Kanal24, Malang – Gedung rektorat yang biasanya tampak formal mendadak berubah menjadi ruang visual penuh cahaya, warna, dan proyeksi digital. Musik, animasi, dan permainan visual bergerak menyatu di depan ratusan pasang mata yang memenuhi kawasan kampus Universitas Brawijaya, Jumat malam (22/5/2026).
Melalui aktivasi Kemilau Cahaya Brawijaya yang dipresentasikan DIPA MediaArt bersama UB Medcom, Universitas Brawijaya mulai menunjukkan cara baru membangun komunikasi kampus: lebih visual, lebih dekat dengan generasi muda, dan lebih terbuka terhadap ruang kreativitas lintas disiplin.
Aktivasi media art tersebut menjadi bagian dari rangkaian besar program Green Campus dan penguatan branding global Universitas Brawijaya. Tidak hanya menghadirkan pertunjukan visual, acara ini juga membawa pesan tentang bagaimana kampus mulai bergerak mengikuti perubahan budaya komunikasi generasi digital.
Wakil Rektor UB Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Andi Kurniawan, mengatakan langkah tersebut sejalan dengan posisi Kota Malang yang telah ditetapkan sebagai bagian dari jejaring kota kreatif dunia UNESCO.
“Malang sudah ditetapkan menjadi Malang Creative City UNESCO dan tentu saja Universitas Brawijaya sebagai warga Kota Malang ikut berkontribusi,” ujarnya.
Menurutnya, kreativitas hari ini tidak cukup hanya hadir di ruang kelas atau diskusi formal, tetapi juga perlu diterjemahkan melalui medium yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Ide teman-teman ini keren pol. Ada kreativitas, ringan tapi berisi, bisa merangkul banyak mahasiswa dari berbagai generasi dan membuka ruang dialektika yang fresh,” katanya.

Dari Media Art ke Ruang Pendidikan Baru
Bagi UB, media art bukan sekadar pertunjukan visual atau hiburan malam kampus. Aktivasi tersebut dipandang sebagai pintu masuk membangun ekosistem kreativitas baru di lingkungan perguruan tinggi.
Andi menjelaskan tahap awal yang akan dilakukan UB adalah memperkuat kemampuan dan keterampilan mahasiswa di bidang media art melalui berbagai komunitas kreatif.
“Yang pasti begini, kita akan coba dulu bangun bersama teman-teman komunitas yang ada adalah kemampuan skills sekitar media art,” ujarnya.
Setelah itu, UB berencana membentuk komunitas media art yang melibatkan mahasiswa lintas disiplin sebagai ruang kolaborasi kreatif berbasis teknologi dan komunikasi visual.
“Begitu sudah ada ini akan kita perkuat dengan membentuk komunitas yang terdiri dari warga UB terutama mahasiswa,” katanya.
Menurut Andi, pendekatan tersebut penting karena generasi muda hari ini lebih mudah terhubung dengan pesan berbasis visual dan pengalaman langsung dibanding pola komunikasi konvensional.
Disiapkan untuk Global Leader
Lebih jauh, UB juga ingin membawa media art menjadi medium baru pendidikan kewarganegaraan dan penguatan perspektif global mahasiswa.
Andi mengatakan komunitas media art nantinya tidak hanya memproduksi karya visual, tetapi juga mengembangkan konten-konten yang berkaitan dengan civic literacy dan isu sosial dengan pendekatan yang lebih segar.

“Setelah komunitas terbentuk, kita akan memasukkan konten-konten terutama civic literacy, pendidikan kewarganegaraan dengan dimensi baru,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan seperti itu penting untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia global yang semakin terbuka dan kompetitif.
“Dan tentu saja mempersiapkan mereka dengan perspektif untuk menjadi global leader,” katanya.
Ia menilai media art menjadi salah satu pilihan cerdas untuk melengkapi proses pendidikan di Indonesia karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.
“Saya rasa ini adalah pilihan tepat, pilihan cerdas untuk bisa melengkapi proses pendidikan di Indonesia sehingga berkontribusi lebih real, berdampak lebih kuat,” ujarnya.
Aktivasi Kemilau Cahaya Brawijaya sendiri menjadi salah satu eksperimen baru UB dalam memadukan seni, teknologi, komunikasi visual, dan branding kampus dalam satu ruang pengalaman publik.
Di tengah perubahan cara generasi muda menikmati informasi, ruang-ruang kreatif seperti ini mulai menjadi cara baru kampus membangun keterlibatan, emosi, dan identitas bersama.
Sebab hari ini, kampus tidak lagi hanya bicara lewat ruang kuliah dan seminar, tetapi juga melalui cahaya, visual, dan pengalaman yang bisa dirasakan langsung.(Din)














