Kanal24, Malang – Google Translate kini menjadi salah satu layanan penerjemah daring paling populer di dunia. Di balik kesuksesan tersebut, ada proses panjang yang melibatkan berbagai riset sejak awal 1950-an hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini.
Kisah bermula dari kejadian sederhana yang dialami Sergey Brin, salah satu pendiri Google. Suatu hari, Brin menerima surat dari penggemar di Korea, namun ia tidak memahami isinya. Saat mencoba menerjemahkan dengan mesin penerjemah yang ada kala itu, hasilnya justru membingungkan: āThe sliced raw fish shoes it wishes. Google green onion thing!ā Dari pengalaman inilah muncul ide untuk mengembangkan mesin penerjemah yang benar-benar mampu memahami konteks bahasa manusia.
Dari Penelitian Awal hingga Google Translate
Cikal bakal mesin penerjemah otomatis sudah dimulai sejak tahun 1951 di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Peneliti di sana mencoba membuat sistem penerjemah bilingual sederhana. Tidak lama kemudian, tim dari Georgetown University berhasil menciptakan mesin yang dapat menerjemahkan teks secara otomatis meskipun masih bekerja secara terbatas seperti kamus digital.

Gagasan yang lebih matang muncul pada 1949 melalui tulisan Warren Weaver berjudul Translation. Weaver memperkenalkan ide untuk menggunakan model statistik dalam penerjemahan agar mesin dapat memahami pola bahasa. Ide ini kemudian menginspirasi pengembangan teknologi penerjemah di dekade berikutnya. Frederick Jelinek dari IBM menjadi tokoh penting pada 1990-an dengan mengembangkan penerjemahan berbasis statistik. Pemikiran Jelinek inilah yang akhirnya diadopsi oleh Google ketika meluncurkan Google Translate pada 2006.
Google Translate dan Lompatan Teknologi
Pada awal kemunculannya, Google Translate menggunakan sistem bernama SYSTRAN, yang juga digunakan oleh Yahoo dan AOL. Sistem ini bekerja dengan mencocokkan kata berdasarkan kamus digital. Namun, pada 2007 Google beralih menggunakan algoritma berbasis pemodelan statistik untuk meningkatkan akurasi.
Langkah besar terjadi pada 2016 ketika Google memperkenalkan teknologi baru bernama Google Neural Machine Translation (GNMT). Sistem ini menggunakan jaringan saraf buatan yang bekerja mirip otak manusia. GNMT tidak lagi menerjemahkan kata per kata, melainkan memahami keseluruhan konteks kalimat. Dalam laporan riset Google berjudul āGoogleās Neural Machine Translation System: Bridging the Gap between Human and Machine Translationā, sistem GNMT terbukti meningkatkan akurasi terjemahan hingga 60 persen dibanding versi sebelumnya. Penerjemahan bahasa Inggris ke Spanyol, misalnya, mencapai indeks akurasi 5,43, hanya sedikit di bawah hasil terjemahan manusia yang berada di angka 5,5.
Era Baru dengan Pixel Buds
Pada 2017, Google memperluas kemampuan Translate melalui perangkat Google Pixel Buds, earbuds pintar yang dapat menerjemahkan percakapan hingga 40 bahasa secara langsung. Perangkat ini memanfaatkan sistem GNMT sebagai inti penerjemahan, menghadirkan pengalaman komunikasi lintas bahasa secara real time. Meski Pixel Buds hanya berfungsi sebagai alat bantu, kemampuan Google Translate menjadi faktor utama yang memungkinkan fitur tersebut bekerja dengan baik. Berdasarkan data dari blog resmi Google, layanan ini telah digunakan oleh lebih dari 500 juta pengguna di seluruh dunia dengan lebih dari 100 miliar kata diterjemahkan setiap harinya.
Bahasa Inggris Masih Mendominasi
Bahasa Inggris tetap menjadi bahasa paling dominan dalam proses penerjemahan. Laporan Power Language Index oleh Kai L. Chan menyebutkan bahwa dari sekitar 2.000 bahasa di dunia, bahasa Inggris menempati posisi pertama, diikuti Mandarin, Prancis, Spanyol, Arab, dan Rusia. Hal ini sejalan dengan data Google Translate yang menunjukkan bahwa kombinasi penerjemahan paling banyak adalah dari bahasa Inggris ke Spanyol, Arab, Rusia, Portugis, dan Indonesia.
Meski demikian, layanan seperti Google Translate juga membuka peluang bagi bahasa-bahasa daerah dan minoritas untuk lebih dikenal di ruang digital. Dengan semakin banyaknya pengguna yang menerjemahkan teks dari bahasa lokal, pelestarian bahasa pun ikut terbantu.
Menuju Masa Depan Penerjemahan
Perkembangan teknologi penerjemah menunjukkan bahwa komunikasi antar bahasa kini semakin mudah dijangkau. Namun, masih ada tantangan besar: menjaga makna budaya dan nuansa lokal agar tidak hilang dalam proses otomatisasi. Google Translate terus mengembangkan sistem berbasis AI untuk mencapai hasil yang lebih natural. Dengan integrasi teknologi seperti Pixel Buds, masa depan penerjemahan tampak semakin dekat dengan realitas percakapan tanpa batas bahasa. Dari surat berbahasa Korea yang tak bisa dipahami Sergey Brin hingga sistem penerjemah berbasis neural engine, perjalanan panjang ini menjadi bukti bagaimana teknologi dapat mengubah cara manusia berkomunikasi dan memahami dunia.(tia)










