Kanal24, Malang – Skripsi biasanya identik dengan tumpukan halaman dan teori yang kaku. Tapi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), batas itu mulai digeser. Untuk pertama kalinya, mahasiswa Antropologi mengubah tugas akhir mereka menjadi film dokumenter—sebuah karya visual yang tak hanya menyampaikan riset, tapi juga menghadirkan realitas lingkungan secara lebih hidup, bahkan menggetarkan.
Pembimbing skripsi, Franciscus Apriwan, S.Ant., M.A., menyebut capaian ini sebagai sejarah baru di lingkungan program studi antropologi FIB UB. “Jadi ini untuk proses pertama kali di program studi antropologi bisa membuat tugas akhir berupa film dokumenter. Ini juga merupakan sejarah bagi kami karena ini adalah projek pertama dan prosesnya memang cukup panjang,” ujarnya.
Baca Juga :
Halal Bihalal FIB UB Perkuat Persaudaraan Sivitas Akademika
Menurutnya, proses produksi film tidak sederhana dan membutuhkan waktu panjang. Mahasiswa harus melalui tahapan penelitian lapangan hingga pengabdian masyarakat yang berlangsung lebih dari satu tahun. “Dimulai dari teman-teman melakukan penelitian, terus ada proses pengabdian juga dalam beberapa bulan terakhir, kira-kira lebih dari satu tahun mereka melakukan ini,” jelasnya. Ia menambahkan, keterlibatan langsung mahasiswa dengan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menghasilkan karya yang utuh dan bermakna.

Film dokumenter berjudul The Water Keeper menjadi sorotan utama dalam pemutaran tersebut. Karya ini mengangkat upaya masyarakat dalam menjaga sumber air di wilayah Mangliawan melalui berbagai aktivitas pelestarian lingkungan. Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UB, Dr. Yusri Fajar, S.S., M.A., memberikan apresiasi tinggi terhadap film tersebut. “Sebuah film dokumenter yang sangat menginspirasi, menunjukkan tentang fenomena bagaimana masyarakat memiliki kepedulian untuk melestarikan alam, khususnya air,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran lingkungan di tengah meningkatnya krisis ekologis global. “Saya mengapresiasi film ini dan berharap para penonton, khususnya para mahasiswa, generasi muda, generasi milenial, akan memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” tambahnya. Menurutnya, film dokumenter semacam ini dapat menjadi medium edukasi sekaligus refleksi bagi masyarakat luas.
Produser film, Bagas Arga Wijaya, menjelaskan bahwa ide pembuatan film berawal dari pengalaman mereka saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). “Bermula dari pertemuan pertama kami saat KKN, bertemu dengan H3. Nah, sejak saat itu kami hampir bisa dibilang rutin mengikuti kegiatan-kegiatan di H3, untuk bersih-bersih sungai,” jelasnya. Dari keterlibatan tersebut, muncul keinginan untuk mendokumentasikan aktivitas komunitas agar dapat dilihat lebih luas.
Baca Juga :
Lulusan UB Kini Diburu Pasar Global: Tembus Top 600 Dunia!
Ia berharap karya ini tidak berhenti sebagai tugas akhir semata, melainkan mampu memberi dampak nyata bagi komunitas yang diangkat. “Harapan kami mungkin dengan adanya film ini dapat dipermudah untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya ataupun acara-acara selanjutnya,” ujarnya.
Pemutaran film ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya mahasiswa, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan metode pembelajaran di perguruan tinggi, khususnya dalam menggabungkan riset akademik dengan medium kreatif.














