Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Memahami Rape Culture di Lingkungan Kampus

Einid Shandy by Einid Shandy
April 25, 2026
in Gaya Hidup, Pendidikan
0
Memahami Rape Culture di Lingkungan Kampus
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa di lingkungan kampus kembali menjadi sorotan publik. Peristiwa ini tidak hanya memunculkan keprihatinan, tetapi juga membuka diskusi lebih luas tentang budaya yang selama ini kerap luput dari perhatian, yakni rape culture atau budaya yang secara tidak langsung menormalisasi kekerasan seksual.

Istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, dalam praktiknya, bentuk-bentuknya sering kali hadir dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa disadari.

Dari Hal yang Dianggap Sepele

Rape culture tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang membentuknya, dimulai dari hal-hal yang sering dianggap sepele. Candaan bernuansa seksual, komentar terhadap tubuh seseorang, hingga sikap meremehkan pengalaman korban menjadi bagian dari pola yang berulang.

Dalam banyak situasi, perilaku tersebut dianggap wajar atau bahkan dijadikan bahan humor. Padahal, normalisasi semacam ini dapat membentuk lingkungan yang tidak sensitif terhadap batasan dan kenyamanan orang lain.

Ketika hal-hal kecil terus dibiarkan, batas antara yang dianggap “biasa” dan yang sebenarnya bermasalah menjadi semakin kabur.

Piramida yang Menjelaskan Pola

Konsep rape culture pyramid sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana kekerasan seksual berkembang. Di bagian paling bawah, terdapat tindakan yang sering dianggap ringan, seperti lelucon seksis atau stereotip gender.

Naik ke lapisan berikutnya, muncul perilaku yang lebih serius, seperti objektifikasi dan menyalahkan korban. Di titik ini, korban sering kali justru dipertanyakan, alih-alih didukung.

Puncak dari piramida tersebut adalah kekerasan seksual secara langsung. Dengan kata lain, tindakan ekstrem tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari rantai yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.

Lingkungan Kampus yang Dipertanyakan

Kampus selama ini dikenal sebagai ruang belajar yang menjunjung tinggi nilai intelektual dan etika. Namun, kasus yang muncul menunjukkan bahwa lingkungan akademik tidak sepenuhnya bebas dari persoalan ini.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana ruang pendidikan benar-benar aman bagi semua pihak?

Ketika perilaku yang tidak pantas tidak ditegur atau dianggap biasa, maka ada kemungkinan terbentuk budaya yang permisif. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat korban merasa enggan untuk bersuara.

Peran Kesadaran Kolektif

Menghadapi persoalan ini tidak cukup hanya dengan menindak kasus yang sudah terjadi. Diperlukan kesadaran kolektif untuk mengenali tanda-tanda awal yang sering kali terabaikan.

Sikap sederhana seperti tidak melontarkan candaan yang merendahkan, menghargai batasan pribadi, serta tidak menyalahkan korban merupakan langkah awal yang penting. Meski terlihat kecil, perubahan ini dapat berdampak besar dalam membentuk lingkungan yang lebih aman.

Selain itu, keberanian untuk bersikap kritis terhadap perilaku yang tidak pantas juga menjadi kunci. Diam terhadap hal yang salah justru berpotensi memperkuat pola yang ada.

Mengubah Cara Pandang

Salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi rape culture adalah mengubah cara pandang yang sudah lama terbentuk. Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa perilaku tertentu termasuk dalam bagian dari masalah.

Edukasi menjadi langkah penting untuk membuka pemahaman. Dengan mengetahui bagaimana pola ini bekerja, masyarakat dapat lebih peka terhadap situasi di sekitarnya.

Perubahan memang tidak bisa terjadi secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran individu yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan bersama.

Menuju Ruang yang Lebih Aman

Kasus yang mencuat seharusnya tidak berhenti pada pemberitaan semata, tetapi menjadi momentum untuk refleksi bersama. Lingkungan yang aman tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi juga oleh sikap dan budaya yang dibangun oleh orang-orang di dalamnya.

Kampus, sebagai ruang belajar, memiliki peran penting dalam membentuk nilai-nilai tersebut. Dengan menciptakan suasana yang saling menghargai, risiko terjadinya kekerasan dapat diminimalkan.

Pada akhirnya, memahami rape culture bukan hanya soal mengenali istilah, tetapi juga tentang bagaimana setiap individu berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi semua. (qrn)

Post Views: 24
Tags: kampusKANAL24kanal24.co.idlingkungan kampusPelecehan SeksualRape Cultureuniversitas brawijaya
Previous Post

Ekstrovert Bukan Jawaban atas Kesepian Dalam Lingkungan

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Memahami Rape Culture di Lingkungan Kampus

Memahami Rape Culture di Lingkungan Kampus

April 25, 2026
Ekstrovert Bukan Jawaban atas Kesepian Dalam Lingkungan

Ekstrovert Bukan Jawaban atas Kesepian Dalam Lingkungan

April 25, 2026
Produktivitas Tebu Mandek, FP UB Gandeng Australia Kejar Teknologi dan Bibit Unggul

Produktivitas Tebu Mandek, FP UB Gandeng Australia Kejar Teknologi dan Bibit Unggul

April 24, 2026
Digembleng Tangani Situasi Kritis, 117 Mahasiswa FIKES UB Siap Hadapi Kondisi Darurat

Digembleng Tangani Situasi Kritis, 117 Mahasiswa FIKES UB Siap Hadapi Kondisi Darurat

April 24, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025