Kanal24, Malang – Menjaga hutan kini bukan lagi sekadar soal melestarikan alam. Di Kalimantan Timur, pengelolaan hutan secara berkelanjutan justru menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Dalam lima bulan pertama 2026 saja, masyarakat sekitar kawasan hutan berhasil membukukan nilai transaksi ekonomi hingga Rp8,1 miliar melalui berbagai usaha berbasis perhutanan sosial.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan. Ketika hutan dikelola secara bijak, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM (P2SDM) Wilayah V, Elpa Rifadi, mengatakan berbagai aktivitas usaha kehutanan yang dikelola masyarakat kini berkembang menjadi penggerak ekonomi baru di kawasan hutan.
Baca juga:
Indonesia Targetkan Salip AS, Jadi Produsen Panas Bumi Terbesar Dunia pada 2030
Nilai transaksi tersebut berasal dari berbagai kelompok tani hutan yang tersebar di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, hingga Kota Balikpapan.
Di antara seluruh daerah tersebut, Kabupaten Berau menjadi kontributor terbesar dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp7,87 miliar. Angka tersebut ditopang oleh keberhasilan masyarakat mengelola hasil hutan dan komoditas lokal yang memiliki nilai jual tinggi.
Salah satu kisah sukses datang dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Sei Baruk Lestari yang mampu menghasilkan pendapatan miliaran rupiah melalui komoditas gubal gaharu. Keberhasilan ini membuktikan bahwa hasil hutan bukan kayu masih memiliki potensi ekonomi yang sangat besar apabila dikelola secara berkelanjutan.
Selain mengembangkan hasil hutan, masyarakat juga mulai memperluas usaha ke berbagai sektor bernilai tambah. Mulai dari budidaya madu kelulut, pengolahan biomassa, hingga sistem agroforestri berbasis kopi yang mampu memberikan sumber pendapatan baru.
Di kawasan perkotaan, sejumlah kelompok tani hutan bahkan berhasil mengembangkan kawasan konservasi menjadi destinasi wisata alam yang menarik minat pengunjung sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.
Menurut Elpa, potensi ekonomi dari perhutanan sosial masih sangat besar untuk terus dikembangkan. Karena itu, penguatan kapasitas kelompok tani, diversifikasi produk, hingga perluasan akses pasar akan terus didorong agar masyarakat semakin mandiri secara ekonomi.
Pendampingan penyuluh kehutanan juga menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan tersebut. Melalui pembinaan, kelompok tani memperoleh peningkatan kemampuan dalam pengelolaan usaha, pemasaran, hingga tata kelola administrasi sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pengelolaan hutan secara berkelanjutan tidak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga mampu menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, hutan tetap terjaga, sementara kesejahteraan warga di sekitarnya terus meningkat.














