Kanal24, Malang – Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa di lingkungan kampus kembali menjadi sorotan publik. Peristiwa ini tidak hanya memunculkan keprihatinan, tetapi juga membuka diskusi lebih luas tentang budaya yang selama ini kerap luput dari perhatian, yakni rape culture atau budaya yang secara tidak langsung menormalisasi kekerasan seksual.
Istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, dalam praktiknya, bentuk-bentuknya sering kali hadir dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa disadari.
Dari Hal yang Dianggap Sepele
Rape culture tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang membentuknya, dimulai dari hal-hal yang sering dianggap sepele. Candaan bernuansa seksual, komentar terhadap tubuh seseorang, hingga sikap meremehkan pengalaman korban menjadi bagian dari pola yang berulang.
Dalam banyak situasi, perilaku tersebut dianggap wajar atau bahkan dijadikan bahan humor. Padahal, normalisasi semacam ini dapat membentuk lingkungan yang tidak sensitif terhadap batasan dan kenyamanan orang lain.
Ketika hal-hal kecil terus dibiarkan, batas antara yang dianggap “biasa” dan yang sebenarnya bermasalah menjadi semakin kabur.

Piramida yang Menjelaskan Pola
Konsep rape culture pyramid sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana kekerasan seksual berkembang. Di bagian paling bawah, terdapat tindakan yang sering dianggap ringan, seperti lelucon seksis atau stereotip gender.
Naik ke lapisan berikutnya, muncul perilaku yang lebih serius, seperti objektifikasi dan menyalahkan korban. Di titik ini, korban sering kali justru dipertanyakan, alih-alih didukung.
Puncak dari piramida tersebut adalah kekerasan seksual secara langsung. Dengan kata lain, tindakan ekstrem tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari rantai yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.
Lingkungan Kampus yang Dipertanyakan
Kampus selama ini dikenal sebagai ruang belajar yang menjunjung tinggi nilai intelektual dan etika. Namun, kasus yang muncul menunjukkan bahwa lingkungan akademik tidak sepenuhnya bebas dari persoalan ini.
Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana ruang pendidikan benar-benar aman bagi semua pihak?
Ketika perilaku yang tidak pantas tidak ditegur atau dianggap biasa, maka ada kemungkinan terbentuk budaya yang permisif. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat korban merasa enggan untuk bersuara.
Peran Kesadaran Kolektif
Menghadapi persoalan ini tidak cukup hanya dengan menindak kasus yang sudah terjadi. Diperlukan kesadaran kolektif untuk mengenali tanda-tanda awal yang sering kali terabaikan.
Sikap sederhana seperti tidak melontarkan candaan yang merendahkan, menghargai batasan pribadi, serta tidak menyalahkan korban merupakan langkah awal yang penting. Meski terlihat kecil, perubahan ini dapat berdampak besar dalam membentuk lingkungan yang lebih aman.
Selain itu, keberanian untuk bersikap kritis terhadap perilaku yang tidak pantas juga menjadi kunci. Diam terhadap hal yang salah justru berpotensi memperkuat pola yang ada.
Mengubah Cara Pandang
Salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi rape culture adalah mengubah cara pandang yang sudah lama terbentuk. Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa perilaku tertentu termasuk dalam bagian dari masalah.
Edukasi menjadi langkah penting untuk membuka pemahaman. Dengan mengetahui bagaimana pola ini bekerja, masyarakat dapat lebih peka terhadap situasi di sekitarnya.
Perubahan memang tidak bisa terjadi secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran individu yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan bersama.
Menuju Ruang yang Lebih Aman
Kasus yang mencuat seharusnya tidak berhenti pada pemberitaan semata, tetapi menjadi momentum untuk refleksi bersama. Lingkungan yang aman tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi juga oleh sikap dan budaya yang dibangun oleh orang-orang di dalamnya.
Kampus, sebagai ruang belajar, memiliki peran penting dalam membentuk nilai-nilai tersebut. Dengan menciptakan suasana yang saling menghargai, risiko terjadinya kekerasan dapat diminimalkan.
Pada akhirnya, memahami rape culture bukan hanya soal mengenali istilah, tetapi juga tentang bagaimana setiap individu berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi semua. (qrn)













