Kanal24, Malang – Indonesia tak lagi sekadar ingin menjadi negara dengan cadangan panas bumi terbesar. Pemerintah kini membidik posisi sebagai produsen listrik panas bumi nomor satu di dunia pada 2030, menyalip Amerika Serikat melalui percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di berbagai daerah.
Ambisi tersebut disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seiring meningkatnya pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung target swasembada energi nasional dan transisi menuju energi bersih. Pemerintah menargetkan kapasitas terpasang PLTP Indonesia mencapai 4,1 hingga 4,4 gigawatt (GW) pada 2030.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin dunia dalam pemanfaatan energi panas bumi. Menurutnya, potensi yang dimiliki Indonesia masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga:
Permintaan AI Meledak, Transaksi Merger dan Akuisisi Global Ikut Melonjak
“Kami ingin panas bumi Indonesia menjadi nomor satu di dunia pada 2030,” ujarnya dalam agenda groundbreaking PLTP Dieng Unit 2 di Wonosobo, Jawa Tengah.
Potensi Besar, Pemanfaatan Masih Rendah
Indonesia memiliki potensi energi panas bumi sekitar 23,2 GW, namun hingga kini baru sekitar 11,8 persen yang berhasil dikembangkan menjadi pembangkit listrik.
Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE, Priatin Hadi Wijaya, menilai peningkatan kapasitas hingga 4,4 GW akan menjadi langkah penting agar Indonesia mampu melampaui Amerika Serikat sebagai negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia.
Selain meningkatkan pembangkit listrik, pemerintah juga tengah mengembangkan pemanfaatan langsung (direct use geothermal) agar energi panas bumi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan listrik, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sektor industri dan masyarakat.
PLTP Dieng Unit 2 Jadi Tambahan Energi Bersih
Salah satu proyek strategis yang kini mulai dibangun adalah PLTP Dieng Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Pembangkit tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2028 dan akan menambah pasokan listrik ramah lingkungan sekaligus memperkuat sistem kelistrikan nasional.
Menurut Eniya, proyek tersebut menjadi bukti nyata percepatan pengembangan energi bersih yang mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Dukung Swasembada Energi Nasional
Pemerintah menilai pengembangan panas bumi menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan swasembada energi. Dengan karakteristiknya yang mampu menghasilkan listrik selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca, panas bumi dinilai lebih stabil dibandingkan beberapa sumber energi terbarukan lainnya.
Selain memperkuat pasokan listrik nasional, peningkatan pemanfaatan panas bumi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, menekan emisi karbon, serta mempercepat target transisi energi Indonesia menuju bauran energi yang lebih bersih.














