Kanal24, Malang – Di tengah budaya kerja yang serba cepat dan kompetitif, muncul sebuah fenomena yang ramai diperbincangkan, yaitu quiet quitting. Istilah ini merujuk pada sikap pekerja yang memilih bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya saja, tanpa melakukan usaha ekstra di luar yang diminta. Bukan berarti menyerah, melainkan bentuk kesadaran untuk menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Baca Juga:
Journaling, Cara Sederhana Meredakan Isi Kepala
Batasan Baru dalam Dunia Kerja
Quiet quitting sering disalahartikan sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya dedikasi terhadap pekerjaan. Padahal, fenomena ini lebih tepat dilihat sebagai cara individu menetapkan batas yang sehat. Banyak pekerja mulai menyadari bahwa bekerja secara berlebihan tanpa jeda justru dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental.
Dalam praktiknya, pekerja yang menerapkan quiet quitting tetap menyelesaikan tugas dengan baik. Mereka hanya tidak lagi mengambil beban tambahan di luar tanggung jawab utama, seperti lembur tanpa kompensasi atau tugas tambahan yang tidak relevan. Batasan ini menjadi penting di tengah tekanan kerja yang sering kali tidak seimbang dengan apresiasi yang diterima.
Respons terhadap Hustle Culture
Fenomena quiet quitting tidak muncul tanpa sebab. Salah satu pemicunya adalah budaya hustle culture yang mengagungkan kerja keras tanpa henti. Narasi “kerja terus sampai sukses” perlahan mulai dipertanyakan, terutama oleh generasi muda yang lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup.

Bagi sebagian orang, hustle culture memang bisa menjadi motivasi. Namun, ketika dijalankan tanpa kontrol, hal ini berpotensi menyebabkan burnout. Quiet quitting kemudian hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap ekspektasi yang terlalu tinggi, sekaligus upaya untuk mengembalikan kendali atas waktu dan energi.
Antara Profesionalisme dan Kesehatan Mental
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah quiet quitting mengurangi profesionalisme seseorang. Jawabannya tidak selalu. Selama pekerjaan utama tetap diselesaikan dengan baik, sikap ini justru bisa membantu pekerja menjadi lebih fokus dan efisien.
Kesehatan mental menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan ini. Tekanan kerja yang terus menerus dapat menyebabkan stres berkepanjangan, bahkan memengaruhi kehidupan pribadi. Dengan menetapkan batas, pekerja memiliki ruang untuk beristirahat, menjalani hobi, dan menjaga hubungan sosial.
Namun, penting untuk diingat bahwa quiet quitting bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Keseimbangan tetap menjadi kunci agar profesionalisme tidak terganggu.
Perspektif Perusahaan dan Tantangannya
Dari sisi perusahaan, quiet quitting bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam lingkungan kerja. Kurangnya apresiasi, komunikasi yang buruk, atau beban kerja yang tidak realistis dapat menjadi pemicu utama.
Alih-alih melihatnya sebagai ancaman, fenomena ini dapat menjadi bahan evaluasi. Perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, transparan, dan menghargai kontribusi karyawan. Dengan begitu, keterlibatan karyawan dapat tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mereka.
Menemukan Titik Seimbang
Pada akhirnya, quiet quitting bukan sekadar tren, melainkan refleksi perubahan cara pandang terhadap pekerjaan. Generasi saat ini mulai menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja, tetapi juga tentang menikmati proses dan menjaga keseimbangan.
Menetapkan batas bukan berarti kehilangan ambisi. Justru, dengan kondisi fisik dan mental yang lebih stabil, seseorang dapat bekerja dengan lebih optimal. Kunci utamanya terletak pada kemampuan untuk memahami kebutuhan diri sekaligus tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
Fenomena ini mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja, tetapi juga dari kualitas hidup yang dijalani. (qrn)













