Kanal24, Malang – Keberadaan pohon di lingkungan kampus menyimpan lebih dari sekadar fungsi penghijauan. Setiap pohon memiliki nilai ekologis sekaligus potensi menjadi sumber pengetahuan mengenai lingkungan dan sejarah kehidupan. Namun, potensi tersebut membutuhkan pendekatan edukasi yang menarik agar keberadaan biodiversitas tidak hanya terlihat, tetapi juga dipahami dan dijaga oleh masyarakat kampus. Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu cara untuk mendekatkan pengetahuan tersebut kepada sivitas akademika.
Upaya itu diwujudkan Universitas Brawijaya (UB) melalui kegiatan “JELAJAH POHON LANGKA DUNIA: Nurturing Global Biodiversity on Campus” yang diselenggarakan Globalizing UB bekerja sama dengan UPT UB Green Campus pada Jumat (6/11/2026). Berlangsung di Bundaran CFD Kampus Universitas Brawijaya, kegiatan ini menghadirkan pendekatan pengenalan pohon melalui sistem digital yang menghubungkan identitas tanaman, edukasi biodiversitas, serta pemahaman mengenai ekonomi sirkular.
Baca Juga:
DIPA Mediart Festival Perkuat Globalizing UB Lewat Seni Media
Teknologi Digital Dekatkan Sivitas Akademika dengan Biodiversitas
Ketua Pelaksana, Susenohaji, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program hibah Globalizing UB yang dikembangkan bersama UPT UB Green Campus. Program ini diarahkan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui interaksi digital antara pengunjung dan identitas pohon yang ada di lingkungan kampus.
Melalui mekanisme pemindaian atau scanning, pengunjung diharapkan dapat mengeksplorasi informasi mengenai pohon secara lebih interaktif. Dengan demikian, pengenalan tanaman tidak hanya berlangsung melalui pengamatan langsung, tetapi juga didukung pengalaman digital yang memberikan wawasan tambahan.
Susenohaji menilai pendekatan tersebut penting untuk membangun kesadaran bahwa pohon memiliki peran besar dalam keberlangsungan kehidupan. Menurutnya, keberadaan pohon tidak cukup hanya dipandang sebagai elemen penghijauan, tetapi perlu dipahami sebagai bagian dari lingkungan yang harus dijaga bersama.

“Harapannya mahasiswa, sivitas akademika itu memiliki kepedulian dan akhirnya memiliki kemauan untuk bersama-sama menjaga pohon yang menjadi paru-paru kehidupan,” jelas Susenohaji.
Ia juga menyebutkan bahwa pohon memiliki fungsi edukasi karena menyimpan pengetahuan mengenai sejarah ekologi dan sosial. Informasi tersebut dapat menjadi materi pembelajaran yang memperkaya pemahaman masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.
Integrasikan Edukasi Pohon dengan Ekonomi Sirkular
Tidak hanya memperkenalkan biodiversitas, pengembangan program ini juga menghubungkan edukasi lingkungan dengan konsep ekonomi sirkular. Susenohaji menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkan disinkronkan dengan pemanfaatan limbah menjadi produk yang masih memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial.
Pendekatan tersebut diharapkan memperluas pemahaman sivitas akademika bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada upaya menjaga tanaman. Pengelolaan sumber daya dan pemanfaatan limbah secara lebih bertanggung jawab juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan lingkungan.
“Harapannya tidak hanya belajar tentang pohon, tetapi juga belajar tentang bagaimana mengolah limbah menjadi produk yang masih bernilai ekonomi, bernilai bermanfaat secara sosial,” ungkapnya.
Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini, S.TP., M.Env.Mgt., Ph.D., menyampaikan dukungannya terhadap kolaborasi tersebut. Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan Internet of Things (IoT) dapat dikombinasikan dengan pengetahuan biodiversitas untuk menghadirkan metode edukasi lingkungan yang lebih relevan.

“Kami dari UPT UB Green Campus berharap adanya kegiatan jelajah pohon langka yang diselenggarakan sebagai bagian dari program Globalizing UB yang bekerja sama dengan UPT kami ini bisa berjalan dengan sukses dan bisa memberikan wawasan bahwasanya ternyata digitalisasi dan IoT ini bisa dikombinasikan dengan pengetahuan terkait biodiversitas, khususnya adalah tanaman,” tutur Prof. Sri Suhartini.
Ia menambahkan bahwa biodiversitas merupakan salah satu bagian dari program utama UPT UB Green Campus. Karena itu, pihaknya mendukung pengembangan program bersama tim Globalizing UB sebagai upaya memperkuat edukasi dan kepedulian terhadap lingkungan kampus.
Jadikan Pohon Ruang Edukasi dan Rekreasi Bersama
Pengembangan sistem digital tersebut juga dilengkapi animasi untuk menghadirkan pengalaman eksplorasi yang lebih atraktif. Susenohaji berharap teknologi ini dapat membuat masyarakat kampus lebih tertarik mengenali pohon sekaligus menjadikan lingkungan hijau sebagai ruang pembelajaran dan rekreasi.
Menurutnya, pohon memiliki nilai yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Selain memberikan manfaat ekologis, keberadaannya juga dapat menjadi sarana memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru mengenai lingkungan.
“Harapan kita pohon nanti ketika menjadi fungsi edukasi dan fungsi rekreasi menjadi public property yang akan dilindungi bersama. Kenapa? Karena mereka memberikan manfaat untuk edukasi dan untuk rekreasi,” ungkapnya.
Melalui kegiatan Jelajah Pohon Langka, UB berupaya membangun hubungan yang lebih dekat antara sivitas akademika dan biodiversitas di lingkungan kampus. Kolaborasi Globalizing UB dan UPT UB Green Campus ini sekaligus memperlihatkan peluang pemanfaatan teknologi digital dalam memperkuat literasi lingkungan.
Ke depan, kesadaran untuk mengenali dan memahami keberadaan pohon diharapkan berkembang menjadi kepedulian nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan begitu, pohon tidak hanya menjadi bagian dari lanskap kampus, tetapi juga aset ekologis dan sumber pembelajaran yang manfaatnya dapat dirasakan bersama. (ndr)














