Kanal24, Malang – Ketersediaan pakan dan keterbatasan lahan menjadi tantangan dalam menjalankan budidaya lobster air tawar di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut dirasakan Flops Farm Indonesia, usaha budidaya lobster air tawar di Surabaya, Jawa Timur, yang telah beroperasi sejak 2017.
Pemilik Flops Farm Indonesia, Syaifullah, menyampaikan pengalamannya dalam Workshop Kolaboratif Inovasi Pakan Lobster Berkelanjutan CIRCULOBS 2026 bertajuk From Organic Waste to Sustainable Lobster Feed. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Arjuna 3, Lantai 1, Swiss-Belinn Malang, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga:
Mahasiswa Malaysia Inbound di FPIK UB, Perkuat Jejaring Global
Pakan Konsentrat Masih Digunakan
Syaifullah menjelaskan bahwa usahanya masih menggunakan pakan konsentrat berbahan tepung ikan. Selain itu, ia memanfaatkan pakan alami dari bahan hewani maupun nabati untuk memenuhi kebutuhan lobster.

“Karena kami masih menggunakan pakan konsentrat, yaitu pakan yang diolah dari tepung ikan,” ujar Syaifullah.
Kebutuhan pakan menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan budidaya. Karena itu, pengembangan alternatif pakan berbahan maggot dari sampah organik yang dibahas dalam CIRCULOBS 2026 relevan bagi pelaku usaha perikanan. Meski demikian, kesesuaian formulasi dan kebutuhan nutrisi lobster tetap perlu diperhatikan sebelum pakan alternatif diterapkan.
Lahan Terbatas Jadi Kendala di Surabaya
Selain pakan, ketersediaan lahan menjadi persoalan yang dihadapi Flops Farm Indonesia. Menurut Syaifullah, keterbatasan ruang di Surabaya membuat persiapan lokasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam menjalankan usaha.
“Nah, nah untuk itu tantangan lainnya yaitu di luas lahan. Karena kami di Surabaya itu lahannya terbatas,” ungkapnya.
Ia menyarankan calon pembudidaya untuk memastikan ketersediaan lahan dan media pemeliharaan sebelum memulai usaha. Persiapan ini diperlukan agar kebutuhan kolam dan sarana pendukung dapat terpenuhi.
Kolam dan Aerator Perlu Dipersiapkan
Syaifullah menekankan pentingnya menyiapkan fasilitas budidaya yang sesuai, termasuk kolam, sistem filtrasi, dan mesin aerator untuk mendukung ketersediaan oksigen terlarut dalam air.
“Yang perlu disiapkan yaitu adalah lahannya. Karena lobster ini juga perlu lahan dan medianya yang cukup,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa lobster merupakan hewan omnivora atau pemakan segala. Namun, keberhasilan pemeliharaan tidak hanya bergantung pada pakan, melainkan juga kondisi air dan sarana pendukung yang memadai.
Pengalaman Flops Farm Indonesia menunjukkan bahwa calon pembudidaya perlu memperhitungkan kebutuhan pakan, ketersediaan lahan, serta fasilitas pemeliharaan sejak awal. Ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan usaha budidaya lobster air tawar. (ndr)













