Kanal24, Malang – Pengabdian masyarakat tidak lagi sekadar datang, menjalankan program, lalu selesai. Melalui Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026, Universitas Brawijaya (UB) mengusung konsep living laboratory yang memastikan setiap program di desa terus berlanjut, dievaluasi, dan dikembangkan dari tahun ke tahun agar menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Program tersebut resmi dimulai pada Senin (6/7/2026) di Lapangan Rektorat UB. Selama satu bulan, hingga 6 Agustus 2026, ribuan mahasiswa diterjunkan ke 76 desa di delapan kabupaten di Jawa Timur untuk menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan lokal.
Baca juga:
FISIP UB Dorong Transformasi Digital Desa Ngabab untuk Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Lokal

MMD Dirancang Menjadi Pengabdian yang Berkelanjutan
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, mengatakan MMD merupakan agenda tahunan yang tidak hanya bertujuan mengirim mahasiswa ke desa, tetapi membangun ekosistem pengabdian masyarakat yang berkesinambungan.
Menurutnya, konsep living laboratory menjadikan desa sebagai ruang pembelajaran sekaligus laboratorium nyata untuk mengembangkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
“Program-program yang dicanangkan harapannya bisa berlanjut dari tahun ke tahun sehingga kita bisa menghitung dampaknya secara langsung terhadap masyarakat terkait intervensi yang kita berikan,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, hasil pengabdian tidak berhenti sebagai laporan akademik, melainkan menjadi program yang terus disempurnakan sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat.
Tak Hanya Membawa Bantuan, Mahasiswa Juga Mentransfer Pengetahuan
Wakil Rektor V UB, Prof. Unti Ludigdo, menjelaskan kontribusi mahasiswa tidak sebatas menghadirkan teknologi tepat guna, bibit tanaman, maupun berbagai sarana pendukung lainnya.
Menurutnya, aspek yang paling penting adalah proses transfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sehingga mampu mengembangkan potensi daerah secara mandiri.
Ia menambahkan, setiap kelompok MMD terdiri atas mahasiswa lintas fakultas. UB juga berupaya menempatkan mahasiswa sesuai kabupaten asal agar lebih memahami karakteristik wilayah yang didampingi, meski penempatan hingga tingkat desa belum seluruhnya dapat dilakukan.
Program MMD 2026 berlangsung selama satu bulan, mulai 6 Juli hingga 6 Agustus 2026, dengan cakupan wilayah di 76 desa yang tersebar di delapan kabupaten di Jawa Timur.

Desa Didampingi Hingga Empat Tahun agar Dampaknya Terukur
Keberlanjutan menjadi pembeda utama MMD UB dibanding program pengabdian lainnya.
Kepala Subdirektorat Pengabdian kepada Masyarakat UB, Dr. Yusron Sugiarto, mengatakan desa dampingan tidak berganti setiap tahun sehingga program dapat terus dikembangkan.
“Selama empat tahun kita berada di tempat yang sama sehingga program terus berlanjut dan dampaknya bisa diukur.”
Pendekatan tersebut telah menghasilkan berbagai capaian, mulai dari lahirnya UMKM baru, penerapan teknologi tepat guna, hingga peningkatan kemandirian masyarakat di sejumlah daerah seperti Kabupaten Malang, Bojonegoro, Ngawi, dan Banyuwangi.
Melalui MMD 2026, UB berharap pengabdian kepada masyarakat tidak hanya menjadi kewajiban akademik mahasiswa, tetapi berkembang menjadi kolaborasi jangka panjang yang mampu menciptakan perubahan nyata bagi desa-desa mitra. (ndr)














