Kanal24, Malang – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, bukan hanya di medan geopolitik, tetapi juga dalam perang narasi yang berdampak langsung pada ekonomi global. Di tengah situasi ini, Selat Hormuz muncul sebagai episentrum strategis yang menentukan arah konflik sekaligus stabilitas energi dunia.
Pakar Timur Tengah sekaligus Koordinator Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya, Dr. Syed Abdullah Yahya Ibrahim S.Sos., M.Hub.Int., mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari permainan persepsi yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Dalam analisisnya, narasi yang dibangun Washington justru memperkeruh situasi dan memperlemah kepercayaan global terhadap kepemimpinan mereka.
Baca juga:
Geopolitik Memanas, Forum Global Soroti Dampaknya

Perang Narasi dan Dampak ke Harga Energi
Menurut pengamat hubungan internasional UB, Abdullah Assegaf, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump активно memainkan “perang narasi” melalui pernyataan publik, terutama di media sosial. Pernyataan-pernyataan tersebut kerap memberi kesan bahwa Iran telah tunduk pada tekanan AS, meski faktanya tidak demikian.
Narasi ini dinilai bukan sekadar propaganda politik, tetapi juga berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi. Fluktuasi harga minyak global yang terjadi belakangan disebut sebagai dampak langsung dari manipulasi persepsi pasar energi. Kondisi ini turut berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Alih-alih meredakan konflik, langkah AS yang terus mengedepankan tekanan dan blokade justru dinilai memperburuk situasi. Kredibilitas Washington di mata dunia pun disebut terus menurun karena dianggap lebih banyak menciptakan ketidakpastian dibanding solusi.
Selat Hormuz: Kendali, Bukan Penutupan
Salah satu isu paling krusial dalam konflik ini adalah status Selat Hormuz. Abdullah menegaskan bahwa Iran tidak benar-benar menutup jalur vital tersebut, melainkan mengambil alih kendali navigasi sebagai langkah defensif.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit dengan lebar sekitar 20 mil, yang berbatasan langsung dengan wilayah kedaulatan Iran. Dalam konteks ini, Iran memanfaatkan posisi geografisnya sebagai kekuatan strategis. Kapal-kapal yang dianggap berafiliasi dengan musuh, seperti AS dan sekutunya, tidak diizinkan melintas sebagai bentuk pengamanan.
Meski Iran belum meratifikasi UNCLOS, mereka tetap mempertimbangkan praktik hukum internasional. Namun, dalam kondisi konflik, kendali atas selat menjadi alat tekanan yang sah secara geopolitik. Posisi ini menjadikan Iran memiliki leverage besar tanpa harus menutup akses secara total.
Diplomasi Ulur Waktu dan Kekuatan Militer
Di tengah tekanan internasional, Iran memilih strategi diplomasi yang tidak konvensional. Tawaran perundingan jilid dua yang dimediasi pihak ketiga tidak langsung disambut, melainkan direspons dengan taktik ulur waktu.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kecerdasan strategis. Iran, dengan sejarah peradaban panjang dan pengalaman konflik, tidak mudah ditekan. Ditambah dengan kekuatan militer asimetris seperti rudal dan drone, Iran mampu menjaga posisi tawarnya tetap kuat.
Bahkan, Iran secara terbuka memperingatkan akan menindak tegas setiap kapal militer asing yang mendekati wilayah strategis mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan militer tetap menjadi bagian dari kalkulasi geopolitik Tehran.
Perundingan Terancam Buntu
Prospek perundingan damai antara kedua negara dinilai semakin suram. Amerika Serikat disebut tidak menunjukkan itikad kompromi, terutama terkait ambisi menguasai Selat Hormuz—sebuah tuntutan yang mustahil dipenuhi Iran.
Selain itu, AS juga dianggap mengabaikan berbagai tuntutan Iran, mulai dari pencabutan sanksi hingga jaminan non-agresi. Situasi diperparah dengan mobilisasi militer besar-besaran ke kawasan Teluk Persia menjelang perundingan, yang justru mengindikasikan potensi eskalasi baru.
Faktor lain yang memperumit situasi adalah kuatnya pengaruh politik eksternal, termasuk kedekatan AS dengan Israel. Konsultasi intens antara pejabat tinggi AS dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dinilai turut memengaruhi arah kebijakan Washington.
Tekanan Global Kian Meningkat
Dalam kesimpulannya, Abdullah menegaskan bahwa perdamaian sulit tercapai jika pendekatan koersif masih menjadi pilihan utama. Tanpa adanya kesetaraan dalam negosiasi, konflik berpotensi terus berlarut.
Sementara itu, tekanan internasional diperkirakan akan meningkat, baik dari negara-negara Eropa, Tiongkok, maupun masyarakat global yang terdampak langsung oleh gejolak ekonomi. Ketidakstabilan di Selat Hormuz tidak hanya menjadi isu regional, tetapi ancaman serius bagi rantai pasok energi dunia.














