Oleh: Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D.*
Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, perhatian kita biasanya tertuju pada satu angka: berapa rupiah yang harus dibayar untuk mendapatkan satu dolar. Kita kemudian sibuk membicarakan kurs, pasar valuta asing, intervensi, cadangan devisa, dan berbagai indikator makroekonomi lainnya.
Semua itu penting.
Tetapi bagi sebagian besar masyarakat, persoalannya jauh lebih sederhana.
Mereka tidak perlu tahu rupiah hari ini berada di level berapa. Mereka hanya ingin tahu satu hal: apakah uang yang mereka miliki masih mampu membeli kebutuhan yang sama seperti sebelumnya?
Di situlah sebenarnya makna pelemahan rupiah bagi masyarakat.

Sebab, persoalan ekonomi pada akhirnya bukan sekadar mengenai angka-angka di layar perdagangan valuta asing. Ekonomi adalah tentang kehidupan manusia. Ketika nilai uang melemah dan harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak bergerak dengan kecepatan yang sama, masyarakatlah yang pada akhirnya menanggung konsekuensinya.
Rupiah Bukan Sekadar Angka di Pasar
Pelemahan rupiah tentu bukan sesuatu yang muncul tanpa sebab. Nilai mata uang sangat berkaitan dengan kepercayaan, permintaan, dan kekuatan fundamental ekonomi.
Sebuah mata uang akan semakin kuat ketika semakin banyak pihak membutuhkannya. Kita bisa melihat bagaimana dolar Amerika Serikat memiliki posisi kuat karena digunakan secara luas dalam perdagangan dan transaksi internasional.
Karena itu, jika kita ingin memperkuat rupiah, pekerjaan rumah Indonesia tidak cukup hanya dengan menjaga kurs melalui kebijakan jangka pendek.
Kita harus membangun ekonomi yang membuat dunia membutuhkan Indonesia.
Produk kita harus semakin kompetitif. Kualitas ekspor harus meningkat. Pasar internasional harus semakin luas. Devisa harus semakin kuat. Pada akhirnya, semakin banyak transaksi ekonomi yang berkaitan dengan produk Indonesia, semakin besar pula fondasi permintaan terhadap rupiah.
Inilah pekerjaan jangka panjang yang tidak bisa diselesaikan dengan simsalabim.
Kita tidak bisa berharap rupiah kembali ke level sebelum krisis 1997–1998 hanya karena kita menginginkannya. Struktur ekonomi Indonesia sudah berubah. Dunia juga berubah.
Yang jauh lebih realistis adalah membangun fundamental agar rupiah tidak terus mengalami pelemahan dan ekonomi Indonesia memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.
Namun, sembari memperbaiki fundamental tersebut, ada persoalan yang tidak boleh kita abaikan: bagaimana masyarakat bertahan ketika tekanan nilai tukar mulai masuk ke harga-harga barang?
Masyarakat Tidak Memegang Dolar, tetapi Membayar Dampaknya
Ada anggapan bahwa pelemahan rupiah hanya menjadi persoalan bagi mereka yang melakukan transaksi menggunakan dolar. Masyarakat di desa, misalnya, mungkin tidak pernah membeli dolar dan tidak pernah melakukan transaksi di pasar valuta asing.
Tetapi mereka tetap bisa merasakan dampaknya.
Indonesia masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Ketika komoditas tersebut harus dibeli menggunakan mata uang asing, pelemahan rupiah membuat biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar.
Setelah itu, efeknya tidak berhenti di sektor energi.
Biaya transportasi bisa meningkat. Biaya distribusi barang bisa ikut terdorong. Harga bahan baku dapat mengalami tekanan. Produsen kemudian menghadapi kenaikan biaya dan sebagian tekanan tersebut pada akhirnya diteruskan kepada konsumen.
Maka, seseorang yang tidak pernah memegang dolar sekalipun tetap dapat merasakan dampak pelemahan rupiah ketika membeli makanan, membayar transportasi, atau memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Inilah yang sering luput ketika kita terlalu sibuk melihat ekonomi hanya dari indikator makro.
Masyarakat tidak hidup di dalam grafik. Mereka hidup dari harga yang mereka bayar setiap hari.
Karena itu, menjaga stabilitas nilai tukar memang penting. Tetapi menjaga agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi penurunan kesejahteraan masyarakat jauh lebih penting.

Jangan Sampai Pendapatan Tetap, tetapi Kemampuan Membeli Terus Turun
Saya kira keresahan terbesar masyarakat bukanlah apakah rupiah harus kembali ke angka tertentu.
Mereka tidak sedang meminta rupiah kembali ke Rp2.500 atau Rp3.000 per dolar seperti sebelum krisis 1997–1998. Itu bukan tuntutan yang realistis.
