Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) resmi meluncurkan Sistem Informasi Manajemen Risiko (SEMAR) dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Nomor 116 Tahun 2025 tentang Pedoman Manajemen Risiko dan Pelatihan Pengisian Aplikasi SEMAR bagi Risk Owner dan Risk Officer, yang digelar di Oryza Room UB Guest House, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga:
UB Tembus THE Asia 2026, Masuk 601–800 di Tengah Persaingan Ketat
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa peluncuran SEMAR menjadi langkah strategis dalam memperkuat tata kelola organisasi modern. “Kita ingin bahwa seluruh unit yang ada di Universitas Brawijaya sudah mengimplementasikan manajemen risiko dan terpantau di dashboard smart tersebut,” ujarnya. Ia menekankan bahwa setiap unit tidak hanya memahami tugas pokok dan fungsi, tetapi juga harus mampu mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin terjadi.

Menurutnya, manajemen risiko menjadi tulang punggung organisasi yang semakin kompleks. “Semakin besar, semakin kompleks organisasi, maka manajemen risiko menjadi salah satu tulang punggung manajemen,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa mitigasi risiko penting dilakukan sejak awal agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan ketika risiko benar-benar terjadi.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.S., menjelaskan bahwa manajemen risiko dilakukan sebelum sebuah program dijalankan. “Kalau sesudah itu namanya audit. Ini sebelum jadi. Kemungkinan-kemungkinan apa yang terjadi itu dilakukan sebelum program,” jelasnya. Ia mencontohkan rencana kebijakan seperti car free day di lingkungan kampus yang harus melalui analisis risiko sebelum diterapkan, termasuk perhitungan dampak terhadap konsep green campus dan reputasi institusi.

Sementara itu, Ketua Satuan Reformasi Birokrasi UB, Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, SH., M.Hum., menyebut bahwa manajemen risiko berfungsi mengukur ketidakpastian dalam mencapai tujuan organisasi. “Semua ini pada akhirnya harus dilakukan identifikasi risiko. Kira-kira mana yang kemudian diukur, kemungkinan ada ketidakpastian untuk mencapai tujuan itu,” paparnya. Ia menjelaskan, melalui dashboard SEMAR, pimpinan dapat memantau risiko secara real-time sebagai bagian dari sistem peringatan dini (early warning system).

Dengan sistem ini, UB dapat mengidentifikasi risiko prioritas, seperti reputasi atau pengadaan barang dan jasa, yang ditampilkan dalam indikator warna pada dashboard. “Di level rektorat, warna merah ini artinya problem early warning system kita,” ujarnya. Kebijakan strategis pun dapat segera diambil untuk meminimalkan atau mengelola risiko tersebut secara terukur.
Peluncuran SEMAR diharapkan menjadi budaya baru di lingkungan UB dalam pengelolaan risiko yang terintegrasi, sekaligus memperkuat posisi universitas dalam menjaga kualitas tata kelola, reputasi, serta daya saing di tingkat nasional maupun global. (wan)













