Kanal24, Malang – Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Wilayah V menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Krebet, Kabupaten Malang, Jumat (9/5/2026). Kegiatan ini menjadi lanjutan dari rangkaian Forum Dekan AIPKI, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan, lingkungan, dan ekonomi desa.
Dekan FK Universitas Brawijaya sekaligus Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi hasil forum ke dalam masyarakat. “Kegiatan pada pagi ini merupakan rangkaian dari forum dekan AIPKI wilayah 5. Setelah pertemuan ilmiah, hari ini kita lanjutkan dengan pengabdian masyarakat,” ujarnya.
Baca juga : Forum Dekan AIPKI Bahas Mutu Pendidikan Kedokteran Nasional
Ia menambahkan, Desa Krebet dipilih sebagai lokasi karena telah menjadi desa binaan FK UB dalam program pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan berbagai sektor. “Desa Krebet ini merupakan desa binaan dalam pengelolaan sampah bekerja sama dengan NIHR dari Inggris, sehingga diharapkan bisa menjadi praktik baik bagi fakultas lain,” jelasnya.
Menurut Wisnu, konsep pengabdian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga melibatkan lintas sektor seperti pertanian, perikanan, hingga teknik. “Ini kegiatan kolaborasi. Kita tidak bekerja sendiri, tapi bersama lintas sektor, sehingga bisa menjadi contoh bagaimana pengabdian masyarakat dilakukan secara terintegrasi,” tegasnya.

Selain itu, program ini juga menyasar pencegahan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, hingga obesitas melalui pemeriksaan kesehatan langsung kepada warga. “Ada juga kegiatan pemeriksaan kesehatan karena penyakit tidak menular menjadi salah satu fokus yang harus kita tangani bersama,” tambahnya.
Kepala Desa Krebet, Nurkholis, menyambut baik kegiatan ini dan menilai manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini bisa menambah motivasi semangat warga, sehingga masyarakat Krebet ke depan menjadi masyarakat yang sejahtera,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa program yang diberikan tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga mendukung aspek ekonomi desa. “Kami diajari terkait kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah, yang juga menunjang perekonomian melalui kerja sama dengan koperasi, BUMDes, dan UMKM,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Nurkholis menyebut bantuan yang diberikan dalam kegiatan ini cukup signifikan, baik dalam bentuk alat maupun pengembangan program. “Bantuannya sangat banyak, kurang lebih senilai Rp35 juta, termasuk alat untuk perikanan lele dan greenhouse untuk penanaman melon,” katanya.
Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan ke depan yang masih dalam tahap wacana, seperti program pertanian terpadu hingga layanan kesehatan desa. “Ke depan ada rencana pengembangan seperti pola tanam padi mina dan pengembangan poliklinik serta homecare di Desa Krebet,” tambahnya.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini pun dinilai sangat tinggi. Warga secara gotong royong telah mempersiapkan penyambutan sejak jauh hari. “Respon masyarakat sangat baik, kami di Krebet ini menerapkan guyub rukun, jadi semua warga ikut terlibat dalam menyukseskan kegiatan ini,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, AIPKI menegaskan bahwa pengabdian masyarakat tidak hanya menjadi formalitas akademik, tetapi harus mampu memberikan dampak nyata. Desa Krebet diharapkan dapat menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan sekaligus kesejahteraan ekonomi secara berkelanjutan. (qrn)














