemanan, perbedaan kondisi finansial, hingga gaya hidup juga dapat memengaruhi kondisi psikologis.
Situasi tersebut membuat kesehatan mental perlu mendapat perhatian, bukan hanya ketika mahasiswa menghadapi kesulitan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun karakter dan kemampuan menghadapi tantangan. Persoalan ini dibahas dalam seminar nasional bertema “Legislasi untuk Jiwa: Menguatkan Karakter Mahasiswa di Indonesia demi Mewujudkan Resiliensi Bangsa” pada rangkaian Parliamentary Expo 2026 yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (DPM FH UB) di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya, Malang, Senin (26/10/2026).
Baca Juga:
PGN LNG Mengajar Bekali Mahasiswa UB Hadapi Dunia Kerja
Tekanan Akademik hingga Lingkungan Pertemanan
Narasumber bidang kesehatan mental, dr. Kresna Septiandy Runtuk, M.Biomed., Sp.K.J., menjelaskan bahwa mahasiswa menghadapi beragam tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Tekanan tersebut dapat muncul dari lingkungan pertemanan, tuntutan pendidikan, harapan keluarga, hingga kondisi sosial yang lebih luas.

Menurut Kresna, perbedaan latar belakang, kondisi finansial, dan gaya hidup di antara mahasiswa juga berpotensi menimbulkan tekanan sosial. Situasi tersebut perlu disikapi dengan pemahaman yang baik agar mahasiswa mampu mengenali tantangan yang dihadapi dan menjaga kesehatan mentalnya.
Ia menilai penguatan karakter dan nilai-nilai pribadi berhubungan dengan kemampuan seseorang membangun kesehatan jiwa dan resiliensi. Daya lenting tersebut membantu mahasiswa menghadapi masa sulit sekaligus beradaptasi dengan berbagai tantangan dalam kehidupan.
“Dengan adanya karakter yang kuat dan nilai-nilai yang kuat, akan membentuk kesehatan jiwa yang kuat,” jelas Kresna.
Karena itu, keberhasilan mahasiswa tidak semestinya hanya dilihat dari pencapaian akademik. Kemampuan menghadapi tekanan, mengenali kondisi diri, dan mencari dukungan ketika diperlukan juga menjadi bagian penting dari proses perkembangan mahasiswa.
Pola Hidup Sehat Dukung Resiliensi Mahasiswa
Selain penguatan karakter, kebiasaan sehari-hari turut menjadi perhatian dalam menjaga kesehatan mental. Kresna menyarankan mahasiswa menerapkan pola hidup sehat, mengelola stres, melakukan aktivitas fisik secara rutin, mencukupi waktu istirahat, serta memperhatikan asupan nutrisi.
Ia mencontohkan aktivitas fisik selama 30 menit setiap hari dengan frekuensi minimal lima kali dalam satu minggu sebagai salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan. Menurutnya, kondisi fisik dan mental saling berkaitan sehingga keduanya perlu dijaga secara seimbang.
Mahasiswa juga dapat mengikuti kegiatan yang mendukung pengembangan diri dan memperluas wawasan. Dalam konteks ini, kegiatan kampus dapat menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan, bertukar pandangan, dan membangun interaksi dengan lingkungan yang lebih luas.
Upaya menjaga kesehatan mental pun tidak seharusnya hanya dilakukan ketika tekanan sudah terasa berat. Membiasakan pola hidup sehat dan memahami cara mengelola stres dapat menjadi bagian dari langkah menjaga kesejahteraan diri selama menjalani aktivitas akademik.
Kresna berharap kesehatan mental dapat dirasakan oleh semua orang sebagai hak dasar manusia. Dengan demikian, mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang, mencapai potensi terbaik, dan menghadapi tantangan kehidupan secara lebih baik.
Kebijakan dan Kepedulian Lingkungan Perlu Berjalan Bersama
Perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa juga berkaitan dengan peran kampus dan pemangku kebijakan. Wakil Rektor III Universitas Brawijaya, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., menyebut persoalan kesehatan mental mahasiswa sebagai masalah serius di lingkungan kampus yang perlu mendapat perhatian.
Setiawan menilai Dewan Perwakilan Mahasiswa dapat mengambil peran dengan menyoroti persoalan tersebut dari sisi regulasi. Atas dasar itu, seminar menghadirkan Anastasia Ida Soesanti, anggota DPRD Kota Malang dari daerah pemilihan Lowokwaru, untuk memberikan perspektif mengenai regulasi dan kebijakan.

Dalam pemaparannya, Anastasia menekankan bahwa mahasiswa perlu memperhatikan persoalan di lingkungan sekitar, tidak hanya berfokus pada nilai akademik. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh selama kuliah perlu diiringi dengan kepedulian terhadap kehidupan sosial.
“Mahasiswa jangan hanya mengejar IPK, tetapi juga lihat lingkungan sekitarmu,” ujar Anastasia.
Ia mendorong mahasiswa untuk turun melihat kondisi masyarakat serta menyampaikan aspirasi melalui komunikasi yang baik dengan lembaga perwakilan maupun pihak eksekutif. Keterlibatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami proses kebijakan publik dan ikut mengawal persoalan yang terjadi di lingkungannya.
Pembahasan dalam Parliamentary Expo 2026 menunjukkan bahwa penguatan kesehatan mental mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu menghadapi tekanan. Karakter, pola hidup sehat, dukungan lingkungan, serta ruang untuk menyampaikan aspirasi juga menjadi bagian dari upaya membangun resiliensi generasi muda.
Melalui seminar tersebut, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus mengembangkan kepedulian sosial. Dengan begitu, proses pendidikan tidak hanya mendorong pencapaian akademik, tetapi juga membentuk mahasiswa yang mampu menghadapi tantangan dan berperan aktif di tengah masyarakat. (gal)














