Kanal24, Malang – Penanganan tuberkulosis (TBC) tidak cukup dilakukan dari satu bidang keilmuan. Mulai dari diagnosis, pengobatan, pencegahan, hingga keterlibatan masyarakat membutuhkan strategi yang saling terhubung. Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus The 4th Brawijaya Medical Conference (BMC) International Tuberculosis Conference 2026 yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB).
Dekan FK UB Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), mengatakan BMC merupakan kegiatan rutin yang dirancang sebagai ruang untuk mendiseminasikan hasil riset sekaligus mempertemukan para peneliti dan pendidik dari berbagai bidang.
“Brawijaya Medical Conference ini merupakan kegiatan yang sudah rutin dilakukan oleh Fakultas Kedokteran. Kami sebagai institusi pendidikan tentunya menginginkan adanya forum untuk mendiseminasikan semua hasil-hasil riset penelitian yang sudah dilakukan,” ujar Wisnu saat ditemui di Lantai 2 Gedung Graha Medika FK UB, Sabtu (12/9/2026).
Baca juga:
Rayakan HUT ke-13, THE 1O1 Malang Gelar Cek Kesehatan hingga Kerja Bakti

Menurutnya, forum ilmiah tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyampaikan hasil penelitian, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang dapat menghasilkan inovasi dengan dampak nyata bagi masyarakat.
TBC Butuh Pendekatan Multidisipliner
BMC 2026 secara khusus mengangkat tema tuberkulosis. Menurut Wisnu, pemilihan isu tersebut relevan dengan kondisi Indonesia yang masih menghadapi beban TBC tinggi.
WHO mencatat Indonesia termasuk negara dengan kontribusi kasus TBC terbesar di dunia. Dalam laporan Global Tuberculosis Report 2025, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari estimasi kasus TBC global pada 2024, berada di bawah India.
Karena itu, Wisnu menilai penanganan TBC membutuhkan diskusi dari berbagai perspektif.
“Penanganan TB ini tidak bisa hanya oleh satu bidang saja, tetapi juga semua bidang, baik itu dari aspek diagnostik, pengobatan, ataupun aspek pencegahan,” katanya.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena persoalan TBC tidak hanya berkaitan dengan layanan medis. Upaya pengendalian juga membutuhkan strategi pencegahan dan keterlibatan masyarakat.
Melalui konferensi tersebut, para peserta diharapkan dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman untuk melihat persoalan TBC secara lebih menyeluruh.
Riset Harus Berdampak ke Masyarakat
Wisnu mengatakan salah satu tujuan utama BMC adalah mendorong hasil riset agar tidak berhenti di lingkungan akademik.
Forum kolaborasi yang dibangun melalui BMC diharapkan dapat mempertemukan para peneliti dan pendidik sehingga menghasilkan gagasan maupun inovasi yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan kesehatan di masyarakat.
“Kami berharap dengan adanya ini bisa menjadi forum kolaborasi untuk bekerja sama dengan seluruh peneliti, pendidik di bidang-bidang tertentu sehingga nanti bisa menghasilkan sesuatu yang memberikan dampak untuk masyarakat,” jelasnya.
BMC 2026 berlangsung pada 11–13 September 2026. Rangkaian kegiatan mencakup workshop, konferensi ilmiah, serta presentasi ilmiah melalui oral presentation dan poster presentation.
Konferensi juga menghadirkan peserta dari sejumlah negara dan pembicara internasional dari China, India, Malaysia, Australia, serta Portugal. Kehadiran mereka menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperluas jejaring akademik dalam penanganan TBC.
Wisnu berharap diskusi lintas bidang dalam BMC dapat menghasilkan strategi yang lebih komprehensif untuk menekan prevalensi TBC di Indonesia.
“Harapannya dengan kegiatan ini kita bisa merumuskan strategi-strategi yang bisa kita gunakan untuk menurunkan prevalensi di Indonesia,” pungkasnya. (nid)













