Kanal24, Malang – Transformasi digital di pedesaan tidak cukup dilakukan melalui program pengabdian yang bersifat sementara. Untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) mengubah arah pelaksanaan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) dengan menjadikan 57 desa di Kabupaten Blitar sebagai desa binaan dalam beberapa tahun ke depan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pelepasan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) FILKOM UB 2026 yang digelar di Auditorium Algoritma Gedung G2 FILKOM UB, Sabtu (4/7/2026). Program ini mengusung tema “IT for Better Life”, yang menitikberatkan pemanfaatan teknologi informasi untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat desa.
Dekan FILKOM UB, Prof. Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM, mengatakan perubahan lokasi pengabdian dari Kabupaten Malang ke Kabupaten Blitar bukan sekadar perpindahan wilayah, tetapi bagian dari strategi membangun ekosistem pengabdian yang berkesinambungan.
Baca juga:
FISIP UB Dorong Transformasi Digital Desa Ngabab untuk Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Lokal

“Kami sudah mengevaluasi pelaksanaan MMD sebelumnya. Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah keberlanjutan program. Karena itu mulai tahun ini kami fokus di Kabupaten Blitar dan ingin menjadikannya sebagai desa binaan untuk beberapa tahun ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, FILKOM UB telah menjalin komunikasi awal dengan Pemerintah Kabupaten Blitar dan akan membahas langkah kolaborasi lebih lanjut agar pendampingan desa tidak berhenti setelah program MMD selesai.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya ditugaskan menjalankan program kerja selama berada di desa, tetapi juga diharapkan menghasilkan solusi digital yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat.
Prof. Tri menjelaskan, teknologi yang dikembangkan nantinya disesuaikan dengan persoalan yang benar-benar dihadapi desa. Karena itu mahasiswa diwajibkan melakukan identifikasi kebutuhan sebelum merancang solusi.
“Mahasiswa tidak boleh datang membawa solusi yang sudah jadi. Mereka harus memahami dulu persoalan yang dihadapi masyarakat, baru kemudian menghadirkan inovasi berbasis teknologi yang benar-benar dibutuhkan,” katanya.
Berbagai inovasi yang dihasilkan dapat berupa aplikasi pelayanan pemerintahan desa, digitalisasi administrasi, website promosi UMKM, hingga sistem informasi yang mendukung sektor pendidikan maupun kesehatan.
Ia menegaskan transformasi digital harus mampu menjangkau masyarakat desa, bukan hanya berkembang di wilayah perkotaan.
“Teknologi informasi harus memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat desa sehingga pelayanan menjadi lebih efektif, efisien, sekaligus mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Ketua Pelaksana MMD FILKOM UB 2026, Hariz Farisi, S.Kom., M.T., mengatakan seluruh program yang dijalankan mahasiswa nantinya disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing desa. Karena itu, peserta didorong melakukan pemetaan persoalan sejak awal sebelum menentukan solusi berbasis teknologi.
“Setiap desa memiliki tantangan yang berbeda. Mahasiswa akan melakukan identifikasi kebutuhan terlebih dahulu agar solusi yang dihasilkan benar-benar relevan dan dapat dimanfaatkan masyarakat setelah program MMD selesai,” ujarnya.
Hariz menambahkan, hasil pengabdian mahasiswa tidak terbatas pada pengembangan aplikasi. Berbagai luaran dapat berupa sistem administrasi pemerintahan desa, digitalisasi layanan publik, website promosi UMKM, hingga inovasi digital lain yang mendukung pendidikan maupun kesehatan sesuai kebutuhan di lapangan.
Selain memperkuat keberlanjutan program, FILKOM UB juga memastikan aspek keselamatan mahasiswa selama menjalankan pengabdian melalui kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan. Perlindungan tersebut diberikan selama dua bulan untuk mengantisipasi risiko kecelakaan selama mahasiswa menjalankan kegiatan di lapangan.
Dengan pendekatan baru ini, FILKOM UB berharap MMD tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi program pendampingan desa yang mampu menciptakan transformasi digital secara berkelanjutan di Kabupaten Blitar. (nid)