Yang mereka inginkan jauh lebih sederhana.
Jika hari ini seseorang memiliki Rp100.000 dan uang itu cukup untuk membeli kebutuhan keluarganya, ia berharap beberapa waktu kemudian Rp100.000 tersebut masih memiliki kemampuan membeli yang kurang lebih sama.
Masalah muncul ketika nominal pendapatan tetap, tetapi harga barang terus meningkat.
Rp100.000 tetap Rp100.000. Tetapi jika sebelumnya uang tersebut cukup untuk membeli beras, lauk, kebutuhan anak, dan kebutuhan lainnya, kemudian beberapa waktu berikutnya hanya cukup untuk membeli sebagian kecil dari kebutuhan tersebut, secara ekonomi masyarakat sebenarnya mengalami penurunan kesejahteraan.
Inilah yang harus kita waspadai.
Jangan sampai kita terlalu bangga melihat pendapatan nominal masyarakat meningkat, sementara kemampuan riil mereka untuk membeli kebutuhan justru menurun.
Karena pada akhirnya yang menentukan kualitas hidup bukan semata-mata berapa banyak uang yang kita pegang, tetapi berapa banyak kebutuhan yang dapat kita penuhi dengan uang tersebut.
Beban Terberat Ada pada Mereka yang Paling Sedikit Memiliki Ruang
Tekanan seperti ini memang dirasakan semua kelompok masyarakat. Tetapi dampaknya tidak sama.
Masyarakat berpendapatan tinggi memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi kenaikan harga. Mereka mungkin masih dapat mengurangi sebagian konsumsi atau mengalihkan pengeluaran tanpa mengganggu kebutuhan dasar.
Berbeda dengan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.
Bagi keluarga yang pendapatannya sudah pas untuk kebutuhan sehari-hari, kenaikan harga beras, bahan bakar, transportasi, makanan, atau biaya pendidikan bukan sekadar perubahan angka.
Itu bisa berarti harus mengurangi kebutuhan lain.
Karena itu, setiap kebijakan ekonomi perlu melihat siapa yang paling banyak menanggung bebannya.
Efisiensi, misalnya, tentu diperlukan dalam pengelolaan anggaran negara. Tetapi efisiensi jangan sampai diterjemahkan secara sederhana sebagai pengurangan belanja tanpa melihat dampaknya terhadap masyarakat.
Begitu pula ketika pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi. Jangan sampai stabilitas yang terlihat di tingkat makro justru dibayar dengan semakin beratnya kehidupan kelompok masyarakat yang paling rentan.
Ukuran Keberhasilan Ekonomi Ada di Kehidupan Sehari-hari
Pada akhirnya, masyarakat tidak meminta pemerintah melakukan sesuatu yang muluk-muluk.
Mereka ingin mencari pekerjaan dengan lebih mudah.
Mereka ingin membeli beras tanpa harus terus-menerus khawatir harganya naik.
Mereka ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dengan biaya yang masih rasional.
Ketika sakit, mereka ingin dapat datang ke rumah sakit dan memperoleh pelayanan yang layak.
Harapan itu sebenarnya sangat sederhana.
Karena itu, keberhasilan pemerintah tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa baik kita mengelola angka-angka makroekonomi. Angka pertumbuhan, inflasi, nilai tukar, defisit, dan berbagai indikator lainnya memang penting. Tetapi seluruh indikator tersebut pada akhirnya harus kembali kepada satu pertanyaan: apakah masyarakat merasakan perbaikan dalam kehidupannya?
Saya tetap optimistis terhadap perekonomian Indonesia. Pergantian menteri, perubahan kebijakan, maupun dinamika ekonomi adalah bagian dari proses pemerintahan.
Namun optimisme harus dibuktikan.
Masyarakat tidak membutuhkan janji bahwa semua persoalan akan selesai secara instan. Mereka membutuhkan kepastian bahwa ketika ekonomi menghadapi tekanan, negara hadir untuk menjaga agar beban tersebut tidak jatuh secara tidak proporsional kepada mereka yang paling rentan.
Sebab, rupiah yang melemah bukan sekadar persoalan kurs.
Ketika pelemahan rupiah membuat harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak berubah, yang sebenarnya sedang melemah adalah daya beli dan rasa aman masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dan jika itu terjadi terus-menerus, kita tidak boleh hanya bertanya berapa nilai rupiah terhadap dolar.
Kita juga harus bertanya: berapa harga yang harus dibayar masyarakat untuk setiap pelemahan rupiah tersebut?
*) Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D.
Guru Besar (Profesor) dalam bidang ilmu ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) serta tercatat sebagai Anggota Komisi B Senat Akademik Fakultas.













