Kanal24, Malang – Hambatan komunikasi masih menjadi tantangan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi, terutama bagi mahasiswa tuli. Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini dikembangkan untuk membantu menciptakan ruang belajar yang lebih inklusif melalui VERO (Voice Recognition and Openness), Learning Management System (LMS) yang dikembangkan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Brawijaya.
VERO memasuki tahap uji coba di Universitas Negeri Malang pada Senin (3/8/2026). Uji coba ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas, kemudahan penggunaan, serta kebermanfaatan sistem dalam mendukung pembelajaran inklusif bagi mahasiswa tuli dan teman dengar.
Teknologi untuk Mengurangi Hambatan Komunikasi
VERO dirancang sebagai platform pembelajaran digital berbasis AI yang ditujukan untuk mengurangi hambatan komunikasi di lingkungan perguruan tinggi.
Sistem ini memiliki sejumlah fitur pendukung pembelajaran, antara lain speech-to-text, text-to-speech, digital whiteboard, serta ruang diskusi daring. Fitur tersebut memungkinkan mahasiswa tuli, mahasiswa dengar, dan dosen berinteraksi dalam ruang pembelajaran yang lebih inklusif.

Pengembangan VERO menempatkan kebutuhan komunikasi pengguna sebagai bagian penting dari teknologi pembelajaran. Karena itu, pengujian sistem tidak berhenti pada bagaimana fitur dapat digunakan, tetapi juga melihat apakah teknologi tersebut benar-benar membantu proses belajar.
Uji Coba Melibatkan Pengguna Langsung
Dalam uji coba di Universitas Negeri Malang, peserta mencoba secara langsung berbagai fitur VERO melalui simulasi aktivitas pembelajaran.
Peserta kemudian memberikan evaluasi melalui kuesioner dan sesi diskusi. Masukan tersebut digunakan tim pengembang untuk mengidentifikasi aspek teknis yang masih perlu diperbaiki sekaligus menilai kesesuaian sistem dengan kebutuhan pengguna.
Salah satu peserta uji coba, Raina Anaira, mahasiswa teman tuli dari Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang, menilai VERO memiliki potensi untuk mendukung pembelajaran yang lebih inklusif.
Menurut Raina, VERO dapat membantu mengurangi hambatan komunikasi yang selama ini dihadapi mahasiswa tuli dalam proses pembelajaran. Namun, ia juga memberikan catatan terhadap kecepatan respons AI dalam mendeteksi bahasa isyarat.
“VERO memiliki potensi untuk mendukung pembelajaran yang lebih inklusif. Namun, masih terdapat hambatan pada respons sistem sehingga gerakan isyarat belum dapat terdeteksi secara cepat. Ke depan, saya berharap kecepatan respons AI dapat terus ditingkatkan agar proses pembelajaran menjadi lebih lancar,” ujar Raina.
Masukan Pengguna Menentukan Pengembangan Berikutnya
Masukan dari pengguna menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan VERO. Evaluasi yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk menemukan aspek teknis yang masih perlu ditingkatkan, tetapi juga untuk memastikan sistem semakin sesuai dengan kebutuhan pengguna dalam mendukung pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan mudah diakses.
Uji coba di Universitas Negeri Malang merupakan rangkaian lanjutan setelah sebelumnya VERO diuji coba di Universitas Brawijaya. Hasil dari kedua tahapan tersebut akan menjadi dasar penyempurnaan sistem sebelum tim melanjutkan pengembangan dan pengujian komponen VERO lainnya.
Proses pengembangan bertahap ini menjadi penting karena teknologi pembelajaran perlu terus disesuaikan dengan pengalaman dan kebutuhan penggunanya. Melalui evaluasi langsung, tim PKM-KC UB dapat memperoleh gambaran mengenai bagian sistem yang sudah berjalan dan aspek yang masih membutuhkan pengembangan.
Ke depan, Tim PKM-KC Universitas Brawijaya berharap VERO dapat berkembang sebagai solusi pembelajaran digital berbasis AI yang mendukung komunikasi antara mahasiswa tuli, mahasiswa dengar, dan dosen, sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif di Indonesia.
Pengembangan VERO juga sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendorong lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan dapat diakses oleh mahasiswa dengan kebutuhan komunikasi yang berbeda. Inisiatif ini sekaligus mendukung SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui upaya mengurangi hambatan komunikasi dalam pendidikan tinggi.
Pemanfaatan AI untuk menjawab kebutuhan pembelajaran inklusif tersebut memperkuat semangat UB Berdampak, ketika inovasi mahasiswa diarahkan untuk menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat bagi lingkungan pendidikan.(Din)














