Kanal24, Malang – Kawasan Gunung Semeru menyimpan kejutan dari kekayaan alamnya. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menemukan dua spesies anggrek baru yang sebelumnya belum pernah tercatat di Pulau Jawa maupun Indonesia.
Dua spesies tersebut adalah Anoectochilus papuanus dan Aconthophippium bicolor. Keduanya ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru pada ketinggian sekitar 800 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut.
Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS, Toni Artaka, menjelaskan proses identifikasi dua spesies ini memerlukan waktu panjang hingga akhirnya dinyatakan sebagai temuan baru.
Baca juga:
Resensi : Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri
Anggrek Anoectochilus papuanus pertama kali ditemukan pada 2022, sedangkan Aconthophippium bicolor ditemukan pada 2023. Setelah melalui penelitian, pengajuan jurnal ilmiah, hingga proses publikasi, keduanya akhirnya resmi diumumkan sebagai catatan baru flora Indonesia.
Penemuan ini semakin menegaskan bahwa kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru masih menjadi habitat penting bagi keanekaragaman hayati langka di Indonesia.
Secara morfologi, Anoectochilus papuanus memiliki daun kecil berurat dengan ukuran sekitar 2–5 sentimeter. Bunganya berwarna marun berpadu putih transparan dengan rambut halus di seluruh bagian bunga. Anggrek ini dikenal sebagai bagian dari kelompok Jewel Orchids yang memiliki tampilan unik dan eksotis.
Sementara itu, Aconthophippium bicolor tampil mencolok dengan bunga menyerupai kendi berwarna merah menyala berpadu kuning pucat. Tanaman ini memiliki tinggi hingga 60 sentimeter dengan daun hijau yang bertahan sepanjang tahun.
Menariknya, kedua spesies tersebut diketahui memiliki persebaran yang cukup jauh dari Pulau Jawa. Anoectochilus papuanus sebelumnya tercatat tumbuh di Papua hingga Kepulauan Solomon, sedangkan Aconthophippium bicolor dikenal tersebar di wilayah India dan Sri Lanka.
Meski demikian, keberadaan keduanya di Semeru menjadi bukti bahwa ekosistem pegunungan Indonesia masih menyimpan banyak potensi flora yang belum sepenuhnya teridentifikasi.
TNBTS juga menyebut kedua spesies ini tergolong langka dan sulit ditemukan di habitat aslinya. Hingga kini status konservasi keduanya masih dalam tahap evaluasi lebih lanjut bersama lembaga penelitian terkait.
Selain itu, dua anggrek tersebut juga belum memiliki nama lokal resmi.
Penemuan ini menambah daftar panjang kekayaan flora di kawasan TNBTS yang selama ini dikenal sebagai salah satu habitat penting tanaman endemik dan spesies langka di Indonesia.













