Kanal24, Malang – Kegiatan benchmarking antara Dana Abadi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Dana Abadi Universitas Brawijaya (UB) mengungkap perbedaan mencolok dalam tata kelola dan kapasitas organisasi. Kunjungan yang berlangsung di Ruang Dana Abadi Lantai 5 Gedung Rektorat UB, Senin (20/04/2026), menjadi momentum bagi ITS untuk mempercepat pembenahan internal.
Baca juga:
UB Genjot Dana Abadi 2026, Bidik ROI 4,8 Persen
Direktur Tim Pengelola Dana Abadi UB, Achmad Wicaksono, menjelaskan bahwa UB telah merancang struktur organisasi yang spesifik dan terukur untuk menjawab kebutuhan pengelolaan dana abadi. “Kami muncul dengan sebuah struktur yang dirasa sesuai untuk kebutuhan dana abadi. Jadi ada divisi penghimpunan, ada divisi pengembangan, dan divisi penggunaan hasil pengembangan. Tiga divisi ini yang menjadi tim inti di UB dalam pengelolaan dana abadi itu,” ujarnya.

Menurutnya, strategi pengembangan dana abadi di UB tidak lepas dari dinamika pasar dan regulasi yang berlaku. Pendekatan ini dinilai penting agar dana tetap tumbuh secara berkelanjutan. “Kalau strateginya, kita memang mengikuti perkembangan pasar. Kemudian juga yang pasti peraturan. Jadi peraturan-peraturan yang ada itu harus kita ikuti. Terus kemudian nanti perkembangan pasar bagaimana upaya untuk bisa meningkatkan hasil dari pengelolaannya, itu kita mengikuti pasar,” katanya.
Dari sisi ITS, Direktur Lembaga Pengelola Dana Abadi ITS, Kriyo Sambodho, mengakui bahwa tata kelola yang diterapkan UB memberikan banyak insight baru. Ia menilai pembagian unit kerja yang detail dan berbasis proses bisnis menjadi salah satu poin penting yang bisa segera diadaptasi. “Di UB kami melihat detail sekali pembagian unit-unit yang ada di lembaga pengelola dana abadi sesuai dengan tupoksi dan sesuai dengan bisnis prosesnya. Oleh karena itu, mungkin ini yang bisa menjadi masukan bagi kami. Itu yang utama,” ungkapnya.

Selain itu, pola kerja sama dengan pihak internal maupun eksternal juga menjadi perhatian ITS dalam mengembangkan dana abadi ke depan. Kriyo menyebut, pengalaman UB dapat menjadi referensi penting karena pada prinsipnya pengelolaan dana abadi di perguruan tinggi negeri badan hukum memiliki kesamaan tantangan dan tujuan.
Hasil kunjungan ini, lanjutnya, akan segera dilaporkan kepada pimpinan ITS untuk ditindaklanjuti dalam perbaikan tata kelola organisasi. “Apa yang ada di UB hari ini mungkin akan segera kami sampaikan dan kami diskusikan. Mungkin juga akan kami terapkan sesuai dengan kondisi di ITS,” ujarnya.
Perbedaan jumlah sumber daya manusia juga menjadi sorotan. Saat ini ITS mengelola dana abadi dengan empat orang, sementara UB melibatkan sekitar 30 personel. “Saya pikir itu sangat bagus untuk segera diimplementasikan. Bukan berarti jumlah stafnya harus 30 di ITS, tetapi kita sesuaikan dengan kemampuan di ITS,” kata Kriyo Sambodho.
Ke depan, kedua institusi mendorong terbentuknya forum nasional pengelola dana abadi di lingkungan PTNBH sebagai wadah kolaborasi dan pertukaran praktik terbaik. “Supaya di situ mungkin bisa setiap tahun ada pertemuan, saling sharing pengalaman, kemudian juga bisa berbagi informasi ataupun insight,” tutur Wicaksono. (wan)














