Kanal24, Malang – Rencana wisatawan menikmati Gunung Bromo harus kembali ditunda. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memperpanjang penutupan kawasan wisata Bromo hingga 15 Agustus 2026 karena penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan TNBTS masih berlangsung.
Perpanjangan penutupan dilakukan untuk mendukung proses pemadaman sekaligus menjaga keselamatan wisatawan dan petugas di lapangan. Kebakaran yang mulai dilaporkan pada 3 Agustus 2026 tersebut telah berdampak pada ratusan hektare kawasan TNBTS dan penanganannya dilakukan melalui operasi darat maupun udara.
Baca juga:
K3L Perkuat Kesadaran PLP Menjaga Keselamatan di Laboratorium
Bromo Masih Ditutup untuk Wisatawan
Penutupan kawasan wisata Bromo berlaku di seluruh akses masuk yang berada di kawasan TNBTS. Kebijakan ini sebelumnya diberlakukan setelah kebakaran terus meluas dan mulai mengganggu keamanan kawasan wisata.
TNBTS memberikan pilihan refund atau reschedule bagi wisatawan yang telah membeli tiket untuk tanggal kunjungan selama masa penutupan. Pengajuan dilakukan melalui mekanisme yang disediakan pengelola.
Keputusan memperpanjang penutupan menjadi langkah penting karena aktivitas wisata berpotensi mengganggu pergerakan personel serta proses pemadaman di kawasan yang masih terdampak kebakaran.
Kebakaran Meluas di Kawasan TNBTS
Karhutla di kawasan TNBTS pertama kali dilaporkan pada Senin, 3 Agustus 2026. Titik awal kebakaran berada di Blok Bantengan, wilayah yang bukan merupakan lokasi wisata utama.
Kebakaran kemudian meluas ke sejumlah kawasan di TNBTS. Perkembangan data luasan area terdampak masih mengalami pembaruan. Pada 10 Agustus, salah satu laporan mencatat area terdampak mencapai 742,70 hektare.
Perkembangan berikutnya menunjukkan luas kawasan terdampak mencapai sekitar 889 hektare berdasarkan laporan terbaru yang terbit 12 Agustus. Area tersebut tersebar di wilayah administratif Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
Perbedaan angka luasan dalam laporan dari waktu ke waktu berkaitan dengan proses pendataan dan perkembangan kebakaran di lapangan. Karena itu, angka luasan dapat berubah mengikuti pembaruan data dari tim penanganan.
Pemadaman Dilakukan dari Darat dan Udara
Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan udara. Tim gabungan dikerahkan untuk memadamkan titik api sekaligus mencegah kebakaran kembali meluas.
Helikopter water bombing digunakan untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat. Pada 10 Agustus, misalnya, operasi udara dilakukan sebanyak sembilan rit dengan total sekitar 24.000 liter air yang dijatuhkan ke area terdampak.
Sementara itu, petugas di darat melakukan pemadaman dan pemantauan di sejumlah titik. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan yang tidak mudah dijangkau.
Medan Jadi Kendala Pemadaman
Kondisi geografis kawasan TNBTS menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman. Sejumlah titik kebakaran berada di kawasan dengan medan terjal sehingga tidak seluruh lokasi dapat dijangkau dengan mudah oleh petugas.
Kondisi musim kemarau juga membuat vegetasi di sejumlah area menjadi kering sehingga api lebih mudah merambat. Angin turut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam operasi pemadaman.
Karena itu, penanganan tidak hanya mengandalkan satu metode. Pemadaman dari udara digunakan untuk membantu menjangkau area tertentu, sementara tim darat tetap bekerja menangani titik panas dan bara yang tersisa.
Penutupan Demi Keselamatan
Bagi wisatawan, penutupan Bromo berarti sejumlah agenda seperti menikmati matahari terbit, mengunjungi Lautan Pasir, hingga menjelajah kawasan savana harus ditunda.
Namun, penutupan dilakukan bukan karena aktivitas wisata dihentikan tanpa alasan. Kebijakan tersebut berkaitan langsung dengan kondisi keamanan kawasan serta kebutuhan petugas untuk melakukan pemadaman.
Kanal24 sebelumnya juga mencatat bahwa TNBTS pernah menutup akses wisata Bromo ketika terjadi kebakaran pada 2023. Saat itu, penutupan dilakukan untuk mendukung proses pemadaman dan menjaga keamanan pengunjung.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan pertimbangan keselamatan ketika terjadi kebakaran, terlebih saat kondisi api masih dalam penanganan.
Wisatawan Diminta Menunggu Informasi Resmi
Dengan diperpanjangnya penutupan hingga 15 Agustus 2026, wisatawan yang telah merencanakan kunjungan perlu menyesuaikan kembali jadwal perjalanan.
Wisatawan juga sebaiknya tidak memaksakan diri mencari akses alternatif menuju kawasan yang masih ditutup. Selain berisiko terhadap keselamatan, aktivitas tersebut dapat mengganggu proses penanganan kebakaran yang sedang dilakukan petugas.
Informasi mengenai pembukaan kembali kawasan, perubahan jadwal kunjungan, maupun mekanisme tiket perlu mengikuti pengumuman resmi TNBTS. (ern)













