Kanal24, Malang – Indonesia tengah memasuki fase penting menuju bonus demografi 2045, ketika jumlah usia produktif diprediksi jauh lebih besar dibanding kelompok usia nonproduktif. Di tengah kondisi tersebut, sektor kesehatan menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang, terutama profesi perawat yang kini semakin dibutuhkan di berbagai negara.
Di saat negara-negara maju menghadapi krisis tenaga kesehatan akibat meningkatnya populasi lansia dan menurunnya usia produktif, Indonesia justru memiliki pasokan sumber daya manusia yang besar. Kondisi ini membuka peluang bagi lulusan keperawatan Indonesia untuk bersaing di tingkat global, asalkan dibarengi dengan peningkatan kompetensi, pengalaman, dan kesiapan menghadapi standar internasional.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB), Dr. Kuswantoro Rusca Putra, S.Kp., M.Kep. menilai bonus demografi harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kualitas tenaga kesehatan Indonesia.
Baca juga:
Sindrom Turner Diam-Diam Hambat Pertumbuhan Anak Perempuan

Menurutnya, kebutuhan tenaga perawat di luar negeri saat ini terus meningkat, terutama di negara-negara maju seperti Jepang yang mengalami peningkatan jumlah lansia secara signifikan.
Krisis Perawat Dunia Jadi Peluang Besar
Kuswantoro menjelaskan banyak negara maju kini menghadapi persoalan serius terkait keterbatasan tenaga kesehatan produktif. Sementara itu, kebutuhan pelayanan kesehatan untuk lansia justru semakin tinggi setiap tahun.
“Kalau di negara maju itu jumlah lansianya lebih banyak dibanding usia produktif. Sedangkan di Indonesia justru usia produktifnya lebih besar. Ini menjadi peluang bagi kita,” ujarnya dalam wawancara eksklusif Kanal24, Kamis (7/5/2026).
Ia menilai kondisi tersebut membuka kesempatan besar bagi lulusan keperawatan Indonesia untuk bekerja di luar negeri, terutama karena kebutuhan tenaga perawat global saat ini terus meningkat.
Selain peluang internasional, kebutuhan tenaga kesehatan di dalam negeri juga masih sangat besar. Hal itu terlihat dari pertumbuhan rumah sakit yang terus meningkat setiap tahun.
“Jumlah rumah sakit semakin banyak berdiri. Itu artinya kebutuhan tenaga perawat juga semakin tinggi,” katanya.
FIKES UB Perkuat Kompetensi Mahasiswa
Untuk menjawab tantangan tersebut, FIKES UB terus melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas lulusan, mulai dari kerja sama internasional, program magang, hingga pelatihan tambahan yang sesuai dengan kebutuhan industri kesehatan.
Salah satu program yang dijalankan adalah magang luar negeri, termasuk ke Jepang. Namun, program tersebut tidak bisa diikuti semua mahasiswa karena terdapat persyaratan tertentu, terutama kemampuan bahasa dan kesiapan akademik.
“Ada seleksi dan syarat tertentu untuk magang ke luar negeri, terutama kemampuan bahasa. Jadi memang mahasiswa yang memenuhi syarat yang bisa ikut,” jelasnya.
Selain itu, FIKES UB juga aktif mendorong mahasiswa mengikuti program magang dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Program tersebut dinilai membantu mahasiswa memperoleh pengalaman kerja sebelum benar-benar masuk ke dunia profesional.
Menurut Kuswantoro, banyak mahasiswa FIKES UB yang berhasil mendapatkan kesempatan magang di rumah sakit besar, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta.
Program Magang Dinilai Sangat Membantu
Ia menjelaskan sebagian besar mahasiswa yang mengikuti program magang Kemenaker merupakan mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan sedang atau telah menjalani profesi nurse.
Program tersebut menjadi solusi bagi mahasiswa yang sedang menunggu jadwal ujian kompetensi nasional, sehingga waktu jeda setelah profesi tetap bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman kerja.
“Program magang Kemenaker ini sangat membantu mahasiswa karena selain mendapatkan pengalaman kerja di rumah sakit, mereka juga mendapatkan insentif,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman tambahan tersebut menjadi nilai penting bagi lulusan keperawatan karena banyak rumah sakit kini mensyaratkan pengalaman kerja maupun sertifikasi tambahan saat proses rekrutmen.
Sertifikasi Tambahan Jadi Nilai Plus
Kuswantoro mengatakan rumah sakit saat ini tidak hanya melihat ijazah profesi, tetapi juga pengalaman pelatihan dan sertifikasi pendukung.
Karena itu, FIKES UB mulai memperkuat berbagai pelatihan tambahan seperti BTCLS dan sertifikasi kompetensi lain yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Rumah sakit biasanya meminta sertifikat pelatihan tambahan. Maka kami antisipasi dengan berbagai pelatihan agar lulusan punya nilai lebih,” katanya.
Ia berharap lulusan FIKES UB tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan industri kesehatan yang semakin kompetitif, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pemerintah Dinilai Mulai Lindungi Perawat Lokal
Di sisi lain, Kuswantoro menilai pemerintah mulai menunjukkan keberpihakan terhadap tenaga kesehatan lokal melalui berbagai regulasi, termasuk pembatasan tenaga kesehatan asing yang bekerja di Indonesia.
Menurutnya, tenaga kesehatan asing yang dapat bekerja di Indonesia minimal harus memiliki kualifikasi spesialis, magister, atau doktor.
“Tujuannya bukan menggantikan tenaga kesehatan Indonesia, tetapi lebih kepada transfer teknologi dan transfer pengetahuan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pembangunan Bali International Hospital sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional agar masyarakat Indonesia tidak lagi bergantung pada layanan kesehatan luar negeri seperti Singapura atau Malaysia. (nid)













