Kanal24, Malang – Bahasa menjadi pintu awal bagi siswa untuk mengenal dunia yang lebih luas. Namun, ketika komunikasi berlangsung secara langsung dengan teman sebaya dari negara lain, proses belajar tidak berhenti pada kemampuan berbicara. Siswa juga belajar memahami kebiasaan, budaya, dan kehidupan sehari-hari yang berbeda dari lingkungan mereka.
Ruang pembelajaran lintas budaya itu dihadirkan melalui Culture Exchange SMA Brawijaya Smart School ft. Joto High School yang berlangsung Kamis, 6 Agustus 2026, di Aula Algoritma lantai 2 FILKOM Universitas Brawijaya (UB) dan SMA BSS. Kegiatan tersebut mempertemukan siswa Indonesia dan Jepang melalui welcome ceremony, classroom experience, serta interaksi bersama host family.
Baca Juga:
FK UB Ajak Mahasiswa Tiga Negara Dalami Pengobatan Herbal Lewat International Summer School
Membangun Komunikasi Lintas Budaya
Ketua Pelaksana, Atik Mudiatus Samawat, S.Hum., mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi semangat untuk membangun generasi muda yang mampu berbagi praktik baik sekaligus memahami budaya negara lain.

“Yang melatarbelakangi acara ini adalah semangat kami dalam membangun semangat generasi muda untuk berbagi praktik baik dalam pengelolaan lingkungan, juga untuk belajar budaya antarnegara. Dalam hal ini adalah Indonesia dan Jepang.”
Menurut Atik, pertukaran budaya menjadi penting karena siswa tidak hanya memperoleh pengalaman sosial, tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris. Interaksi langsung dengan pelajar Jepang memberikan ruang bagi siswa untuk belajar menggunakan bahasa tersebut dalam situasi nyata.
“Kegiatan ini sangat penting. Yang pertama untuk meningkatkan skill komunikasi bahasa Inggris antarsiswa, kemudian juga untuk mengenal budaya dan juga untuk belajar bagaimana pengelolaan lingkungan di Jepang maupun di Indonesia.”
Siswa Mengalami Pembelajaran Langsung
Rangkaian kegiatan diawali dengan welcome ceremony. Selanjutnya, siswa Joto High School mengikuti classroom experience di SMA BSS untuk merasakan secara langsung suasana pembelajaran di sekolah Indonesia.
Program tersebut juga dilengkapi pengalaman tinggal bersama host family. Dengan demikian, pertukaran tidak berhenti pada kegiatan formal di sekolah, tetapi berlanjut pada kehidupan sehari-hari.
“Manfaat yang ingin dicapai adalah bagaimana siswa dapat belajar tentunya terkait dengan komunikasi bahasa Inggris, kemudian belajar budaya, kemudian bisa bertukar pengalaman karena ada juga siswa-siswa dari Jepang ini tinggal di host family. Jadi mereka juga belajar tentang daily life keluarga Indonesia.”
Bagi siswa SMA BSS, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kebiasaan masyarakat Jepang dari perspektif teman sebaya. Genian Aura Prema Ramadani, siswi kelas 11 SMA BSS, menilai perbedaan kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu hal menarik dalam pertukaran budaya.

“Yang paling menarik perbedaannya ini ya. Mungkin saat habit-nya beda. Misal kita nata sepatu, orang Indonesia pasti kan melepas sepatu ya sudah enggak ditata. Nah, tapi orang Jepang tuh ditata terus sepatunya kayak dibalik gitu. Jadi, kita keluar langsung pakai sepatunya.”
Memperpanjang Persahabatan Indonesia-Jepang
Dari sisi Joto High School, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk membangun relasi baru. Nanami Kasahara, siswa kelas dua Joto High School, berharap interaksi tersebut dapat menghasilkan pertemanan lintas negara.

“Selama kegiatan ini, saya ingin mendapatkan banyak teman, terutama teman-teman yang seusia dengan saya. Saya ingin berteman dengan mereka, berbagi cerita tentang negara kami masing-masing, dan belajar banyak hal bersama.”
Atik menyebut program Culture Exchange ini telah memasuki tahun keenam. Keberlanjutan tersebut menunjukkan hubungan kedua sekolah tidak sekadar berlangsung dalam satu kegiatan.
“Program ini sudah memasuki tahun keenam dan harapan kami persahabatan antara Joto High School dan SMA BSS ini bisa berlangsung lebih lama.” (ndr)













