Kanal24, Malang – Kekhawatiran tentang artificial intelligence (AI) yang akan menggantikan pekerjaan manusia semakin sering muncul dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi generatif kini mampu membuat desain, ilustrasi, video, hingga presentasi hanya dalam hitungan detik. Di tengah perubahan itu, banyak anak muda mulai bertanya: apakah industri kreatif masih membutuhkan manusia?
Bagi Founder dan CEO FXMedia Singapore, Hoon Leong Mark Wong, jawabannya justru sebaliknya. Menurutnya, di tengah ledakan AI, industri tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir kreatif, membangun konsep, dan memahami kebutuhan orang lain.

“AI hanyalah alat bantu, sehingga industri tetap membutuhkan talenta nyata untuk mengerjakan pekerjaan kreatif sesungguhnya,” ujarnya saat menjadi pemateri dalam Seminar Industri Design Management Summit: Crafting the Future yang digelar Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), Rabu (20/5/2026).
Seminar yang berlangsung di Auditorium Medcom UB itu membahas perubahan besar industri kreatif di era digital, mulai dari perkembangan immersive technology, virtual reality, hingga tantangan dunia kerja global yang semakin kompetitif.
Bagi Wong, perubahan teknologi memang tidak bisa dihindari. Namun menurutnya, AI tetap membutuhkan manusia untuk melahirkan ide dan arah kreatif.
AI Bisa Membantu, Tapi Kreativitas Tetap Dicari
FXMedia Singapore dikenal sebagai perusahaan industri kreatif berbasis teknologi digital, immersive technology, virtual reality, hingga pengembangan pengalaman interaktif.
Perusahaan tersebut telah bekerja sama dengan Fakultas Vokasi UB sejak 2021 dan beberapa alumni UB bahkan telah direkrut menjadi staf profesional di perusahaan mereka.
“Kami sudah merekrut staf penuh waktu dari UB dan performanya sangat baik,” kata Wong.
Menurutnya, perkembangan AI justru membuat kebutuhan terhadap talenta kreatif semakin penting. Sebab teknologi tetap memerlukan manusia untuk menyusun konsep, membaca kebutuhan pengguna, hingga membangun pengalaman yang relevan secara emosional.
Wong menilai masa depan industri kreatif tidak akan berhenti pada layar digital semata. Saat ini, industri mulai bergerak menuju pengalaman fisik berbasis teknologi seperti robotics, immersive technology, hingga physical AI.
“Output berbasis layar sekarang semakin mudah dibuat. Karena itu kita perlu menciptakan sesuatu yang tidak hanya ada di layar, tetapi juga hadir di dunia fisik,” ujarnya.
Karena itu, ia melihat peluang besar bagi talenta muda Indonesia untuk berkembang di sektor industri kreatif digital yang terus berubah cepat.
Dunia Kerja Global Tidak Lagi Punya Batas Negara
Dalam sesi diskusi bersama mahasiswa, Wong beberapa kali menekankan bahwa dunia kerja digital saat ini tidak lagi dibatasi lokasi geografis.
Menurutnya, seseorang bisa bekerja untuk perusahaan mana pun di dunia selama memiliki kompetensi dan kemampuan komunikasi yang baik.
“Pekerjaan digital saat ini bisa dilakukan secara global, regional, atau dari mana saja di dunia,” katanya.
Namun di balik peluang besar tersebut, Wong menyebut tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan beradaptasi dengan budaya kerja lintas negara.
Ia menilai banyak anak muda memiliki kemampuan teknis yang baik, tetapi belum tentu siap menghadapi dinamika komunikasi global.
“Kemampuan bahasa menjadi hal penting agar bisa berkomunikasi dengan baik bersama klien,” ujarnya.
Selain kemampuan komunikasi, Wong juga menyoroti pentingnya kemampuan memahami risiko proyek, membaca karakter tim, mengatur prioritas pekerjaan, hingga menjaga ekspektasi klien.
Menurutnya, proyek internasional sering kali gagal bukan karena kemampuan teknis yang buruk, tetapi karena ketidakmampuan memahami cara kerja dan budaya negara lain.
“Apa yang dianggap baik atau tepat di satu negara bisa saja berbeda di negara lain,” katanya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka menghadapi perubahan dan perkembangan teknologi baru.
“Kita harus tetap berpikiran terbuka,” ujarnya.
Talenta Kreatif Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Di tengah persaingan global industri kreatif, Wong melihat Indonesia memiliki potensi besar, terutama dari talenta muda yang dinilai cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ia bahkan mengungkapkan FXMedia tengah mempertimbangkan ekspansi operasional di Malang untuk mencari lebih banyak talenta kreatif dari Indonesia.
Bagi Wong, kampus memiliki peran penting dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Karena itu, ia menilai kolaborasi industri dan perguruan tinggi menjadi langkah penting agar mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami kebutuhan dunia profesional sejak dini.
Di tengah perkembangan AI yang terus bergerak cepat, seminar tersebut memperlihatkan satu hal penting: teknologi mungkin bisa membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi kreativitas, cara berpikir, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi hal yang paling dicari industri.
Sebab pada akhirnya, ide besar tetap lahir dari manusia yang mampu melihat sesuatu lebih jauh dibanding mesin.(Din/Cay)













