Kanal24, Malang – Asap kayu bakar mengepul dari tungku tradisional, sementara kuliner tempo dulu tersaji di antara stan berbahan bambu. Suasana tersebut menghadirkan kembali gambaran kehidupan masyarakat masa lalu yang lekat dengan tradisi dan kebersamaan. Di tengah perubahan gaya hidup modern, pawon lawasan menjadi cara warga Kampung Cempluk memperkenalkan kembali akar budaya kepada generasi muda.
Konsep tersebut dihadirkan dalam rangkaian Festival Kampung Cempluk ke-16 pada Selasa (20/10/2026), di Areal Pawon Lawasan RT 07, Kampung Cempluk, Kabupaten Malang. Melalui penggunaan peralatan memasak tradisional, penyajian kuliner lawas, dan pembangunan stan secara gotong royong, kegiatan ini mengangkat budaya lokal sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat.
Baca Juga:
Brawijaya Culture & Food Festival Angkat Kuliner Nusantara di Pusat Kota Malang
Pawon Lawasan Jadi Sarana Edukasi Budaya
PIC Kampung Cempluk, Jaelani Said, menjelaskan bahwa konsep pawon lawasan dipilih untuk mengenalkan kehidupan masyarakat terdahulu kepada generasi muda. Menurutnya, dapur tradisional merupakan bagian dari perjalanan peradaban yang perlu dipahami dan diwariskan.

“Di sini saya ingin mengedukasi generasi muda kita bahwasanya dulu kita awalnya peradaban kita ya seperti ini, pawon kita ya seperti itu,” ujarnya.
Konsep tersebut diwujudkan melalui stan berbahan alami, terutama bambu. Pembangunannya dilakukan secara gotong royong oleh warga setempat. Persiapan kegiatan juga melibatkan kelompok ibu-ibu PKK yang bergantian menyiapkan kuliner untuk disajikan di area pawon.
Sementara itu, warga lainnya turut membantu pembangunan stan dan persiapan fasilitas. Keterlibatan tersebut menjadikan masyarakat bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan, bukan sekadar pengunjung festival.
Kuliner Tradisional Perkuat Kebersamaan Warga
Ketua RT 07 RW 01, Suroso, menyebut makanan zaman dahulu yang diolah menggunakan peralatan tradisional sebagai salah satu ciri khas Kampung Cempluk. Proses memasak dengan pawon menghadirkan suasana yang mengingatkan masyarakat pada kehidupan masa kecil.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan warga. Ia melihat antusiasme masyarakat sebagai modal untuk menjaga keberlanjutan kegiatan sekaligus mengembangkan potensi kampung.

“Untuk ke depan semoga Kampung Cempluk ini bisa lebih maju, lebih bergairah lagi, sampai terdengar ke Nusantara,” harapnya.
Di sisi lain, Jaelani mengakui lokasi kegiatan yang berada di area dalam kampung menjadi tantangan tersendiri. Sebagian masyarakat berpotensi belum mengetahui keberadaan area pawon lawasan karena lokasinya tidak langsung terlihat dari jalan utama.
Ia berharap akses menuju lokasi dapat dikembangkan agar pengunjung lebih mudah menemukan area kegiatan. Upaya tersebut diharapkan membantu memperluas jangkauan pengenalan budaya dan potensi Kampung Cempluk.
Kampung Tematik Jadi Benteng Budaya Lokal
Koordinator Nasional Jaringan Kampung Tematik Indonesia, Ir. Bambang Irianto, menilai kegiatan berbasis budaya lokal penting di tengah modernisasi. Menurutnya, kemajuan zaman perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar budaya bangsa, terutama di kalangan generasi muda.

“Event-event di kampung dengan memunculkan kegiatan-kegiatan yang mengarusutamakan budaya lokal adalah benteng budaya yang diperlukan untuk menetralisir dampak-dampak negatif dari modernisasi,” jelasnya.
Bambang menilai konsep yang diterapkan Kampung Cempluk dapat direplikasi oleh kampung tematik lainnya. Ia berencana menyampaikan pengalaman tersebut kepada jaringan hampir 1.900 kampung di berbagai wilayah Indonesia agar masing-masing kampung turut mengangkat kekhasan budayanya.
“Kalau bukan kita, mau siapa lagi? Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Ayo kita bangun negeri ini dari lorong kampung,” ujarnya.
Melalui pawon lawasan, Kampung Cempluk memperlihatkan bagaimana tradisi dapat dihadirkan kembali melalui aktivitas sehari-hari masyarakat. Kuliner tempo dulu, penggunaan bahan alami, dan gotong royong menjadi bagian dari upaya menjaga identitas lokal sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda. (ndr)













