Kanal24, Malang – Kegiatan diskusi antara Yayasan Permata Mojokerto dan Dana Abadi Universitas Brawijaya (UB) mengungkap sejumlah poin krusial dalam pengelolaan dana abadi, mulai dari perbedaan konsep dengan wakaf hingga strategi penghimpunan dan pengembangan dana. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Dana Abadi Lantai 5 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Rabu (29/4/2026), menjadi momentum bagi Yayasan Permata untuk memperkuat sistem dan kapasitas kelembagaan dalam mengelola dana berkelanjutan.
Baca Juga:
Intip Strategi Dana Abadi UB, ITS Siap Rombak Tata Kelola
Direktur Tim Pengelola Dana Abadi UB, Ir. Achmad Wicaksono, M.Eng, Ph.D, IPU menjelaskan, diskusi ini dilatarbelakangi keinginan Yayasan Permata untuk memahami konsep dana abadi secara komprehensif, termasuk perbedaannya dengan wakaf. “Pada prinsipnya pengelolaannya sama, tetapi tentu ada konsekuensi yang berbeda, terutama mengenai aset. Kepemilikan aset kalau wakaf tentu menjadi aset wakaf. Kalau dana abadi ini menjadi milik universitas karena berada di bawah universitas,” ujarnya.

Dalam pembahasan, Dana Abadi UB memaparkan strategi penghimpunan dana yang bersumber dari donasi wisuda, alumni, hingga masyarakat umum. Selain itu, aspek pengembangan dana juga menjadi fokus utama. “Donasi itu kita tampung kemudian kita masukkan deposito, kita masukkan ke suku yang risikonya rendah,” kata Wicaksono, menekankan pentingnya pengelolaan dana secara konservatif namun berkelanjutan.
Ia menambahkan, hasil dari diskusi ini diharapkan mampu mendorong Yayasan Permata untuk mengadopsi sistem serupa, termasuk optimalisasi media sosial dalam menghimpun dana. “Harapannya mereka juga akan melakukan hal yang sama. Salah satunya pemanfaatan media sosial yang barangkali belum optimal,” jelasnya.
Sementara itu, Bendahara Yayasan Permata Mojokerto, Khusnul Khotimah S.S., M.M mengungkapkan bahwa pihaknya memperoleh banyak wawasan baru, terutama terkait struktur dan manajemen dana abadi. “Kami tadi belajar banyak tentang struktur juga pengelolaannya, terus manajemen untuk pengembangannya, bagaimana juga hasil dari dana abadi itu sebagai yang pokok nanti bisa memberikan manfaat berupa beasiswa,” ungkapnya.

Ke depan, Yayasan Permata berencana menindaklanjuti hasil diskusi dengan memperbaiki aspek kelembagaan, termasuk legalitas wakaf yang saat ini masih dalam proses. Selain itu, peluang kolaborasi dengan Dana Abadi UB juga terbuka lebar. “Kami sangat berharap bisa belajar dan juga saling sharing dengan dana abadi di Universitas Brawijaya, bisa juga kolaborasi berupa program-program yang tujuannya untuk kebermanfaatan,” pungkas Khusnul. (wan/cay)














