Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Jangan Biarkan Rupiah Melemah, Lalu Masyarakat Membayar Harganya

Einid Shandy by Einid Shandy
September 30, 2026
in Ekonomi, Perspektif
0
Banjir–Longsor Sumatra Uji Ketahanan Fiskal Negara, Pakar UB Soroti Anggaran hingga Birokrasi Lamban

Pakar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D. (Yordan/Kanal24)

0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D.*

Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, perhatian kita biasanya tertuju pada satu angka: berapa rupiah yang harus dibayar untuk mendapatkan satu dolar. Kita kemudian sibuk membicarakan kurs, pasar valuta asing, intervensi, cadangan devisa, dan berbagai indikator makroekonomi lainnya.

Semua itu penting.

Tetapi bagi sebagian besar masyarakat, persoalannya jauh lebih sederhana.

Mereka tidak perlu tahu rupiah hari ini berada di level berapa. Mereka hanya ingin tahu satu hal: apakah uang yang mereka miliki masih mampu membeli kebutuhan yang sama seperti sebelumnya?

Di situlah sebenarnya makna pelemahan rupiah bagi masyarakat.

Ilustrasi rupiah dan dolar (AI)

Sebab, persoalan ekonomi pada akhirnya bukan sekadar mengenai angka-angka di layar perdagangan valuta asing. Ekonomi adalah tentang kehidupan manusia. Ketika nilai uang melemah dan harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak bergerak dengan kecepatan yang sama, masyarakatlah yang pada akhirnya menanggung konsekuensinya.

Rupiah Bukan Sekadar Angka di Pasar

Pelemahan rupiah tentu bukan sesuatu yang muncul tanpa sebab. Nilai mata uang sangat berkaitan dengan kepercayaan, permintaan, dan kekuatan fundamental ekonomi.

Sebuah mata uang akan semakin kuat ketika semakin banyak pihak membutuhkannya. Kita bisa melihat bagaimana dolar Amerika Serikat memiliki posisi kuat karena digunakan secara luas dalam perdagangan dan transaksi internasional.

Karena itu, jika kita ingin memperkuat rupiah, pekerjaan rumah Indonesia tidak cukup hanya dengan menjaga kurs melalui kebijakan jangka pendek.

Kita harus membangun ekonomi yang membuat dunia membutuhkan Indonesia.

Produk kita harus semakin kompetitif. Kualitas ekspor harus meningkat. Pasar internasional harus semakin luas. Devisa harus semakin kuat. Pada akhirnya, semakin banyak transaksi ekonomi yang berkaitan dengan produk Indonesia, semakin besar pula fondasi permintaan terhadap rupiah.

Inilah pekerjaan jangka panjang yang tidak bisa diselesaikan dengan simsalabim.

Kita tidak bisa berharap rupiah kembali ke level sebelum krisis 1997–1998 hanya karena kita menginginkannya. Struktur ekonomi Indonesia sudah berubah. Dunia juga berubah.

Yang jauh lebih realistis adalah membangun fundamental agar rupiah tidak terus mengalami pelemahan dan ekonomi Indonesia memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.

Namun, sembari memperbaiki fundamental tersebut, ada persoalan yang tidak boleh kita abaikan: bagaimana masyarakat bertahan ketika tekanan nilai tukar mulai masuk ke harga-harga barang?

Masyarakat Tidak Memegang Dolar, tetapi Membayar Dampaknya

Ada anggapan bahwa pelemahan rupiah hanya menjadi persoalan bagi mereka yang melakukan transaksi menggunakan dolar. Masyarakat di desa, misalnya, mungkin tidak pernah membeli dolar dan tidak pernah melakukan transaksi di pasar valuta asing.

Tetapi mereka tetap bisa merasakan dampaknya.

Indonesia masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Ketika komoditas tersebut harus dibeli menggunakan mata uang asing, pelemahan rupiah membuat biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar.

Setelah itu, efeknya tidak berhenti di sektor energi.

Biaya transportasi bisa meningkat. Biaya distribusi barang bisa ikut terdorong. Harga bahan baku dapat mengalami tekanan. Produsen kemudian menghadapi kenaikan biaya dan sebagian tekanan tersebut pada akhirnya diteruskan kepada konsumen.

Maka, seseorang yang tidak pernah memegang dolar sekalipun tetap dapat merasakan dampak pelemahan rupiah ketika membeli makanan, membayar transportasi, atau memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Inilah yang sering luput ketika kita terlalu sibuk melihat ekonomi hanya dari indikator makro.

Masyarakat tidak hidup di dalam grafik. Mereka hidup dari harga yang mereka bayar setiap hari.

Karena itu, menjaga stabilitas nilai tukar memang penting. Tetapi menjaga agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi penurunan kesejahteraan masyarakat jauh lebih penting.

Ilustrasi pelemahan rupiah, tekanan harga kebutuhan pokok, dan dampaknya pada daya beli masyarakat (AI)

Jangan Sampai Pendapatan Tetap, tetapi Kemampuan Membeli Terus Turun

Saya kira keresahan terbesar masyarakat bukanlah apakah rupiah harus kembali ke angka tertentu.

Mereka tidak sedang meminta rupiah kembali ke Rp2.500 atau Rp3.000 per dolar seperti sebelum krisis 1997–1998. Itu bukan tuntutan yang realistis.

Yang mereka inginkan jauh lebih sederhana.

Jika hari ini seseorang memiliki Rp100.000 dan uang itu cukup untuk membeli kebutuhan keluarganya, ia berharap beberapa waktu kemudian Rp100.000 tersebut masih memiliki kemampuan membeli yang kurang lebih sama.

