Kanal24, Malang – Pergantian Menteri Keuangan menjadi perhatian karena posisi tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mengarahkan kebijakan fiskal, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Perubahan di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan ekonomi yang akan ditempuh ke depan.
Presiden Prabowo Subianto resmi mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai penggantinya pada Senin (14/9/2026). Keputusan tersebut menjadi sorotan karena Suahasil merupakan sosok yang telah lama berada di lingkungan Kementerian Keuangan dan sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pergantian ini juga mendapat perhatian media asing karena terjadi ketika pemerintah menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan disiplin fiskal.
Baca juga:
Bahlil Ungkap Kendaraan Bertangki 1 Ton untuk Isi BBM Subsidi
Suahasil Jadi Menkeu Ketiga di Era Prabowo
Penunjukan Suahasil membuatnya menjadi Menteri Keuangan ketiga sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden. Pergantian tersebut menunjukkan bahwa posisi Menteri Keuangan mengalami perubahan cukup cepat dalam periode awal pemerintahan Prabowo.
Sebelum Suahasil, posisi tersebut ditempati Purbaya Yudhi Sadewa yang menggantikan Sri Mulyani Indrawati pada September 2025. Purbaya kemudian hanya sekitar satu tahun menjalankan tugas sebagai Menteri Keuangan sebelum akhirnya digantikan.
Berbeda dengan Purbaya yang dikenal memiliki gaya komunikasi lebih terbuka dan kerap menyampaikan pandangan ekonomi secara langsung, Suahasil memiliki rekam jejak panjang sebagai teknokrat di lingkungan Kementerian Keuangan.
Suahasil sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Ia juga pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. Pengalaman tersebut membuatnya cukup memahami mekanisme penyusunan kebijakan fiskal, pengelolaan APBN, hingga hubungan antara pemerintah dan lembaga keuangan.
Latar belakang tersebut dinilai menjadi salah satu modal penting bagi Suahasil untuk langsung bekerja menghadapi berbagai persoalan fiskal.
Purbaya Pergi Setelah Setahun Menjabat
Purbaya Yudhi Sadewa resmi menjadi Menteri Keuangan pada September 2025. Selama masa kepemimpinannya, pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan likuiditas dan pembiayaan.
Di sisi lain, periode tersebut juga diwarnai sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan kondisi fiskal dan meningkatnya perhatian investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Sejumlah media internasional menyoroti bahwa selama masa Purbaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada level yang kuat. Namun, pemerintah juga menghadapi persoalan berupa pelebaran defisit anggaran serta perubahan outlook peringkat kredit Indonesia dari sejumlah lembaga pemeringkat.
Gaya Purbaya yang relatif vokal juga menjadi perhatian. Beberapa kebijakannya, termasuk langkah untuk mendorong likuiditas ke sektor perbankan, sempat memunculkan perbedaan pandangan mengenai koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Meski berbagai persoalan tersebut menjadi konteks yang mengiringi pergantian Menteri Keuangan, pemerintah tidak menyampaikan satu alasan spesifik yang secara resmi disebut sebagai penyebab Purbaya diberhentikan.
Purbaya sendiri mengaku kecewa dengan pergantian tersebut. Ia menyebut dirinya menerima informasi mengenai pencopotan melalui telepon dari pihak Istana, meski di sisi lain mengaku sudah memperkirakan kemungkinan tersebut.
Suahasil Hadapi Tantangan Fiskal dan Kepercayaan Pasar
Tugas Suahasil tidak ringan. Salah satu pekerjaan utama yang harus segera dihadapi adalah menjaga APBN tetap sehat dan kredibel di tengah kebutuhan pemerintah untuk membiayai berbagai program prioritas.
Pemerintah harus memastikan defisit anggaran tetap berada dalam batas maksimal 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) sesuai ketentuan. Pada saat yang sama, pemerintah juga dituntut menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap kuat.
Keseimbangan tersebut menjadi penting karena kebijakan fiskal yang terlalu ketat dapat membatasi ruang pemerintah dalam mendorong pertumbuhan. Sebaliknya, ekspansi fiskal yang terlalu agresif dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi anggaran dan keberlanjutan utang.
Selain persoalan APBN, Suahasil juga perlu memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, serta lembaga pengelola investasi negara. Koordinasi antarlembaga menjadi semakin penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ketika kondisi global masih menghadirkan ketidakpastian.
Pengalaman panjang Suahasil di Kementerian Keuangan diharapkan dapat memberikan kesinambungan dalam pengelolaan kebijakan fiskal. Kehadirannya juga dipandang berpotensi memberikan sinyal yang lebih menenangkan bagi investor karena ia bukan figur baru dalam pengelolaan keuangan negara.
Pergantian Menteri Keuangan akhirnya bukan sekadar pergantian figur. Di balik keputusan tersebut terdapat tantangan besar untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesehatan APBN, stabilitas pasar, dan kepercayaan masyarakat maupun investor.
Dengan latar belakang teknokrat dan pengalaman panjang di bidang fiskal, Suahasil kini dituntut membuktikan bahwa pergantian tersebut mampu menghadirkan pengelolaan keuangan negara yang lebih solid sekaligus mendukung agenda pembangunan pemerintahan Prabowo.(ffn)













