Kanal24 – Malang, Jamu Indonesia mulai mengalami transformasi melalui inovasi produk yang lebih modern dan mudah diterima masyarakat, khususnya generasi muda. Tidak hanya mempertahankan nilai tradisional, pengembangan jamu kini dilakukan melalui pendekatan rasa, kemasan, hingga cara penyajian yang menyesuaikan kebutuhan konsumen masa kini.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Workshop Pembuatan Jamu rangkaian International Summer School of Pharmacy 3 (ISSP 3) Universitas Brawijaya yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini menghadirkan pelaku UMKM herbal untuk berbagi pengalaman mengenai proses pengembangan jamu dari sisi tradisional hingga inovasi produk.
Baca Juga:
Pakar Pakistan di ISSP UB: Masa Depan Obat Herbal Harus Ramah Lingkungan
Jamu Tradisional Dikembangkan dengan Pendekatan Modern
Founder Herbani Jamu Tradisional Indonesia, Nara Nabhan, menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam mengembangkan jamu saat ini adalah mengubah persepsi masyarakat yang masih menganggap jamu identik dengan rasa pahit.

Menurutnya, inovasi menjadi langkah penting agar jamu dapat diterima oleh lebih banyak kalangan, terutama generasi muda yang memiliki preferensi berbeda terhadap produk konsumsi.
āTantangan terbesarnya sebenarnya adalah hampir setiap hari kita mencoba rasanya agar bisa diterima oleh lidah-lidah Gen Z. Karena orang menganggapnya jamu itu pahit,ā ujar Nara.
Melalui Herbani Jamu Tradisional Indonesia, Nara menghadirkan produk herbal yang tetap menggunakan bahan alami, namun dikemas dengan konsep yang lebih praktis dan sesuai dengan gaya hidup masyarakat saat ini.
Salah satu produk yang diperkenalkan adalah Ramuan Enak, yaitu jamu tradisional yang dikembangkan dengan kemasan modern agar lebih mudah dikonsumsi.
Inovasi Rasa dan Kemasan Ubah Citra Jamu
Pengembangan jamu tidak hanya dilakukan melalui bahan dasar herbal, tetapi juga melalui inovasi rasa dan penyajian. Dalam workshop ISSP 3 UB, peserta melihat bagaimana jamu dapat dipadukan dengan konsep minuman modern tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
Nara menjelaskan bahwa produk jamu saat ini dapat dikombinasikan dengan berbagai bahan yang lebih familiar bagi masyarakat, seperti matcha latte dan buah-buahan.
āAlhamdulillah saat ini kebetulan lagi ada event juga dengan UB yaitu kita nge-mix jamu ini yang tradisional rasanya, ini kita mix dengan matcha latte dan beberapa buah-buahan yang bisa kita mix dengan jamu,ā jelasnya.
Selain rasa, kemasan menjadi bagian penting dalam memperkenalkan jamu kepada konsumen baru. Produk jamu yang sebelumnya banyak dikenal dalam bentuk tradisional kini dapat dikembangkan menjadi lebih praktis, salah satunya melalui kemasan seperti kantong teh yang mudah diseduh.
Inovasi tersebut membuat jamu lebih dekat dengan masyarakat modern tanpa menghilangkan identitas herbal yang menjadi cirinya.
Kolaborasi Kampus dan UMKM Perluas Potensi Jamu Indonesia
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan pengembangan jamu kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui ISSP 3 UB, inovasi jamu Indonesia dikenalkan kepada peserta dari berbagai institusi dalam dan luar negeri.
Nara menilai kerja sama dengan Universitas Brawijaya memberikan ruang bagi pelaku usaha herbal untuk memperluas pengenalan produk sekaligus membangun jaringan dengan lingkungan akademik.
āPenting banget sebenarnya. Apalagi saat ini event-eventnya kan berupa kegiatan mancanegara juga dan saat ini kami juga bekerja sama dengan UB,ā katanya.
Peserta ISSP 3 dari Universitas Diponegoro, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Universitas Brawijaya juga memberikan respons positif terhadap perkembangan jamu modern. Mereka menilai jamu Indonesia memiliki potensi untuk dikenal lebih luas karena menggabungkan manfaat herbal dengan konsep produk yang lebih menarik.
Melalui inovasi rasa, kemasan, dan kolaborasi bersama perguruan tinggi, pelaku UMKM jamu terus memperkenalkan produk herbal Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas. (gal/ndr)













