Kanal24, Malang – Aquarina Kharisma Sari yang mewakili Malang Women Writers’ Society menyampaikan materi bertajuk “Kritik Sosial atau Pornography of Pain?” yang menyoroti fenomena sastra dan film Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Ia mengamati bahwa banyak karya sastra dan film yang menjadikan perempuan sebagai tokoh sentral, yang sering kali digambarkan sebagai sosok perempuan tradisional, miskin, tidak berdaya, tak berpendidikan, serta menjadi korban dari kekerasan laki-laki.
Aquarina menyampaikan materi ini dalam acara “Malam Sastra 2024” pada Sabtu (26/10/2024) di Auditorium Nuswantara, lantai 7, Gedung B FISIP UB. Dengan mengusung tema “Siar Suara Sastra: Kritik Sosial sebagai Sebuah Seni dalam Berbahasa”.
“Pengarang atau sutradara umumnya memposisikan diri sebagai moralis yang mencoba mengangkat ‘kekerasan sistemik’ yang dialami perempuan tersebut sebagai bagian dari kritik sosial. Namun, seringkali adegan kekerasan, terutama kekerasan seksual, digambarkan dengan sangat vulgar dan masokistis, seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi,” ujar Aquarina.
Menurutnya hal ini mengundang pertanyaan, apakah penggambaran ini benar-benar dimaksudkan sebagai kritik sosial, ataukah justru menjadi bentuk ‘pornography of pain’ yang dinikmati sendiri oleh pencipta dan penontonnya?
Lebih lanjut, Aquarina menekankan bahwa kecenderungan menampilkan perempuan sebagai sosok tak berdaya dan korban dalam karya sastra maupun film justru menguatkan superioritas moral dan eksploitasi terhadap kelas bawah dari sisi pengarangnya. Menurutnya, para sastrawan dan seniman seolah menempatkan diri sebagai elit kelas menengah, yang bukannya memperkuat kritik sosial, tetapi justru kontraproduktif dengan tujuan awalnya.
“Sejauh ini, ada pola yang sangat terlihat dalam karya-karya tersebut, di mana perempuan yang lemah dan tidak berdaya selalu dijadikan sentral konflik. Narasi ketidakberdayaan perempuan ini tampak sebagai usaha pengarang untuk mengangkat isu sosial, namun apakah benar kritik sosial tersebut dapat memberikan dampak? Atau ini hanya memperkuat stereotype perempuan sebagai korban tanpa daya?” ujar Aquarina dalam diskusi tersebut.
Pada sesi interaktif, Aquarina mengajak audiens untuk berdiskusi secara kritis mengenai kecenderungan ini. Ia mengajukan pertanyaan apakah representasi perempuan sebagai korban kekerasan, serta penggambaran adegan kekerasan seksual dan kebebasan seksual yang vulgar, adalah bentuk ‘pornography of pain’ yang terselubung dalam kemasan ‘kritik sosial’. Menurutnya, perlu pertimbangan lebih mendalam bagi para seniman dan sastrawan agar tidak terjebak dalam penggambaran yang justru memperpanjang stereotip negatif terhadap perempuan.
Sebagian besar audiens setuju dengan pandangan Aquarina. Mereka mengungkapkan bahwa sering kali unsur seksualitas dalam karya sastra dan film tidak memberikan nilai kritis yang mendalam, tetapi malah berfungsi sebagai objek eksploitasi yang terkesan tidak berbeda jauh dengan pornografi. Diskusi pun semakin menarik saat sejumlah peserta mengutarakan bahwa penggambaran tersebut kerap kali mengokohkan pandangan superioritas moral dari sang kreator terhadap subjeknya, yaitu perempuan.
Acara “Malam Sastra 2024” yang diadakan oleh LPM Perspektif ini sekaligus menjadi ruang untuk memantik refleksi bagi mahasiswa UB dan masyarakat umum mengenai bagaimana kritik sosial dapat dihadirkan secara bijak dalam karya sastra. Dengan terselenggaranya acara ini, LPM Perspektif berharap diskusi sastra yang penuh sentuhan kritik sosial ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih peka dan kritis terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat, terutama dalam hal representasi perempuan dan etika dalam penggambaran kekerasan.
Di akhir acara, Aquarina menyampaikan harapannya bahwa diskusi kritis seperti ini dapat lebih sering digelar, terutama untuk menyuarakan pandangan-pandangan segar dari para pemikir dan akademisi muda. “Kita perlu bersama-sama mendorong karya sastra dan seni yang bukan hanya berbicara tentang penderitaan perempuan sebagai korban, tetapi juga menyajikan narasi yang membebaskan dan memberdayakan,” tutupnya. (nid)