Kanal24, Malang – Memahami cara kerja lembaga legislatif tidak cukup hanya melalui materi perkuliahan atau pembahasan di ruang kelas. Mahasiswa dan pelajar juga membutuhkan ruang untuk mengenal fungsi legislasi, pengawasan, serta peran lembaga perwakilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Parliamentary Expo 2026 yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (DPM FH UB). Melalui sejumlah rangkaian kegiatan, agenda ini menjadi wadah bagi mahasiswa dan siswa sekolah menengah atas untuk memperluas wawasan mengenai legislasi sekaligus mendorong pengembangan karakter generasi muda.
Baca Juga:
Perluas Akses Hukum, Santri Malang Disiapkan Jadi Paralegal
Salah satu rangkaian kegiatan tersebut adalah seminar nasional bertema “Legislasi untuk Jiwa: Menguatkan Karakter Mahasiswa di Indonesia demi Mewujudkan Resiliensi Bangsa” yang berlangsung di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya, Malang, Senin (26/10/2026).
Lima Rangkaian Kegiatan Warnai Parliamentary Expo 2026
Ketua Pelaksana Parliamentary Expo 2026, Muhamad Kahfi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah pengembangan sumber daya mahasiswa dan siswa SMA sederajat di tingkat nasional.

Menurut Kahfi, generasi muda membutuhkan ruang untuk memperluas pengetahuan sekaligus mengembangkan kapasitas diri. Karena itu, DPM FH UB menghadirkan kegiatan yang menggabungkan pembahasan legislasi, pengembangan gagasan, dan aktivitas yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan.
Parliamentary Expo 2026 terdiri atas lima rangkaian kegiatan. Agenda tersebut meliputi seminar nasional, pameran seni karakter lembaga legislatif di Indonesia, kompetisi esai nasional, bazar, serta fun run.
Setiap rangkaian menghadirkan pendekatan berbeda untuk melibatkan peserta. Seminar nasional menjadi ruang diskusi mengenai legislasi dan kesehatan mental, sedangkan kompetisi esai memberikan kesempatan bagi peserta untuk menyampaikan gagasan melalui tulisan.
Pameran seni karakter lembaga legislatif turut memperkenalkan representasi lembaga perwakilan melalui karya visual. Sementara itu, bazar dan fun run melengkapi rangkaian kegiatan dengan aktivitas yang lebih terbuka bagi peserta.
Kahfi berharap Parliamentary Expo tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi dapat terus dilaksanakan dan memberikan dampak bagi mahasiswa, siswa SMA sederajat, serta masyarakat luas.
Libatkan Peserta dari Berbagai Institusi Pendidikan
Ketua Umum DPM FH UB, Ardian Rizky Setiawan, menyampaikan bahwa Parliamentary Expo menjadi sarana untuk memperkenalkan pengetahuan mengenai lembaga legislatif dan fungsi legislasi kepada mahasiswa maupun pelajar.

Menurut Ardian, tema legislasi berkaitan erat dengan peran DPM sebagai lembaga legislatif di tingkat mahasiswa. Sementara itu, pembahasan kesehatan mental diangkat sejalan dengan perhatian Universitas Brawijaya terhadap isu tersebut pada 2026.
Kegiatan ini terbuka bagi mahasiswa Universitas Brawijaya, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, siswa SMA sederajat, serta masyarakat umum. Panitia juga menyediakan akses melalui Zoom agar peserta dari luar Malang dapat mengikuti kegiatan.
Ardian memperkirakan terdapat peserta yang berasal dari sekitar 11 universitas dan sembilan SMA. Jumlah tersebut disampaikan sebagai perkiraan berdasarkan keterlibatan peserta yang diketahuinya.
Ia berharap peserta memperoleh wawasan lebih luas mengenai proses pembuatan peraturan, fungsi pengawasan, serta peran lembaga legislatif. Selain itu, perhatian terhadap kesehatan mental juga diharapkan semakin tumbuh di kalangan mahasiswa.
Melalui keterlibatan berbagai institusi pendidikan, Parliamentary Expo diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan bagi generasi muda untuk memahami persoalan publik dan peran mereka di dalamnya.
Wakil Rektor III Dukung Penguatan Peran DPM
Wakil Rektor III Universitas Brawijaya, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., mengapresiasi penyelenggaraan Parliamentary Expo 2026. Ia menilai kegiatan tersebut relevan dengan peran Dewan Perwakilan Mahasiswa sebagai lembaga yang merepresentasikan fungsi parlemen di lingkungan kampus.

Setiawan juga menyoroti pentingnya pemahaman sejarah perkembangan parlemen di Indonesia. Menurutnya, keberadaan lembaga perwakilan saat ini merupakan hasil dari proses panjang yang perlu dipahami oleh generasi muda.
Selain aspek legislasi, Setiawan menilai DPM perlu memberi perhatian terhadap persoalan kesehatan mental mahasiswa, termasuk melalui pembahasan dari sisi regulasi. Dengan begitu, mahasiswa dapat mengenali isu yang dihadapi sekaligus memahami bagaimana kebijakan berperan dalam menjawab persoalan tersebut.
Ia mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan DPM sebagai saluran penyampaian aspirasi dan komunikasi dengan pimpinan fakultas maupun universitas. Peran lembaga perwakilan mahasiswa, menurutnya, perlu diberdayakan agar aspirasi dapat disampaikan melalui mekanisme yang tersedia.
Melalui Parliamentary Expo 2026, penguatan wawasan legislasi diharapkan berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu di lingkungan kampus maupun masyarakat. (gal)














