Kanal24, Malang – Implementasi poin SDG 12, UPT UB Green Campus mengadakan kegiatan clean up di UB Forest dalam rangka acara Global Care Week 2026. Membersihkan sampah yang menumpuk dapat membuat lingkungan kembali terlihat bersih dalam waktu singkat. Namun, persoalan akan kembali muncul jika kebiasaan membuang dan mengelola sampah tidak ikut berubah. Karena itu, aksi bersih lingkungan membutuhkan langkah lanjutan yang menyentuh perilaku, fasilitas, hingga sistem pengelolaan sampah.
Pesan tersebut mengemuka dalam Global Care Week yang digelar di Pendopo UB Forest, Buntoro, Malang, Senin (5/10/2026). Kegiatan yang melibatkan UPT UB Green Campus Universitas Brawijaya, LyondellBasell Advanced Polyolefins (LYB), UB Forest, Desa Hijau, dan iLitterless tersebut tidak hanya menggelar clean up, tetapi juga mendorong keterlibatan mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Baca juga:
Sengketa Pilpres di MK Dibahas Akademisi FH UB, Ini Perspektif Hukumnya
Bersih-Bersih Bukan Solusi Akhir
Co-Founder iLitterless, Mayedha Adifirsta, mengatakan kegiatan clean up merupakan salah satu cara untuk merespons persoalan sampah yang sudah terlanjur terjadi. Namun, kegiatan tersebut tidak dapat menjadi solusi tunggal.

Menurutnya, sampah yang berserakan menunjukkan belum optimalnya sistem maupun layanan persampahan di suatu wilayah.
“Clean up adalah salah satu bentuk cara mengobati perilaku yang sudah terlanjur terjadi, yaitu buang sampah sembarangan akibat karena belum terbentuknya sistem atau layanan persampahan setempat,” ujar Mayedha.
Karena itu, ia menilai pesan yang ingin dibangun dari kegiatan tersebut adalah kesadaran bahwa sampah seharusnya tidak berada di sembarang tempat. Sampah perlu diarahkan ke fasilitas pengelolaan agar dapat diproses dengan lebih baik.
Mayedha menyebut keberadaan fasilitas seperti TPS3R maupun layanan pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir menjadi bagian penting dalam membangun sistem persampahan.
Mahasiswa Jadi Penggerak Perubahan
Perubahan perilaku juga menjadi perhatian mahasiswa yang terlibat dalam Global Care Week. Ketua Pelaksana Desa Hijau 2026, Fadhil Abdurrahman Yasykur, menilai kolaborasi berbagai pihak menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan masih dapat dibangun melalui aksi bersama.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa memberikan ruang untuk melanjutkan pesan Global Care Week melalui program-program lingkungan yang telah mereka jalankan.
“Pelestarian lingkungan itu masih sangat bisa dilakukan dengan berbagai kolaborasi,” kata Fadhil.
Ia menyebut Desa Hijau menjadi salah satu program yang akan melanjutkan aksi serupa. Bagi Fadhil, kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu dimulai melalui kegiatan besar.
Menurutnya, tindakan sederhana seperti membersihkan area yang dipenuhi sampah dapat menjadi langkah awal untuk membangun kepedulian yang lebih luas.
“Untuk menjaga lingkungan itu tidak perlu selalu dimulai dengan hal-hal besar. Jadi dengan hal-hal kecil seperti tadi kita membersihkan sebuah damsite, itu kan hal kecil ya. Jadi itu bisa berdampak besar,” ujarnya.
Perlu Sistem dan Kolaborasi Berkelanjutan
Camat Karangploso, Marendra Hengky Irawan, menilai kolaborasi antara kampus, industri, masyarakat, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, persoalan persampahan tidak dapat diselesaikan secara parsial karena berkaitan langsung dengan kebiasaan masyarakat dan sistem pengelolaan di tingkat wilayah.
“Tanpa adanya kolaborasi atau sinergi ini pastinya permasalahan lingkungan, permasalahan persampahan, mungkin juga hutan ini juga butuh sinergi atau kolaborasi,” ujarnya.
Ia juga menilai pemilahan sampah dapat membantu masyarakat mengurangi persoalan sampah yang selama ini masih tercampur. Sampah organik, plastik, maupun residu perlu mendapatkan penanganan yang berbeda agar lebih mudah dikelola.
Marendra berharap kolaborasi yang terbangun melalui Global Care Week dapat dilanjutkan secara berkesinambungan. Menurutnya, keberlanjutan menjadi kunci agar aksi lingkungan tidak berhenti ketika kegiatan selesai.
Senada dengan itu, Mayedha berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat pesan kepada masyarakat agar lebih serius memperhatikan layanan pengelolaan sampah di tingkat desa maupun kelurahan.
Dengan demikian, Global Care Week tidak hanya meninggalkan kawasan yang lebih bersih, tetapi juga mendorong kesadaran bahwa persoalan sampah membutuhkan perubahan perilaku sekaligus sistem yang mendukungnya. (ern)














