Kanal24, Malang – Ketersediaan guru di sekolah yang paling membutuhkan masih menjadi tantangan dalam pemerataan pendidikan. Persoalan tersebut juga dihadapi Australia, terutama dalam memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di sekolah yang melayani peserta didik dengan berbagai latar belakang sosial dan kebutuhan khusus.
Hal tersebut disampaikan Prof. Jo Lampert, Professor in Transformative Education di Monash University, Australia, dalam The International Conference of Consortium for Inclusive Teacher Education and Development (C.I.T.ED.) 2026 di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Selasa (27/10/2026).
Jo menjelaskan, Australia saat ini menghadapi kekurangan guru, terutama di sekolah-sekolah yang paling sulit mendapatkan tenaga pendidik. Kondisi tersebut mendorong perlunya persiapan calon guru agar memiliki kemampuan mengajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di lingkungan pendidikan yang menantang.
“Jumlah guru di sekolah-sekolah yang paling membutuhkan masih terlalu sedikit,” ujarnya.
Baca juga:
UB Gelar Konferensi Internasional untuk Perkuat Pendidikan Inklusif

Ia mengatakan, pekerjaannya saat ini turut berfokus pada mempersiapkan guru agar bersedia mengajar di sekolah yang sulit mendapatkan tenaga pendidik, sekaligus memiliki keterampilan untuk mendampingi peserta didik yang menghadapi berbagai kerentanan.
Guru Perlu Memahami Latar Belakang Siswa
Menurut Jo, pendidikan yang inklusif membutuhkan pendekatan pengajaran yang responsif terhadap latar belakang budaya dan kondisi kehidupan peserta didik. Guru perlu memahami lingkungan keluarga serta situasi sosial yang dapat memengaruhi proses belajar anak.
Ia mencontohkan, peserta didik yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi atau menghadapi persoalan sosial lainnya dapat memiliki tantangan tersendiri dalam mengikuti pembelajaran.
Karena itu, persiapan guru tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan materi pelajaran. Guru juga perlu memahami kondisi peserta didik agar dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Jo menambahkan, keberagaman latar belakang peserta didik menjadi tantangan tersendiri di Australia. Sejumlah sekolah memiliki siswa dari berbagai latar belakang budaya, termasuk mereka yang menggunakan bahasa selain bahasa Inggris atau menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan.
Dalam kondisi tersebut, guru perlu terus belajar memahami karakteristik peserta didik, terutama ketika latar belakang guru berbeda dengan latar belakang siswa yang diajarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Pendidikan
Jo menilai, sekolah di wilayah perkotaan maupun daerah terpencil memiliki tantangan masing-masing. Setiap lingkungan pendidikan mempunyai kondisi dan persoalan berbeda yang perlu dipahami sebelum menentukan pendekatan pembelajaran.
Meski demikian, ia mengaku belum cukup memahami konteks pendidikan Indonesia untuk membandingkan secara langsung kondisi kedua negara. Ia menekankan bahwa kerja sama lintas negara tetap penting untuk mengembangkan solusi atas tantangan pendidikan.
Menurutnya, konferensi C.I.T.ED. menjadi kesempatan bagi para akademisi dan praktisi untuk bertukar gagasan serta mencari solusi konkret melalui kolaborasi.
“Saya berharap kita semua dapat bekerja sama secara nyata dan konkret untuk menemukan solusi, saling belajar dari perbedaan, serta bekerja secara kolektif,” tuturnya.
Melalui kerja sama tersebut, Jo berharap pengembangan pendidikan dan penyiapan tenaga pendidik dapat terus diperkuat untuk menjawab kebutuhan peserta didik yang beragam. (nid)














