Kanal24, Malang – Pertemuan akademisi dari berbagai negara dengan latar belakang keilmuan berbeda menjadi salah satu cara perguruan tinggi memperluas ruang pembelajaran mahasiswa. Melalui interaksi lintas disiplin, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan sesuai bidang yang dipelajari, tetapi juga berkesempatan memahami perkembangan ilmu dari perspektif yang lebih luas. Pendekatan ini penting untuk membangun lingkungan akademik yang terbuka terhadap pertukaran gagasan dan perkembangan pengetahuan global.
Upaya tersebut dilakukan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) melalui penyelenggaraan EURASIA 2026 Course Series ke-5 pada Rabu (4/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula A Lantai 2 FIB UB ini menghadirkan akademisi dari Jepang dan Indonesia dengan kepakaran di sejumlah bidang, mulai dari teknologi pangan, linguistik, kebahasaan, hingga kedokteran. Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran interdisipliner sekaligus bagian dari upaya fakultas menjaga hubungan akademik dengan perguruan tinggi internasional.
Baca Juga:
EURASIA 2026 Buka Perspektif Baru Mahasiswa FIB UB
Hadirkan Beragam Kepakaran dalam Satu Forum Akademik
Wakil Dekan III FIB UB, Ismatul Khasanah, S.Pd., M.Pd., M.Ed., Ph.D., menyampaikan bahwa EURASIA 2026 Course dirancang untuk memberikan pengalaman akademik yang lebih luas kepada mahasiswa. Menurutnya, pembelajaran dalam forum tersebut tidak terbatas pada bahasa dan budaya, tetapi juga mencakup bidang keilmuan lain yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan pengetahuan.
Pada penyelenggaraan seri kelima ini, FIB UB menghadirkan dua akademisi dari Jepang dengan kepakaran berbeda, yakni teknologi pangan dan linguistik. Selain itu, Dekan FIB UB turut menyampaikan materi mengenai kebahasaan, sementara akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Dr. Aris, memberikan perspektif dari bidang kesehatan.
Keberagaman tersebut menjadi salah satu karakteristik EURASIA yang dipertahankan dari penyelenggaraan sebelumnya. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal berbagai perspektif keilmuan sekaligus memahami bahwa pengembangan pengetahuan dapat melibatkan lebih dari satu disiplin.

“Interdisipliner ilmu itu sangat berarti. Tidak hanya kita belajar bahasa dan budaya saja di sini, namun berbagai bidang ilmu juga kita pelajari di EURASIA Series,” ungkap Ismatul.
Ia berharap keberagaman materi yang dihadirkan dapat memperkaya wawasan peserta dan mendorong mereka untuk lebih terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di luar bidang akademik masing-masing.
Bangun Pertukaran Pengetahuan Lintas Negara
Tidak hanya menghadirkan pemateri dari berbagai bidang, EURASIA juga menjadi sarana mempertemukan akademisi dari sejumlah negara dan perguruan tinggi. Keterlibatan pemateri internasional memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal pengalaman akademik dari lingkungan pendidikan yang berbeda.
Ismatul menjelaskan, penyelenggaraan EURASIA pada periode sebelumnya telah melibatkan akademisi dari beberapa negara, di antaranya Jepang, Vietnam, dan Kamboja. Kegiatan ini juga menjangkau perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Surabaya dan Jakarta.
Menurutnya, keterlibatan berbagai institusi tersebut memberikan nilai tambah bagi kegiatan karena peserta dapat memperoleh pengetahuan dari latar belakang akademik yang beragam. Pertemuan semacam ini juga membuka kesempatan untuk membangun komunikasi antarakademisi yang dapat dikembangkan menjadi hubungan kerja sama lebih lanjut.
Dengan menghadirkan perspektif internasional, EURASIA diharapkan tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang interaksi yang mempertemukan pengalaman, gagasan, dan pendekatan pembelajaran dari berbagai lingkungan pendidikan tinggi.
Targetkan Keberlanjutan Program dan Jejaring Internasional
Pengembangan EURASIA ke depan menjadi perhatian FIB UB agar manfaat kegiatan tidak berhenti pada satu periode penyelenggaraan. Ismatul menyampaikan bahwa pelaksanaan program tahun ini memperoleh dukungan hibah melalui pengajuan yang dikoordinasikan oleh Dr. Ayu. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan fakultas menghadirkan akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan.
FIB UB berharap hubungan dengan mitra perguruan tinggi internasional, khususnya dari Jepang, dapat terus dipelihara. Keberlanjutan komunikasi dan jejaring tersebut dinilai penting untuk membuka peluang penyelenggaraan program serupa pada tahun mendatang.
“Harapan kami tahun depan atau tahun-tahun selanjutnya juga bisa menjadi host kembali, karena ini sangat bermanfaat untuk mendatangkan para ahli dari beberapa negara,” jelasnya.
Ia juga berharap FIB UB kembali memperoleh kesempatan mendapatkan dukungan hibah sehingga EURASIA dapat terus dikembangkan dengan cakupan akademisi dan institusi yang lebih luas.
Melalui penyelenggaraan seri kelima ini, FIB UB berupaya mempertahankan EURASIA sebagai ruang pertemuan akademik yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu dan lingkungan pendidikan tinggi. Ke depan, keberlanjutan program diharapkan dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, mengenal perspektif global, serta membangun relasi akademik lintas negara. (ndr)














