anal24, Malang – Inovasi pangan untuk mendukung pencegahan stunting terus dikembangkan kalangan akademisi. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB) menghadirkan Biskuit Vignita sebagai makanan tambahan siap saji yang dirancang khusus untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi balita sekaligus mendukung pertumbuhan optimal anak.
Produk tersebut dikembangkan berdasarkan hasil penelitian tim ahli gizi FIKES UB. Ketua Departemen Gizi FIKES UB, Dr. Nurul Muslihah, S.P., M.Kes., menjelaskan bahwa formulasi dan komposisi biskuit telah dipatenkan dan memenuhi spesifikasi ready to use supplementary food untuk pencegahan stunting.
Baca juga:
Alumni FIA UB Bongkar Luasnya Peluang Karier Mahasiswa

“Berdasarkan hasil penelitian kami, formulasi dan komposisinya sudah memenuhi spesifikasi ready to use supplementary food untuk pencegahan stunting,” ujarnya.
Nurul menjelaskan, Biskuit Vignita dirancang sebagai makanan tambahan praktis dengan kandungan gizi yang mendukung tumbuh kembang anak. Dalam satu sajian yang terdiri dari tiga biskuit, produk tersebut mengandung sekitar 150 kalori.
Selain itu, biskuit ini juga memiliki kandungan tinggi protein, tinggi lemak, dan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk membantu mendukung pertumbuhan balita.
Saat ini, pengembangan produk telah memasuki tahap uji daya terima masyarakat. Hasilnya, Biskuit Vignita dinilai dapat diterima dengan baik oleh calon konsumen.
Selain itu, tim peneliti juga telah melakukan analisis pasar terkait tingkat ketertarikan masyarakat dan potensi pembelian produk tersebut sebagai alternatif makanan tambahan bagi balita.
Nurul berharap inovasi tersebut dapat masuk ke tahap hilirisasi dan pemasaran melalui kerja sama dengan Universitas Brawijaya sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Menurutnya, Biskuit Vignita diharapkan menjadi salah satu alternatif intervensi makanan tambahan yang praktis dan bergizi untuk mendukung pertumbuhan anak sekaligus menekan angka stunting di Indonesia.
Pengembangan inovasi pangan seperti ini dinilai penting mengingat pencegahan stunting tidak hanya membutuhkan edukasi, tetapi juga dukungan produk pangan bergizi yang mudah diakses masyarakat. (nid/cay)