Masalah muncul ketika nominal pendapatan tetap, tetapi harga barang terus meningkat.

Rp100.000 tetap Rp100.000. Tetapi jika sebelumnya uang tersebut cukup untuk membeli beras, lauk, kebutuhan anak, dan kebutuhan lainnya, kemudian beberapa waktu berikutnya hanya cukup untuk membeli sebagian kecil dari kebutuhan tersebut, secara ekonomi masyarakat sebenarnya mengalami penurunan kesejahteraan.

Inilah yang harus kita waspadai.

Jangan sampai kita terlalu bangga melihat pendapatan nominal masyarakat meningkat, sementara kemampuan riil mereka untuk membeli kebutuhan justru menurun.

Karena pada akhirnya yang menentukan kualitas hidup bukan semata-mata berapa banyak uang yang kita pegang, tetapi berapa banyak kebutuhan yang dapat kita penuhi dengan uang tersebut.

Beban Terberat Ada pada Mereka yang Paling Sedikit Memiliki Ruang

Tekanan seperti ini memang dirasakan semua kelompok masyarakat. Tetapi dampaknya tidak sama.

Masyarakat berpendapatan tinggi memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi kenaikan harga. Mereka mungkin masih dapat mengurangi sebagian konsumsi atau mengalihkan pengeluaran tanpa mengganggu kebutuhan dasar.

Berbeda dengan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.

Bagi keluarga yang pendapatannya sudah pas untuk kebutuhan sehari-hari, kenaikan harga beras, bahan bakar, transportasi, makanan, atau biaya pendidikan bukan sekadar perubahan angka.

Itu bisa berarti harus mengurangi kebutuhan lain.

Karena itu, setiap kebijakan ekonomi perlu melihat siapa yang paling banyak menanggung bebannya.

Efisiensi, misalnya, tentu diperlukan dalam pengelolaan anggaran negara. Tetapi efisiensi jangan sampai diterjemahkan secara sederhana sebagai pengurangan belanja tanpa melihat dampaknya terhadap masyarakat.

Begitu pula ketika pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi. Jangan sampai stabilitas yang terlihat di tingkat makro justru dibayar dengan semakin beratnya kehidupan kelompok masyarakat yang paling rentan.

Ukuran Keberhasilan Ekonomi Ada di Kehidupan Sehari-hari

Pada akhirnya, masyarakat tidak meminta pemerintah melakukan sesuatu yang muluk-muluk.

Mereka ingin mencari pekerjaan dengan lebih mudah.

Mereka ingin membeli beras tanpa harus terus-menerus khawatir harganya naik.

Mereka ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dengan biaya yang masih rasional.

Ketika sakit, mereka ingin dapat datang ke rumah sakit dan memperoleh pelayanan yang layak.

Harapan itu sebenarnya sangat sederhana.

Karena itu, keberhasilan pemerintah tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa baik kita mengelola angka-angka makroekonomi. Angka pertumbuhan, inflasi, nilai tukar, defisit, dan berbagai indikator lainnya memang penting. Tetapi seluruh indikator tersebut pada akhirnya harus kembali kepada satu pertanyaan: apakah masyarakat merasakan perbaikan dalam kehidupannya?

Saya tetap optimistis terhadap perekonomian Indonesia. Pergantian menteri, perubahan kebijakan, maupun dinamika ekonomi adalah bagian dari proses pemerintahan.

Namun optimisme harus dibuktikan.

Masyarakat tidak membutuhkan janji bahwa semua persoalan akan selesai secara instan. Mereka membutuhkan kepastian bahwa ketika ekonomi menghadapi tekanan, negara hadir untuk menjaga agar beban tersebut tidak jatuh secara tidak proporsional kepada mereka yang paling rentan.

Sebab, rupiah yang melemah bukan sekadar persoalan kurs.

Ketika pelemahan rupiah membuat harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak berubah, yang sebenarnya sedang melemah adalah daya beli dan rasa aman masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dan jika itu terjadi terus-menerus, kita tidak boleh hanya bertanya berapa nilai rupiah terhadap dolar.

Kita juga harus bertanya: berapa harga yang harus dibayar masyarakat untuk setiap pelemahan rupiah tersebut?

*) Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D.
Guru Besar (Profesor) dalam bidang ilmu ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) serta tercatat sebagai Anggota Komisi B Senat Akademik Fakultas. 

Post Views: 28
Tags: daya beli masyarakatEkonom UBEkonomi Indonesiaekonomi masyarakatharga kebutuhan pokokInflasiKANAL24kanal24.co.idNilai Tukar Rupiahpelemahan rupiahProf. Setyo Tri Wahyudirupiah melemahuniversitas brawijaya
Previous Post

UB Naik ke Peringkat Kedelapan Bersama Nasional, Melompat 19 Urutan dalam Daftar THE

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Banjir–Longsor Sumatra Uji Ketahanan Fiskal Negara, Pakar UB Soroti Anggaran hingga Birokrasi Lamban

Jangan Biarkan Rupiah Melemah, Lalu Masyarakat Membayar Harganya

September 30, 2026
UB Naik ke Peringkat Kedelapan Bersama Nasional, Melompat 19 Urutan dalam Daftar THE

UB Naik ke Peringkat Kedelapan Bersama Nasional, Melompat 19 Urutan dalam Daftar THE

September 30, 2026
Harga Cabai Melonjak, Inflasi September 2026 Diperkirakan Naik

Harga Cabai Melonjak, Inflasi September 2026 Diperkirakan Naik

September 30, 2026
Shopee Buka 3 Lowongan Warehouse, Lulusan S1 Bisa Daftar

Shopee Buka 3 Lowongan Warehouse, Lulusan S1 Bisa Daftar

September 30, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025