Kanal24, Malang – Seni tidak lagi hanya hadir melalui lukisan, pertunjukan, atau karya visual yang dinikmati secara langsung. Ketika berpadu dengan teknologi digital, seni dapat menghadirkan pengalaman baru sekaligus membuka ruang pertemuan antara kreativitas, ilmu pengetahuan, dan budaya. Perpaduan tersebut terlihat dalam DIPA Mediart Festival 2026 yang menghadirkan eksplorasi seni media di Universitas Brawijaya (UB).
Festival yang digelar di Gazebo Raden Wijaya, Selasa (27/10/2026), ini menjadi bagian dari upaya memperkuat Globalizing UB melalui pengembangan potensi lokal menuju perspektif global. Tidak sekadar menjadi ruang pamer karya, kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa dan masyarakat untuk bertukar gagasan, berkolaborasi lintas disiplin, serta mengeksplorasi peluang seni media dalam ekosistem kreatif.
Baca Juga:
INVENT 2026 Perkuat Kolaborasi Riset Internasional Universitas Brawijaya
Globalizing UB Berangkat dari Potensi Lokal
Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menjelaskan bahwa DIPA Mediart Festival merupakan salah satu kegiatan dalam Globalizing UB. Program ini mendorong pengembangan keunggulan universitas agar memiliki perspektif dan jangkauan internasional tanpa meninggalkan potensi yang tumbuh di lingkungan lokal.

Menurut Andi, kekuatan budaya dan kreativitas di Malang dapat menjadi modal untuk membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku industri kreatif. Pendekatan tersebut membuka peluang agar pengembangan kampus tidak hanya berorientasi pada jejaring internasional, tetapi juga berangkat dari karakter dan potensi daerah.
Konteks ini relevan dengan posisi Kota Malang dalam UNESCO Creative Cities Network pada bidang Media Arts. Keberadaan ekosistem seni media di kota ini menjadi peluang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik kreatif yang berkembang di masyarakat.
Andi menjelaskan bahwa kolaborasi DIPA dengan UB melalui festival ini merupakan kerja sama perdana. Antusiasme dan konsep kegiatan yang memadukan seni, budaya, serta teknologi dinilainya membuka peluang untuk menjadikan festival sebagai agenda berkelanjutan.
Keterlibatan mahasiswa dan komunitas juga menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi turut berperan dalam pelaksanaan festival. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi ruang partisipasi sekaligus pertukaran gagasan antara kampus dan masyarakat.
Teknologi Imersif Perluas Pengalaman Belajar
Ketua Pelaksana DIPA Mediart Festival 2026 sekaligus Manager UB Medcom Group, Dr. Redy Eko Prastyo, S.Psi., M.I.Kom., memandang seni media sebagai ruang yang dapat menghubungkan beragam bidang keilmuan. Teknologi imersif, menurutnya, tidak hanya menghadirkan pengalaman artistik, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkaya proses pembelajaran.

Dalam rangkaian festival, diskusi dan kelas memanfaatkan media imersif untuk menawarkan pengalaman belajar yang berbeda. Pendekatan ini membuka peluang bagi teknologi untuk menjadi sarana penyampaian pengetahuan sekaligus mendorong eksplorasi kreatif.
Redy juga menyoroti pentingnya mempertemukan kompetensi akademik dengan minat personal mahasiswa. Mahasiswa yang menekuni matematika, misalnya, tetap dapat mengembangkan ketertarikan pada desain. Perpaduan keduanya berpotensi melahirkan pendekatan kreatif yang melampaui batas satu disiplin ilmu.
Gagasan ini berkaitan dengan konsep passionpreneur, yakni pengembangan peluang melalui perpaduan kemampuan akademik dan minat personal. Mahasiswa dapat mengeksplorasi potensi diri sekaligus menemukan kemungkinan baru melalui kolaborasi lintas bidang.
Bagi Redy, tantangan utama pengembangan festival bukan hanya menghadirkan kegiatan yang menarik, melainkan menjaga keberlanjutan ekosistem kreatif setelah acara berakhir. Ia menekankan pentingnya menjadikan budaya sebagai fondasi yang menghubungkan berbagai disiplin, dengan teknologi sebagai bagian dari perkembangan kehidupan dan kebudayaan.
Redy juga menekankan pentingnya mengembangkan gagasan global dengan tetap berpijak pada konteks lokal. Dalam wawancara, ia merumuskan arah tersebut sebagai upaya “membangun mata air kreatif yang berangkat dari UB”. Gagasan itu menempatkan kampus sebagai salah satu sumber lahirnya kreativitas yang dapat berkembang melalui kolaborasi dengan masyarakat dan ekosistem kreatif yang lebih luas.
Kolaborasi Lintas Disiplin Buka Peluang Baru
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menilai festival ini dapat menjadi pemantik kreativitas bagi sivitas akademika. Menurutnya, perpaduan seni dengan teknologi memperlihatkan potensi yang masih dapat dikembangkan melalui kerja sama lintas bidang.

Salah satu bentuk eksplorasi yang menarik adalah pemanfaatan media imersif untuk menghadirkan pengalaman berbeda dalam menikmati karya seni. Kolaborasi mahasiswa seni rupa dan desain komunikasi visual dapat memperluas cara karya disajikan sekaligus membuka kemungkinan baru dalam menyampaikan gagasan kepada publik.
Peluang kolaborasi juga dapat melibatkan bidang lain, termasuk gastronomi dan etnogastronomi. Pertemuan seni dengan pengalaman kuliner memungkinkan pengunjung mengenal karya dan budaya melalui pendekatan yang lebih beragam. Dengan cara ini, pengalaman menikmati seni dapat melibatkan unsur budaya di luar aspek visual.
Keberagaman program studi di UB menjadi modal untuk mengembangkan kolaborasi tersebut. Setiap disiplin memiliki perspektif dan kemampuan yang dapat saling melengkapi ketika dipertemukan dalam satu kegiatan. Interaksi lintas bidang juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Tri berharap penyelenggaraan festival pada tahun berikutnya dapat berkembang dengan skala lebih besar. Ia melihat potensi kolaborasi tersebut masih dapat diperluas, baik melalui keterlibatan sivitas akademika maupun partisipasi masyarakat.
DIPA Mediart Festival 2026 mempertemukan seni, teknologi, budaya, dan pendidikan dalam satu ruang kolaborasi. Bagi Universitas Brawijaya, pengembangan potensi lokal melalui seni media menjadi salah satu jalan untuk memperkuat Globalizing UB sekaligus membuka ruang bagi kreativitas kampus agar tumbuh bersama masyarakat dan menjangkau jejaring yang lebih luas. (gal)














