Kanal24, Malang –Dari pekarangan sederhana, ketahanan pangan keluarga bisa dimulai. Prinsip itu diterapkan mahasiswa KKN FBiPK UB melalui Taman Pangan di Desa Argosuko. Bukan sekadar taman, area tersebut dirancang menjadi ruang produktif yang menggabungkan budidaya tanaman, aquaponik, hingga pemanfaatan kemasan bekas sebagai media tanam.
Taman Pangan itu diresmikan bersama masyarakat Desa Argosuko, Kabupaten Malang, Minggu (26/7). Berlokasi di rumah Ibu Ari selaku penggerak PKK Desa Argosuko, kegiatan tersebut menjadi bagian dari program keberlanjutan KKN FBiPK UB dengan pendampingan DPL Alia Fibrianingtyas, S.P., M.P. dan Mahfudlotul ‘Ula, S.E., M.Si.
Baca Juga:
Ratusan Mahasiswa Baru UB Antusias Ambil Jas Almamater Jelang PKKMB
Manfaatkan Pekarangan Jadi Sumber Pangan
Taman Pangan hadir dari gagasan optimalisasi pekarangan rumah agar menjadi ruang produktif. Mahasiswa memperkenalkan sejumlah metode budidaya sederhana yang dapat diterapkan masyarakat dengan memanfaatkan lahan dan bahan yang tersedia di sekitar.
Salah satunya melalui vertikultur bertingkat berbahan bambu. Taman tersebut juga dilengkapi sistem aquaponik yang menggabungkan budidaya ikan lele dengan tanaman kangkung.
Selain itu, mahasiswa memanfaatkan kembali kantong minyak goreng bekas dan kemasan deterjen sebagai media tanam. Wadah tersebut digunakan untuk membudidayakan cabai dan terong. Tanaman pepaya dan sawi turut ditanam untuk menambah keragaman sumber pangan.
Konsep ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan keluarga tidak selalu membutuhkan lahan luas atau biaya besar. Barang yang sebelumnya dianggap sebagai limbah juga dapat diolah menjadi sarana budidaya yang produktif.
Diharapkan Tetap Berjalan Usai KKN
Peresmian diawali dengan pelepasan bibit lele ke instalasi aquaponik, kemudian dilanjutkan penanaman bersama mahasiswa dan masyarakat. Prosesi pengguntingan pita oleh Mahfudlotul ‘Ula bersama Ibu Ari menjadi penanda dimulainya pemanfaatan Taman Pangan.

Tidak berhenti pada pembangunan taman, mahasiswa juga membagikan instalasi aquaponik kepada masyarakat untuk dipelihara di rumah masing-masing. Sejumlah tanaman yang menggunakan media dari kemasan bekas juga dibawa pulang warga.
Mahfudlotul ‘Ula berharap keberadaan Taman Pangan dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk terus mengembangkan pemanfaatan pekarangan.
“Kami berharap taman pangan ini tidak berhenti sebagai hasil akhir program KKN, tetapi dapat terus dirawat, dikembangkan, dan menginspirasi masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan yang produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dorong Pencapaian SDGs
Program Taman Pangan juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini mendukung SDG 2 atau Zero Hunger melalui penyediaan sumber pangan keluarga berbasis pekarangan.
Selain itu, pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lingkungan produktif mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan. Pemanfaatan kembali kemasan bekas sebagai media tanam juga sejalan dengan SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, Taman Pangan tidak hanya menjadi hasil akhir KKN. Program ini diharapkan menjadi warisan pengetahuan dan praktik yang dapat terus dirawat masyarakat Desa Argosuko. (ndr)













