Kanal24, Malang – Di tengah persaingan dunia kerja yang makin kompetitif dan perubahan sosial yang bergerak cepat, mahasiswa tidak lagi cukup hanya dibekali kemampuan akademik. Perguruan tinggi dituntut menghadirkan ekosistem pembinaan yang mampu melahirkan lulusan tangguh, adaptif, serta memiliki karakter kepemimpinan dan kecerdasan emosional. Kesadaran inilah yang terus diperkuat oleh Program Dana Abadi Universitas Brawijaya (UB) melalui berbagai agenda pengembangan diri bagi para awardee.
Sebagai salah satu program strategis pemberdayaan mahasiswa, Dana Abadi UB menempatkan penerima manfaat bukan sekadar sebagai penerima bantuan pendidikan, melainkan calon pemimpin masa depan yang harus dipersiapkan secara menyeluruh. Karena itu, pembinaan yang dilakukan tidak hanya menyasar kebutuhan finansial pendidikan, tetapi juga menekankan pembangunan soft skill, ketahanan mental, kemampuan kolaborasi, serta kesiapan menghadapi tantangan profesional yang sesungguhnya. Nilai inilah yang menjadi ruh dalam kegiatan pembekalan dan bonding awardee yang digelar di Hotel Selecta, Kota Batu pada Sabtu (02/05/2026).
Baca juga:
FIB UB Perkuat Reputasi Global Lewat Program Sea Teacher Internasional

Melalui suasana yang lebih cair namun tetap edukatif, para awardee diajak keluar dari rutinitas perkuliahan untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang dirancang khusus sebagai ruang pembelajaran karakter. Agenda dimulai dengan sesi pembukaan dan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi penguatan kapasitas diri yang menitikberatkan pada kepemimpinan, pembangunan karakter personal, hingga kesiapan memasuki dunia kerja yang semakin dinamis.
Dalam sesi tersebut, pemateri Soedarno Hadipuro menegaskan bahwa kualitas mahasiswa unggul saat ini harus dilihat secara lebih komprehensif. Menurutnya, prestasi akademik memang penting, namun tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan seorang lulusan.
“Mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki integritas, kemampuan beradaptasi, dan kepekaan terhadap lingkungan,” ujarnya.
Soedarno menjelaskan, perusahaan maupun institusi modern kini lebih banyak mencari individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu bekerja dalam tim, memiliki daya juang tinggi, serta cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan. Karena itu, mahasiswa sejak dini perlu memahami bahwa pembentukan karakter menjadi investasi penting yang menentukan masa depan karier mereka.

Ia menambahkan, dunia profesional menuntut lulusan yang mampu berpikir kritis dan tetap tenang di tengah tekanan. “Dunia profesional membutuhkan individu yang mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan memiliki karakter yang kuat,” katanya.
Tidak berhenti pada transfer materi di ruang diskusi, kegiatan pembekalan ini juga dikemas melalui pendekatan praktik langsung atau experiential learning. Para awardee diajak mengikuti sesi outbound yang dipandu Ilhamuddin, dengan beragam simulasi permainan yang dirancang untuk menguji kemampuan komunikasi, kekompakan tim, kepemimpinan, hingga kecepatan mengambil keputusan.
Melalui aktivitas lapangan tersebut, mahasiswa ditempatkan dalam kondisi yang menuntut mereka keluar dari zona nyaman. Mereka harus menyusun strategi bersama, membangun kepercayaan antarpeserta, serta mencari solusi cepat dalam situasi yang dibatasi waktu. Proses ini menjadi latihan nyata yang sering kali tidak ditemukan dalam pembelajaran formal di kelas.
Menurut Ilhamuddin, metode pembelajaran berbasis pengalaman memiliki dampak lebih mendalam karena peserta tidak sekadar menerima teori, tetapi langsung menjalani proses pembentukan sikap.

“Melalui praktik langsung, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga merasakan dan mengalami prosesnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tekanan dan dinamika yang muncul selama outbound justru menjadi media efektif untuk mengenali karakter diri. Dalam kondisi tersebut, mahasiswa belajar bagaimana mengelola emosi, membangun empati, serta tetap mampu mengambil keputusan rasional.
“Di lapangan, mereka belajar membangun kepercayaan, mengelola emosi, dan mengambil keputusan dalam tekanan,” tambahnya.
Selain penguatan kepemimpinan dan kerja sama tim, kegiatan ini juga memberikan perhatian pada aspek keseimbangan mental mahasiswa. Para peserta mengikuti sesi yoga bersama yang difokuskan pada relaksasi, pengendalian napas, serta penguatan konsentrasi. Langkah ini menjadi penting mengingat tekanan akademik, target prestasi, hingga kecemasan menghadapi masa depan kerap menjadi tantangan yang dihadapi mahasiswa.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berpikir, tetapi juga oleh kestabilan emosi dan kesiapan mental. Kemampuan menjaga fokus, mengelola stres, serta mengenali kondisi diri menjadi modal penting agar mereka mampu bertahan dalam ritme kehidupan kampus maupun dunia kerja nantinya.
Kegiatan bonding semakin terasa kuat ketika para awardee diberi kesempatan menikmati waktu bebas dan berinteraksi di kawasan wisata Selecta. Momen nonformal ini dimanfaatkan mahasiswa dari berbagai fakultas untuk saling mengenal lebih dekat, bertukar pengalaman, serta membangun jejaring lintas disiplin ilmu. Interaksi seperti ini dinilai penting karena menumbuhkan rasa kebersamaan dan membuka peluang kolaborasi di masa mendatang.
Suasana santai di luar forum resmi justru menjadi ruang yang efektif untuk membangun solidaritas antarpenerima Dana Abadi UB. Mereka tidak hanya merasa sebagai individu penerima beasiswa, tetapi menjadi bagian dari komunitas mahasiswa unggul yang memiliki visi tumbuh bersama.
Melalui rangkaian pembekalan yang komprehensif tersebut, Dana Abadi Universitas Brawijaya kembali menegaskan komitmennya sebagai program pemberdayaan mahasiswa yang berorientasi jangka panjang. Bantuan pendidikan yang diberikan tidak berhenti pada dukungan finansial, tetapi diarahkan untuk mencetak generasi yang matang secara intelektual, tangguh secara mental, serta siap bersaing di tengah kompleksitas dunia profesional.
Dengan pendekatan seperti ini, awardee Dana Abadi UB diharapkan tumbuh menjadi lulusan yang tidak hanya berprestasi di bangku kuliah, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan kolaborasi, kecakapan memimpin, dan daya adaptasi tinggi sebagai bekal menghadapi masa depan. (qrn)














