Kanal24, Malang – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa membuat kemampuan beradaptasi terhadap teknologi menjadi semakin penting. Kehadiran AI tidak hanya menawarkan kemudahan dalam menyelesaikan berbagai aktivitas akademik, tetapi juga menuntut mahasiswa memahami cara memanfaatkannya secara tepat agar teknologi tidak menggantikan peran manusia.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Muhammad Alfarizi, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) yang terpilih sebagai Google Student Ambassador 2025. Dalam program Let’s Talk, Alfarizi membagikan pengalamannya menjalani satu periode sebagai bagian dari program Google sekaligus pandangannya mengenai pemanfaatan teknologi digital di kalangan mahasiswa.
Baca juga:
8 Mahasiswa Internasional Mulai Kenali Indonesia Lewat BIPA UB
Google Student Ambassador Jadi Jembatan Google dan Mahasiswa
Google Student Ambassador merupakan program yang dibuat Google dan terbuka bagi mahasiswa di Indonesia. Menurut Alfarizi, program tersebut berperan sebagai perpanjangan tangan Google untuk memperkenalkan sekaligus mendorong pemanfaatan berbagai perangkat dan aplikasi Google di lingkungan mahasiswa.

Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah penggunaan AI. Menurutnya, mahasiswa saat ini semakin sering memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan, termasuk aktivitas perkuliahan. Namun, penggunaan teknologi tersebut seharusnya tidak berhenti pada aktivitas meminta jawaban kemudian menyalinnya secara langsung.
AI, kata Alfarizi, semestinya ditempatkan sebagai alat bantu. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari jurnal, menggali informasi, maupun mendukung proses pengerjaan tugas, tetapi tidak menggantikan fungsi manusia dalam berpikir dan mengolah informasi.
Pemahaman tersebut kemudian ia sebarkan melalui berbagai konten edukasi di media sosial. Alfarizi memilih Instagram, TikTok, dan YouTube sebagai sarana untuk menyampaikan informasi mengenai pemanfaatan teknologi secara lebih bijak kepada mahasiswa.
Menariknya, latar belakang Alfarizi dari bidang ilmu sosial tidak menjadi hambatan untuk terlibat dalam program yang berkaitan erat dengan teknologi. Ia melihat adanya hubungan kuat antara ilmu sosial dan perkembangan teknologi digital, terutama karena interaksi manusia kini tidak hanya berlangsung di dunia nyata, tetapi juga melalui ruang digital.
Seleksi Kompetitif hingga Terpilih sebagai Ambassador
Perjalanan Alfarizi menjadi Google Student Ambassador tidak berlangsung secara instan. Ia harus melewati sejumlah tahapan seleksi yang diikuti mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Tahap awal dimulai dari proses administrasi dan penyampaian pendapat mengenai AI serta Google. Peserta yang lolos kemudian mengikuti tahapan berikutnya, termasuk membuat video mengenai penggunaan AI atau produk Google secara bijak serta menyampaikan rencana yang akan dilakukan apabila terpilih sebagai ambassador.
Dari proses tersebut, Alfarizi akhirnya berhasil masuk dalam jajaran Google Student Ambassador 2025. Ia memperkirakan jumlah peserta pada tahap awal mencapai ribuan, sementara jumlah yang akhirnya terpilih berada di kisaran 100 hingga 200 orang.
Selama menjalankan perannya, setiap ambassador memiliki kebebasan menentukan bentuk kontribusi masing-masing. Ada yang menggelar seminar dan workshop, berkolaborasi dengan ambassador dari kampus lain, hingga membuat konten edukasi digital.
Google juga memberikan apresiasi terhadap ambassador yang dinilai aktif dan memberikan dampak. Dukungan tersebut dapat berupa bantuan untuk menjalankan program maupun berbagai bentuk penghargaan. Pada akhir periode, para ambassador mendapatkan sertifikat dan plakat sebagai bentuk apresiasi.
Bagi Alfarizi, pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memperoleh pengalaman baru sejak awal masa perkuliahan. Ia bahkan memilih mengikuti program tersebut atas inisiatif pribadi, dengan dukungan teman dan keluarga.
Adaptif dan Berani Mencoba Jadi Kunci Anak Muda
Pengalaman sebagai Google Student Ambassador membuat Alfarizi melihat kemampuan adaptasi sebagai salah satu keterampilan penting bagi mahasiswa saat ini. Perubahan teknologi berlangsung cepat sehingga mahasiswa perlu terus memperbarui pengetahuan dan mampu memilah sisi positif maupun negatif dari perkembangan digital.
Ia juga menilai kekhawatiran bahwa teknologi dan AI akan sepenuhnya menggantikan manusia perlu disikapi dengan bijak. Menurutnya, generasi muda memiliki peran untuk membantu masyarakat, termasuk generasi yang lebih dewasa, memahami manfaat teknologi digital.
Selain menjadi Google Student Ambassador, Alfarizi juga aktif sebagai Duta Kampus Putra-Putri Brawijaya. Di tengah berbagai aktivitas tersebut, ia menerapkan daftar kegiatan dan skala prioritas untuk mengatur waktu. Baginya, kegiatan organisasi dan pengembangan diri tetap harus berjalan tanpa mengesampingkan akademik sebagai tujuan utama kuliah.
Pengalaman tersebut juga tidak lepas dari kegagalan. Sebelum berhasil mendapatkan berbagai kesempatan, Alfarizi mengaku pernah mengalami sejumlah penolakan ketika mencoba berbagai program sejak SMA, termasuk kegagalan dalam jalur masuk perguruan tinggi negeri.
Namun, pengalaman tersebut justru membentuk cara pandangnya terhadap kegagalan. Ia meyakini kegagalan dalam satu kesempatan bukan berarti seluruh jalan tertutup. Bisa jadi, kegagalan justru membuka kesempatan lain yang lebih sesuai dengan minat dan kemampuan.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak terlalu takut mencoba hal baru. Menurutnya, keberanian mencoba akan membantu seseorang mengetahui batas kemampuan dirinya sekaligus menemukan peluang yang mungkin sebelumnya tidak terlihat.
Bagi Alfarizi, mimpi juga perlu dipelihara karena dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Ia berharap dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang dapat terus berkembang, sukses, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial di sekitarnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan yang telah dilaluinya. Bagi mahasiswa, perkembangan teknologi bukan hanya soal kemampuan menggunakan perangkat digital, tetapi juga bagaimana tetap berpikir kritis, adaptif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkannya.(ffn)













