Kanal24, Malang – Pasar global kembali dibuat waswas. Harga minyak dunia melonjak tajam hingga nyaris 7 persen dalam waktu singkat, memicu kekhawatiran baru soal gangguan pasokan energi di tengah memanasnya tensi geopolitik.
Lonjakan ini dipicu meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu distribusi minyak, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz—urat nadi perdagangan energi dunia. Situasi tersebut langsung memantik reaksi cepat dari pelaku pasar.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat melesat hingga menyentuh kisaran USD 89 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global ikut terdongkrak ke level sekitar USD 95 per barel.
Baca juga:
Pemerintah Gaspol Garap 10 Kota Baru, Survei Segera Dimulai
Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk, termasuk ancaman terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi jalur vital tersebut. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan membuat investor bergerak cepat mengamankan posisi, yang pada akhirnya mendorong harga semakin tinggi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, harapan akan meredanya konflik justru kian menipis. Negosiasi yang belum menunjukkan titik terang memperbesar potensi eskalasi yang lebih luas, sekaligus menambah tekanan pada pasar energi global.
Para analis memperkirakan, selama situasi geopolitik belum stabil, harga minyak akan tetap bergerak liar. Bahkan, jika gangguan distribusi benar-benar terjadi, lonjakan harga bisa berlanjut dan memicu efek domino ke berbagai sektor ekonomi.
Kenaikan ini bukan sekadar gejolak pasar. Dampaknya berpotensi terasa hingga ke harga bahan bakar, inflasi energi, hingga daya beli masyarakat di berbagai negara.
Pasar kini tak hanya bereaksi—tapi bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. (nid)














