Kanal24, Malang – Media sosial membuat kehidupan sehari-hari semakin mudah dibagikan kepada publik. Namun, di tengah budaya berbagi tersebut, sebagian Gen Z justru memilih memiliki ruang yang lebih kecil dan personal. Second account Instagram menjadi salah satu cara untuk menentukan siapa yang boleh melihat sisi kehidupan mereka di luar akun utama.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara Gen Z menggunakan media sosial. Jika akun utama kerap menjadi tempat menampilkan aktivitas terbaik dan membangun citra diri, akun kedua digunakan lebih santai untuk berbagi cerita, aktivitas sehari-hari, hingga hal-hal yang dianggap terlalu personal. Sejumlah penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa second account berkaitan dengan ekspresi diri, privasi, dan kenyamanan dalam berinteraksi dengan lingkaran pertemanan terbatas.
Baca Juga:
Benarkah Umur Membuat Kita Lebih Bijaksana?
Akun Kedua, Audiens Lebih Terbatas
Pada akun utama, pengguna biasanya lebih mempertimbangkan tampilan unggahan, jumlah interaksi, hingga bagaimana orang lain melihat dirinya. Setiap foto atau video bisa dipilih dengan pertimbangan tertentu karena audiensnya lebih luas.
Situasi berbeda terjadi pada second account. Pengguna dapat membuat akun privat dan menentukan sendiri siapa yang masuk ke dalam lingkaran pengikut. Cara ini membuat interaksi terasa lebih dekat karena konten hanya dibagikan kepada teman atau orang yang dianggap benar-benar dipercaya.
Fenomena tersebut bukan hal baru. Kanal24 sebelumnya juga pernah mengangkat penggunaan second account sebagai bagian dari cara anak muda mengatur identitas di media sosial. Dalam konteks personal branding, akun kedua bahkan dipandang sebagai ruang pribadi, sementara akun utama dapat diarahkan untuk kebutuhan yang lebih profesional.
Tempat Gen Z Lebih Apa Adanya
Kehadiran akun kedua juga tidak lepas dari kebutuhan Gen Z untuk tampil lebih autentik. Unggahan di akun ini biasanya tidak terlalu terpaku pada estetika atau pencitraan. Konten sederhana, foto aktivitas harian, lelucon, hingga cerita personal dapat muncul tanpa harus mengikuti standar akun utama.
Pola tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu digunakan untuk mencari perhatian sebanyak mungkin. Sebagian pengguna justru merasa lebih nyaman ketika jumlah audiens diperkecil. Dengan lingkaran yang lebih terbatas, mereka memiliki ruang untuk mengekspresikan diri tanpa terlalu memikirkan penilaian dari banyak orang.
Kondisi ini sejalan dengan fenomena yang lebih luas di kalangan Gen Z. Kanal24 juga menyoroti bagaimana media sosial dapat memengaruhi rasa percaya diri generasi muda melalui tekanan untuk memenuhi standar tertentu. Paparan terhadap kehidupan orang lain dapat mendorong perbandingan sosial dan membuat pengguna merasa perlu menampilkan versi terbaik dirinya.
Nyaman Bukan Berarti Tanpa Risiko
Meski terasa lebih privat, second account tetap memiliki risiko. Konten yang dibagikan kepada lingkaran kecil tetap dapat disimpan, di-screenshot, atau diteruskan kepada orang lain. Karena itu, membatasi pengikut tidak otomatis membuat seluruh informasi menjadi aman.
Pengguna tetap perlu mempertimbangkan jenis konten yang dibagikan dan siapa saja yang mendapat akses. Privasi digital bukan hanya soal menggunakan akun privat, tetapi juga memahami bahwa setiap unggahan memiliki potensi meninggalkan jejak.
Pada akhirnya, second account memperlihatkan bagaimana Gen Z sedang mencari keseimbangan antara tampil di ruang publik dan memiliki ruang pribadi. Bagi sebagian anak muda, akun kedua bukan sekadar akun cadangan, melainkan zona nyaman untuk menjadi diri sendiri tanpa tuntutan harus selalu terlihat sempurna.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa semakin luas ruang digital, semakin penting bagi pengguna untuk menentukan batas. Gen Z tidak selalu membutuhkan lebih banyak penonton. Dalam beberapa situasi, mereka justru membutuhkan ruang yang lebih kecil, lebih dekat, dan terasa lebih aman untuk menjadi diri sendiri. (ndr)













