Kanal24, Malang – Harapan pasar agar bank sentral Amerika Serikat segera memangkas suku bunga kembali mendapat tantangan. Ketua Federal Reserve (The Fed) menegaskan inflasi di Negeri Paman Sam masih berada pada level yang terlalu tinggi, sehingga upaya mengembalikan stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang rapat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli 2026. Meski banyak pelaku pasar berharap ada sinyal pelonggaran kebijakan moneter, The Fed belum memberikan kepastian mengenai arah suku bunga dalam waktu dekat.
Menurutnya, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan meningkatnya produktivitas memang menjadi faktor positif bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, tantangan terbesar saat ini masih berasal dari tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
“Harga-harga masih terlalu tinggi,” tegasnya.
Baca juga:
AI Kuasai Daftar Unicorn Global 2026, Nilai Startup Dunia Tembus Rp130 Ribu Triliun
Target Inflasi Tetap 2 Persen
The Fed menegaskan komitmennya untuk membawa inflasi kembali ke target jangka panjang sebesar 2 persen.
Bank sentral Amerika Serikat menilai stabilitas harga merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Karena itu, kebijakan moneter akan tetap diarahkan untuk memastikan inflasi terus bergerak menuju sasaran tersebut.
Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi inti (core inflation) Amerika Serikat pada Mei 2026 masih berada di kisaran 3,4 persen. Sementara inflasi utama (headline inflation) tercatat sekitar 4,1 persen, jauh di atas target yang ditetapkan The Fed.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan bank sentral masih bersikap hati-hati sebelum memutuskan perubahan kebijakan suku bunga.
AI Akan Membantu The Fed Membaca Ekonomi
Selain membahas inflasi, Ketua The Fed juga mengungkapkan bahwa lembaganya sedang membentuk lima kelompok kerja (task force) untuk mengevaluasi berbagai fungsi internal.
Pemanfaatan teknologi AI menjadi salah satu fokus utama. Dalam sembilan hingga 12 bulan ke depan, teknologi tersebut diharapkan mampu membantu bank sentral memantau kondisi ekonomi secara real-time sehingga proses pengambilan kebijakan menjadi lebih cepat dan akurat.
Susunan anggota kelompok kerja tersebut dijadwalkan akan diumumkan dalam waktu dekat.
Pasar Menanti Hasil Rapat FOMC
Pernyataan terbaru dari Ketua The Fed menjadi perhatian investor global karena akan memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Apabila inflasi masih bertahan pada level tinggi, peluang suku bunga tetap dipertahankan bahkan kembali diperketat masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan harga mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa bulan ke depan, ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga akan semakin besar.
Untuk saat ini, satu pesan yang disampaikan bank sentral Amerika Serikat cukup jelas: mengembalikan inflasi ke target 2 persen tetap menjadi prioritas utama sebelum mempertimbangkan langkah pelonggaran kebijakan moneter.














