Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengembangkan prototipe kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu mendeteksi dini potensi perundungan dan persoalan sosial di lingkungan Sekolah Rakyat. Pengembangan ini menjadi fokus Workshop 2 Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) Komdigi x UB yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026 di Auditorium Algoritma, Gedung G Lantai 2, Fakultas Ilmu Komputer UB.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., mengatakan kegiatan AITF merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan UB dan Komdigi dalam mengembangkan talenta digital Indonesia. Pada pelaksanaan kali ini, pengembangan diarahkan untuk membantu memetakan kondisi sosial ekonomi siswa sekaligus mengidentifikasi potensi persoalan yang perlu dimitigasi di lingkungan sekolah.
“UB bersama Komdigi terus memperkuat kolaborasi dan tentu kita ingin mendukung agar talenta-talenta terbaik di Indonesia ini berkembang secara optimal,” ujar Imam.
Ia menjelaskan, pemanfaatan data menjadi salah satu pendekatan untuk memahami kondisi siswa dan merancang langkah mitigasi yang sesuai. Dengan demikian, pengembangan teknologi tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman.
Baca juga:
UB Kembangkan Pakan Lobster dari Sampah Organik, Ini Hasil Risetnya

Kembangkan Sistem Deteksi Dini Berbasis AI
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi, Dr. Gunawan Hutagalung, S.T., M.T., menjelaskan bahwa AITF batch kedua diarahkan pada pengembangan modul yang menyerupai boarding management system. Sistem tersebut ditujukan untuk membantu pengasuh mengidentifikasi potensi perilaku bermasalah di lingkungan sekolah berasrama sebelum berkembang menjadi kejadian yang merugikan siswa.
Salah satu teknologi yang dibahas ialah pemanfaatan CCTV berbasis AI. Teknologi ini diharapkan dapat membantu mengenali pola pergerakan atau kondisi tertentu yang memerlukan perhatian lebih lanjut, terutama di area sekolah dan asrama yang luas serta tidak seluruhnya dapat dipantau secara langsung.
“Ini kan kita memitigasi supaya itu tidak terjadi,” jelas Gunawan, merujuk pada upaya mengantisipasi potensi perundungan dan persoalan sosial lainnya.
Gunawan menegaskan, pengembangan tersebut masih berupa prototipe. Fungsi-fungsi utama akan dibangun terlebih dahulu sebelum sistem dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan implementasi di Sekolah Rakyat.
Berbeda dari Batch Pertama yang Berfokus pada Pembelajaran
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Komputer UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., menerangkan bahwa fokus batch kedua berbeda dari pelaksanaan sebelumnya.
Pada batch pertama, AITF berfokus pada pengembangan model AI untuk mendukung proses belajar mengajar, termasuk membantu tenaga pengajar dan siswa menemukan modul pembelajaran yang sesuai melalui learning management system.
Sementara itu, batch kedua memperluas fokus ke aspek pengelolaan lingkungan sekolah berasrama, terutama pencegahan potensi perundungan dan intoleransi. Melalui workshop ini, peserta diharapkan menghasilkan model awal yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan institusi pengguna.

Sabriansyah menjelaskan, sejumlah model dari batch pertama telah dikembangkan bersama Komdigi dan diunggah ke platform model AI yang dapat diakses secara terbuka. Model tersebut dapat menjadi dasar pengembangan lebih lanjut untuk mendukung sistem pendidikan.
Siapkan Talenta Digital untuk Pengembangan Lanjutan
Selain menghasilkan prototipe, program AITF juga berfokus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan dan menyesuaikan teknologi AI dengan kebutuhan pengguna.
Gunawan mengatakan, mahasiswa UB yang telah lolos seleksi dilibatkan dalam program tersebut untuk membangun kapasitas dan pengalaman pengembangan model AI. Talenta ini diharapkan dapat berkontribusi ketika sistem nantinya dikembangkan lebih lanjut oleh pihak terkait, termasuk untuk kebutuhan Sekolah Rakyat.
Menurutnya, kebutuhan AI di setiap institusi dapat berbeda sehingga pengembangannya perlu disesuaikan dengan konteks dan tujuan penggunaannya. Prototipe yang dihasilkan juga berpotensi menjadi rujukan bagi sekolah berasrama lain yang memiliki kebutuhan serupa.
Melalui kolaborasi UB dan Komdigi, AITF diharapkan tidak hanya menghasilkan model teknologi, tetapi juga menyiapkan talenta digital yang dapat mendukung penerapan AI di sektor pendidikan. Meski demikian, prototipe deteksi dini tersebut masih memerlukan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat diterapkan dalam operasional Sekolah Rakyat. (nid)














