Kanal24, Malang – Skema pembiayaan alternatif mulai menjadi fokus perguruan tinggi di tengah keterbatasan anggaran pendidikan. Universitas Brawijaya (UB) menegaskan langkah itu melalui penguatan pengelolaan dana abadi sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang lebih mandiri.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Program Kerja Tim Pengelola Dana Abadi UB (19/4/2026). Forum ini menjadi titik awal konsolidasi sekaligus penetapan arah strategi pengelolaan dana abadi untuk tahun 2026.
Ketua Tim Pengelola Dana Abadi UB, Ir. Achmad Wicaksono, M.Eng., Ph.D., IPU., menegaskan bahwa tahun ini menjadi fase penting dalam penguatan sistem pengelolaan dana.
“Tahun 2026 adalah fase konsolidasi dan growth dengan target ROI 4,8 persen, fundraising Rp1,5 miliar, dan 750 donatur baru,” ujarnya.
Target tersebut menjadi bagian dari strategi jangka menengah UB dalam membangun sistem pendanaan berkelanjutan yang tidak bergantung sepenuhnya pada sumber konvensional.
Bangun Sistem yang Kuat Sejak Awal
Wakil Rektor UB Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., menekankan pentingnya membangun fondasi tata kelola sejak tahap awal pengembangan dana abadi.
Ia menyebut, sistem yang kuat menjadi kunci untuk menghindari potensi masalah di masa depan seiring pertumbuhan dana.
“Kalau tim sekarang mampu meletakkan fondasi pengelolaan yang kuat, insya Allah ke depan tidak akan terjadi hal-hal negatif,” ujarnya.

Menurutnya, fase awal ini menjadi krusial karena dana abadi akan berkembang dan melibatkan kepentingan yang lebih besar.
Ia juga menegaskan bahwa pimpinan universitas mendorong peningkatan dana abadi secara signifikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang kampus.
Prof. Unti menambahkan, potensi terbesar dalam penguatan dana abadi berasal dari alumni yang memiliki kedekatan emosional dengan almamater.
“Alumni tetap merasa bagian penting dari universitas dan harus ada sesuatu yang diberikan untuk almamaternya,” katanya.
Ia menekankan pentingnya penguatan branding dan komunikasi agar partisipasi publik dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Strategi Pendanaan dan Dampak
Achmad Wicaksono menjelaskan, pengelolaan dana abadi diarahkan pada sistem yang terstruktur dan berdampak jangka panjang bagi institusi.
“Target utama kami adalah sistem yang sustainable dan scalable,” jelasnya.
Dalam implementasinya, dana dikelola melalui instrumen investasi dengan target ROI 4,8 persen yang tetap memperhatikan aspek risiko.

“Target ROI 4,8 persen tetap harus dicapai dengan risiko yang terkelola,” tambahnya.
Di sisi penghimpunan, UB menargetkan Rp1,5 miliar dengan 750 donatur baru melalui berbagai skema.
Dana tersebut akan diarahkan untuk mendukung program prioritas, salah satunya beasiswa bagi mahasiswa.
“Target kami adalah penyaluran beasiswa Rp1 miliar untuk mahasiswa berprestasi dan kurang mampu,” ujarnya.
Langkah UB memperkuat dana abadi menunjukkan arah baru pengelolaan perguruan tinggi yang lebih adaptif terhadap tantangan pembiayaan.
Dengan sistem yang diperkuat sejak awal, dukungan alumni, serta strategi investasi yang terukur, dana abadi diharapkan menjadi fondasi kemandirian finansial kampus dalam jangka panjang.(Din)













