Kanal24, Malang – Pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lokal, bukan sekadar mengadopsi pendekatan dari negara lain. Penguatan kompetensi guru, keterlibatan orang tua, dan pemanfaatan praktik pembelajaran yang sesuai menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif.
Hal tersebut disampaikan Prof. Umesh Sharma, Vice Provost for People and Culture di University of Nottingham Ningbo China, dalam The International Conference of Consortium for Inclusive Teacher Education and Development (C.I.T.ED.) 2026 di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Selasa (27/10/2026).
Menurut Umesh, setiap negara memiliki karakteristik dan tantangan pendidikan yang berbeda. Karena itu, Indonesia perlu mengembangkan pendekatan pendidikan inklusif berdasarkan kondisi ruang kelas serta kebutuhan peserta didik, dengan tetap mempelajari praktik baik dari negara lain secara selektif.
Baca juga:
IKADI Kota Batu Gelar Pelatihan Nasional 10.000 Khatib, Perkuat Dakwah Moderat

“Indonesia perlu memikirkan konteksnya sendiri. Daripada mengimpor gagasan dari negara lain, bangunlah kekuatan yang sudah dimiliki negara sendiri,” ujarnya.
Ia menyarankan agar peneliti dan mahasiswa melakukan pengamatan langsung di ruang kelas untuk mengidentifikasi praktik pembelajaran yang telah berjalan baik. Temuan tersebut kemudian dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan dan pelatihan guru agar praktik yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dapat diterapkan secara lebih luas.
Penguatan Kompetensi Guru Jadi Kunci
Umesh menekankan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi disabilitas atau kesulitan belajar yang dialami peserta didik. Sekolah juga perlu mengevaluasi kesiapan guru dan metode pembelajaran yang digunakan.
Menurutnya, kesulitan seorang anak dalam mengikuti pembelajaran tidak selalu bersumber dari kondisi anak tersebut. Metode pengajaran yang belum sesuai dengan kebutuhannya juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi proses belajar.
Karena itu, guru perlu dibekali kemampuan untuk mengajar peserta didik dengan kebutuhan yang beragam tanpa langsung memisahkan mereka dari kelas reguler.
Umesh menjelaskan, terdapat tiga unsur penting yang perlu dimiliki guru dalam menerapkan pendidikan inklusif, yakni heart, head, dan hands. Heart merujuk pada kemauan untuk menerima dan mendampingi semua peserta didik. Head berkaitan dengan pengetahuan mengenai metode pengajaran yang tepat, sedangkan hands menekankan kemampuan menerapkan metode tersebut dalam praktik pembelajaran.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Menurutnya, orang tua perlu menjadi bagian dari upaya mendukung peserta didik agar pendidikan inklusif tidak hanya bertumpu pada sekolah dan guru.
Kearifan Lokal Jadi Modal Pengembangan
Selain penguatan kompetensi guru dan keterlibatan orang tua, Umesh menilai Indonesia memiliki potensi sosial dan budaya yang dapat mendukung pengembangan pendidikan inklusif. Ia menyoroti budaya masyarakat Indonesia yang ramah, saling membantu, serta memiliki kekayaan budaya.
Potensi tersebut dapat menjadi modal untuk membangun sistem pendidikan yang lebih terbuka terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik.
Umesh juga mengingatkan agar Indonesia tidak terburu-buru menerapkan kebijakan atau pendekatan dari negara lain tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan kondisi dalam negeri. Setiap gagasan perlu dikaji secara cermat agar penerapannya benar-benar mendukung kebutuhan peserta didik dan guru.
Ia berharap Indonesia dapat memperkuat pendidikan inklusif dengan mengembangkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan konteks lokal, sekaligus meningkatkan kesiapan guru dalam mengajar seluruh peserta didik.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan pendidikan inklusif diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan. Umesh juga menyampaikan apresiasi kepada para guru di Indonesia yang telah bekerja keras dalam menjalankan tugas pendidikan. (nid)














